Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Publika

Paradoks Dolar Naik

MINGGU, 07 JUNI 2026 | 02:01 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

RUPIAH menembus Rp 18.000 per dolar AS. Media asing ramai memberitakannya. Grup-grup WhatsApp pun mendadak berubah fungsi. Yang semula tempat berbagi foto cucu, resep herbal, dan undangan pengajian, mendadak menjelma menjadi kantor cabang IMF. Semua orang menjadi analis. Semua orang punya teori.

Ada yang menyalahkan pemerintah. Ada yang menyalahkan oligarki. Ada yang menyalahkan spekulan asing. Bahkan ada yang yakin bahwa pelemahan rupiah adalah bagian dari perang ekonomi global yang sedang berlangsung diam-diam di belakang panggung. Ada yang main politik yaitu Menteri Keuangan besok diganti.

Lalu, di tengah hiruk-pikuk itu, muncul satu angka yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Sejumlah survei menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran masih berada di kisaran 74 persen.


Di situlah paradoks itu berdiri. Pasar tampak gelisah. Rupiah melemah. Namun kepercayaan publik seperti diungkap Poltracking justru masih tinggi. Seperti melihat langit mendung pekat, tetapi para penumpang di dalam kapal masih duduk tenang menikmati kopi.

Sebagian orang langsung menganggap survei itu pasti salah. Sebagian lagi menganggap pelemahan rupiah tidak penting. Padahal keduanya bisa sama-sama keliru. Sebab kurs dolar dan kepercayaan publik adalah dua termometer yang mengukur bagian tubuh yang berbeda.

Kurs dolar mengukur kepercayaan pasar. Survei mengukur kepercayaan rakyat. Keduanya sering berjalan seiring, tetapi tidak selalu bergandengan tangan. Kadang mereka berjalan di jalan yang sama. Kadang mereka justru saling membelakangi.

Pasar adalah makhluk yang gelisah. Ia seperti burung liar yang terbang begitu mendengar suara ranting patah. Investor tidak menunggu rumah roboh. Mereka pindah begitu mencium bau asap. Karena itu pasar sering bereaksi terhadap apa yang mungkin terjadi besok.

Rakyat berbeda. Mereka lebih sering menilai apa yang terjadi hari ini. Harga beras berapa. Jalan dibangun atau tidak. Lapangan kerja tersedia atau tidak. Anak bisa sekolah atau tidak. Rakyat menilai dari dapur. Pasar menilai dari layar monitor.

Karena itulah tidak aneh jika kurs dolar dan tingkat kepuasan publik terkadang bergerak ke arah yang berbeda. Yang satu sibuk membaca peta cuaca. Yang lain sibuk memeriksa isi lumbung.

Kasus Turki sering dijadikan contoh. Selama bertahun-tahun nilai Lira terus melemah terhadap dolar sampai jauh sekali. Namun pemerintahan tetap bertahan dan ekonomi tetap tumbuh.

Ini tidak berarti pelemahan mata uang tidak penting. Tetapi menunjukkan bahwa hubungan antara kurs dan kekuasaan tidak sesederhana rumus matematika SD.

Banyak orang membayangkan politik seperti permainan domino. Dolar naik, rupiah turun, pemerintah jatuh.

Padahal kenyataannya lebih mirip mesin pesawat terbang. Ada puluhan tombol, ratusan kabel, dan ribuan komponen yang bekerja bersamaan. Kerusakan satu bagian belum tentu langsung membuat pesawat jatuh. Tetapi jika kerusakan mulai menjalar ke mana-mana, keadaan bisa berubah sangat cepat.

Karena itu, baik mereka yang meremehkan pelemahan rupiah maupun mereka yang setiap hari meramalkan kiamat politik, sesungguhnya sedang berdiri di dua ujung ekstrem yang sama jauhnya dari kenyataan.

Pemerintah tidak boleh menganggap kurs hanya angka di layar. Sebab pelemahan mata uang yang berkepanjangan dapat menggerus daya beli, menaikkan biaya produksi, dan mengurangi kepercayaan investor.

Tetapi mereka yang berharap setiap kenaikan dolar otomatis menjadi surat pemecatan bagi pemerintah juga sedang membaca sejarah dengan cara yang terlalu malas.

Soeharto tidak jatuh karena satu angka kurs. Ia jatuh karena badai ekonomi bertemu badai politik, badai sosial, dan badai kepercayaan pada saat yang sama.

Hal penting yang perlu diingat bahwa yang menentukan bukan hanya seberapa tinggi dolar memanjat. Yang menentukan adalah seberapa kuat fondasi kepercayaan yang menopang bangunan negara.

Karena sebuah pemerintahan bisa bertahan menghadapi badai ekonomi jika rakyat masih percaya. Tetapi tidak ada pemerintahan yang bisa bertahan lama ketika kepercayaan ikut mengalami depresiasi. Dan berbeda dengan rupiah, kepercayaan tidak memiliki cadangan devisa.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Harga Minyak Dunia Menetap di Level 84 Dolar AS

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:17

Kejaksaan Agung Casablanca Bebaskan A.M. demi Jaga Objektivitas Proses Hukum

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:16

Usulan Nasdem Naikkan Ambang Batas Diduga untuk Jegal PSI

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:14

Komisi XII DPR: Kelangkaan BBM di Sumut Bukan Persoalan Biasa

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:58

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Dolar AS Melemah ke Rp17.943

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:45

Pertarungan Bisnis Adidas-Nike dan Pundi Pundi FIFA di Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:44

Pulau Baai Butuh Solusi Permanen, Bukan Pengerukan Berulang

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:39

Emas Antam Anjlok Rp27.000, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:31

Bobby Adhityo Dicecar KPK soal Pengaturan Temuan Audit BPK

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:26

Terungkap, 307 Ribu QR Code BBM Subsidi Bermasalah Diblokir

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:17

Selengkapnya