Berita

KRI Wahidin Sudirohusodo-991. (Foto: Istimewa)

Politik

Indonesia Beri Pesan Strategis dengan Pengiriman Kapal Perang ke Pasifik

MINGGU, 07 JUNI 2026 | 04:04 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Keputusan pemerintah mengirim kembali armada TNI Angkatan Laut ke kawasan Pasifik dan Oseania melalui misi pelayaran muhibah (port visit) menggunakan KRI Wahidin Sudirohusodo-991 tidak sekadar agenda diplomasi rutin. Di balik pelayaran kemanusiaan dan pelayanan kesehatan yang akan dilakukan Indonesia, tersimpan pesan geopolitik yang jauh lebih besar.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi nasional Indonesia untuk memperkuat posisi tawarnya di kawasan yang kini menjadi salah satu arena persaingan global paling penting antara Amerika Serikat dan China.

Menurut Amir, kawasan Pasifik Selatan yang selama puluhan tahun dianggap sebagai wilayah pinggiran kini berubah menjadi pusat perhatian dunia. Negara-negara besar berlomba memperluas pengaruh melalui bantuan ekonomi, kerja sama pertahanan, pembangunan infrastruktur hingga diplomasi kemanusiaan.


“Ini adalah bagian dari strategi geopolitik Indonesia untuk menunjukkan eksistensi dan kepemimpinannya di kawasan yang sedang menjadi rebutan pengaruh kekuatan besar dunia,” ujar Amir, dikutip Minggu 7 Juni 2026.

Amir menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir kawasan Pasifik mengalami perubahan lanskap strategis yang sangat signifikan.

China terus meningkatkan investasi dan bantuan pembangunan kepada negara-negara kepulauan Pasifik. Sementara Amerika Serikat bersama Australia, Selandia Baru, Jepang dan sejumlah sekutu lainnya berupaya mempertahankan pengaruh tradisional mereka.

Persaingan tersebut membuat negara-negara kecil di Pasifik memiliki nilai strategis yang jauh lebih besar dibandingkan jumlah penduduk maupun kekuatan ekonominya.

“Semua kekuatan besar ingin memiliki akses, pengaruh dan kemitraan dengan negara-negara di kawasan itu,” kata Amir.

Menurut Amir, Indonesia memahami dinamika tersebut. Karena itu Jakarta tidak ingin hanya menjadi penonton ketika kawasan yang berdekatan dengan wilayah timur Indonesia menjadi arena perebutan pengaruh internasional.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Purbaya Siapkan Sanksi bagi Importir Buntut Kontainer Menumpuk

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Palmerah, 17 Unit dan 85 Personel Damkar Dikerahkan

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:05

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Widiyanti Putri Wardhana dan Nusron Wahid Layak Direshuffle

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:38

Kompetisi Ketapel Antar ASN

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:19

Buzzer Jokowi Jangan Dulu Pesta, P21 Bukan Vonis Pengadilan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:00

Investor Asing Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Proyek Marina Bay City ke Polda Bali

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:48

Kritik Rocky Gerung, Gumarang: Menteri Keuangan Bukan Sekadar Kasir

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:27

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:57

Puluhan Miliar Dana Investasi Dipersoalkan, Siapa Bertanggung Jawab di Marina Bay City?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:33

Selengkapnya