Berita

Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

Bisnis

Rupiah-IHSG Kompak Ambruk, Besok Dolar AS Diprediksi Tembus Rp18 Ribu

RABU, 03 JUNI 2026 | 18:23 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pasar keuangan domestik kompak mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok lebih dari 4 persen, sementara nilai tukar Rupiah kian mendekati level Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup merosot 254 poin atau 4,11 persen ke level 5.941.

Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai Rp25,2 triliun dengan volume perdagangan 40 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,7 juta kali.


Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 692 saham melemah,  69 saham menguat, sementara 54 saham lainnya bergerak stagnan.

Pada saat yang sama, Rupiah ikut tertekan. Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 127 poin atau 0,71 persen ke posisi Rp17.966 per Dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen negatif di pasar dipicu kombinasi faktor domestik dan global yang membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Dari dalam negeri, inflasi Mei 2026 tercatat meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan sebesar 0,28 persen, lebih tinggi dibandingkan April yang sebesar 0,13 persen.

"Sentimen mata uang Garuda memburuk setelah inflasi Mei 2026 mencapai 0,28 persen secara bulanan (MtM), naik dari posisi April 2026 yang sebesar 0,13 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara tahunan Indonesia mencatatkan inflasi 3,08 persen secara tahun kalender," kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.

Kenaikan inflasi ini kata Ibrahim dipengaruhi oleh harga pangan, energi, tarif yang diatur pemerintah, serta pelemahan nilai tukar Rupiah.

Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut menjadi hanya 89,1 juta Dolar AS dari surplus Maret 2026 sebesar 3,32 miliar Dolar AS, meski masih mempertahankan tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

"Namun kalau dilihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat Selat Hormuz diblokade oleh pasukan Garda Revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali," jelas Ibrahim.

Menurutnya, kondisi tersebut memperburuk persepsi investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia di tengah meningkatnya risiko global.

Dari luar negeri, pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Investor terus mencermati perkembangan konflik yang melibatkan Israel, Lebanon, Iran, dan Amerika Serikat, terutama karena kawasan tersebut berkaitan langsung dengan jalur distribusi energi dunia.

Ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih solid. Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Menurutnya, penguatan Dolar AS akibat prospek suku bunga yang tetap tinggi semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.960-Rp18.030," pungkas Ibrahim.


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya