Berita

Eks Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya (Foto: RMOL/Bonfilio Mahendra)

Publika

Mengenal Sony Sonjaya, Eks Wakil BGN yang Sempat Kabur, Untung Bisa Ditangkap

KAMIS, 04 JUNI 2026 | 04:45 WIB

KALI ini kita ingin mengenal sosok Sony Sonjaya, eks wakil Badan Gizi Nasional alias BGN yang sudah dijebloskan ke jeruji. Siapa beliau ini? 

Sony Sonjaya bukan orang sembarangan. Lahir di Bandung, lulusan Akpol 1991, kariernya di kepolisian panjang seperti antrean kapal minyak di Selat Hormuz. 

Jabatan demi jabatan pernah mampir ke tangannya. Dari Kapolres, direktur reserse, sampai pejabat penting di Bareskrim. Pokoknya kalau CV beliau dicetak, tebalnya bisa dipakai mengganjal pintu kantor.


Setelah pensiun, Sony tidak memilih memelihara burung atau menanam cabai. Beliau masuk ke BGN, lembaga yang mengurus MBG. 

Kariernya di sana melesat seperti roket yang baru menemukan gudang bahan bakar subsidi. Dari direktur, ketua tim verifikasi, lalu naik menjadi Wakil Kepala BGN.

Saat itu publik mungkin melihat beliau sebagai manusia super. Mantan jenderal, pejabat nasional, pengurus program makan anak-anak Indonesia. Aura kebesarannya begitu glowing se-glowing cewek Korea, ehem.

Lalu datanglah tanggal 2 Juni 2026. Hari itu Presiden Prabowo mencopot Sony dari jabatannya. Jenderal dipecat Prabowo, wak!

Biasanya orang yang dicopot akan pulang, ngopi, merenung, lalu mengunggah kutipan bijak tentang kehidupan. Namun semesta rupanya sudah menyiapkan hiburan lain untuk rakyat.

Belum genap sehari dicopot, Kejagung menetapkannya sebagai tersangka dugaan korupsi program MBG. Di sinilah kisah berubah dari film motivasi menjadi film Tom and Jerry versi anggaran negara.

Pagi-pagi buta, penyidik datang ke rumah para tersangka. Dua tersangka lain berhasil ditemukan tanpa drama. Rumah ada, orang ada, hidup berjalan normal.

Giliran ke rumah Sony? Kosong. Sony menghilang. Entah sedang wisata spiritual, inspeksi awan, atau survei kualitas kasur hotel. Yang jelas beliau tidak berada di rumah ketika dicari.

Penyidik akhirnya menemukan Sony di sebuah hotel di Jawa Barat. Terjadilah adegan yang membuat rakyat mengelus dada sambil membuka gorengan. 

Nuan bayangkan. Seorang mantan jenderal polisi yang mungkin dulu terbiasa mengejar buronan, kini justru menjadi orang yang dikejar.

Ini seperti kucing mendadak menjadi tikus. Alam semesta sampai bingung harus tertawa atau membuat laporan cuaca.

Untungnya, beberapa jam kemudian Sony berhasil diamankan. Kalau tidak, mungkin netizen sudah membuat teori konspirasi, beliau sedang bersembunyi di balik tumpukan kotak makan MBG.

Kasus yang menyeretnya sendiri berkaitan dengan dugaan jual beli titik SPPG dan dugaan yayasan-yayasan yang memiliki afiliasi dengan para tersangka.

Istilah "jual beli titik" terdengar lucu. Seperti transaksi di aplikasi peta digital. "Titik yang ini berapa, Bang?" "Yang dekat sekolah mahal, Pak." 

Padahal yang dipermasalahkan penyidik tentu jauh lebih serius dari sekadar koordinat Google Maps.

Lalu muncullah bagian yang membuat alis publik naik hingga menyentuh plafon. LHKPN Sony tahun 2025 tercatat sekitar Rp906 juta. Setahun kemudian menjadi Rp12,9 miliar. Gile bener…!

Kenaikannya begitu spektakuler. Rakyat yang bertahun-tahun menabung untuk beli motor bekas tentu melihat angka itu seperti menonton sulap. Baru kedip sebentar, miliaran rupiah sudah bermunculan dari topi.

Yang paling epik adalah momen menjelang pencopotan. Sekitar satu jam sebelumnya, Sony tampil di podcast membantah tuduhan. Dengan penuh keyakinan beliau bersumpah dan menegaskan dirinya tidak terlibat.

Satu jam kemudian nasib berkata lain. Ucapannya bertolak belakang dari peel-nya. Mulut malaikat, kelakuan setan. Dari Wakil Kepala BGN menjadi tersangka. Dari ruang rapat menjadi ruang pemeriksaan. Dari mengurus makan bergizi menjadi mengurus berkas pemeriksaan. 

Kisah Sony akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat berharga bagi bangsa ini. Jabatan tinggi ternyata bukan sayap malaikat. Pangkat besar bukan jimat anti-borgol. Setinggi apa pun seseorang terbang, kalau hukum memanggil, akhirnya tetap harus mendarat. Ngerti ora Son?

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya