Berita

Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr. Teguh Santosa. (Foto: Istimewa)

Politik

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

SABTU, 06 JUNI 2026 | 21:57 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Market-driven economy yang sudah puluhan tahun jadi arus utama di Indonesia dituding sebagai penyebab terjadinya ketimpangan pembangunan dan ketergantungan ekonomi nasional pada pasar global. 

Ketimpangan pembangunan dan produktivitas yang rendah ini menjadi salah satu fokus perhatian Presiden Prabowo Subianto sejak lama, dan menjadi tema penting dalam buku “Paradoks Pembangunan” yang ditulisnya tahun 2017.

Karena itu, setelah berkuasa, Prabowo berusaha untuk mengimbangi atau setidaknya menutup kekurangan pendekatan market-driven economy dengan menerapkan pendekatan state-driven economy. 


Mulai dari kebijakan hilirisasi dan kontrol ekspor komoditas, sampai intervensi negara pada berbagai sektor ekonomi yang bersentuhan langsung dengan rakyat, seperti pendidikan, jaminan gizi yang cukup bagi generasi muda, serta praktik perekonomian di tingkat desa dan kelurahan.

Hal-hal di atas disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr. Teguh Santosa ketika berbicara dalam “Magang Komunikasi Pembangunan” yang diselenggarakan Nexus Digital Strategy di Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu, 6 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti puluhan content creator muda Kalimantan Barat.

“Praktik ekonomi yang dikendalikan pasar untuk efisiensi, inovasi, dan menarik investasi. Tapi market tidak selalu mau masuk ke hulu, sektor pangan, energi, hilirisasi mineral, atau bangun konektivitas 3TP (terdepan, tertinggal, terbelakang, dan perbatasan),” ujar Teguh.

Teguh menambahkan, istilah lain yang dapat digunakan untuk pendekatan state-driven economy versi Prabowo adalah strategic state intervention. 

Dalam praktiknya, negara masuk sebagai first investor dan risk taker di sektor yang dianggap market tidak menarik. Tujuannya adalah untuk membangun fondasi industri, ketahanan pangan, energi, dan logistik.

Dari kacamata geopolitik, dosen Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan, pendekatan state-driven economy adalah alat tawar Indonesia kepada great powers. 

Indonesia ingin tampil sebagai negara dengan kemampuan ekonomi yang memadai sehingga dapat ikut menentukan agenda-agenda besar politik global.

“Ini bukan situasi di mana negara berhadap-hadapan dengan pasar. Tapi negara yang cerdas dan pasar yang sehat adalah formula bagi Indonesia untuk memiliki daya tahan yang memadai,” demikian Teguh.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya