Berita

Permadi Arya alias Abu Janda. (Foto: RMOL)

Hukum

Kasus Abu Janda jadi Ujian Polri, Akankah Pilih Kasih?

MINGGU, 31 MEI 2026 | 17:32 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Penanganan kasus dugaan ujaran kebencian bermuatan SARA yang menyeret pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda akan menjadi ujian serius bagi kredibilitas penegakan hukum di Indonesia.

Pengamat politik dan hukum, Muslim Arbi mengatakan, Polri harus membuktikan bahwa hukum berlaku sama bagi seluruh warga negara tanpa memandang status sosial maupun kedekatan dengan kekuasaan.

Menurutnya, laporan yang telah diajukan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minangkabau (DPP IKM) ke Bareskrim Polri tidak boleh berhenti sebatas administrasi.


"Kalau Abu Janda tidak jadi tersangka, maka penegakan hukum di Indonesia runtuh. Masyarakat akan melihat ada perlakuan berbeda dalam penegakan hukum," kata Muslim Arbi kepada RMOL, Minggu, 31 Mei 2026.

Muslim menilai perkara tersebut telah berkembang menjadi perhatian nasional karena menyangkut isu suku dan identitas daerah yang sensitif di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk. Karena itu, aparat penegak hukum diminta bertindak cepat, transparan, dan objektif.

Menurutnya, selama ini tidak sedikit warga yang langsung diproses hukum ketika terjerat kasus ujaran kebencian. Karena itu, kata dia, publik akan menyoroti secara ketat langkah kepolisian dalam menangani kasus yang melibatkan Abu Janda.

"Jangan sampai hukum hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas atau kepada orang-orang tertentu yang dianggap dekat dengan kekuasaan. Negara hukum harus menunjukkan keadilan yang sama kepada semua warga negara," tegasnya.

Ia mengatakan, pernyataan yang viral dan dianggap menyinggung masyarakat Sumatera Barat dan Jawa Barat telah memicu reaksi luas dari berbagai kalangan. Kondisi tersebut, lanjutnya, tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele yang cukup diselesaikan dengan klarifikasi semata.

"Kalau dibiarkan, ini akan menjadi preseden buruk. Publik bisa menilai ada kelompok tertentu yang kebal hukum," terangnya.

Muslim menegaskan, penetapan status hukum seseorang harus didasarkan pada alat bukti dan ketentuan hukum yang berlaku. Namun apabila unsur pidana telah terpenuhi, aparat tidak boleh ragu untuk menaikkan status perkara.

"Kalau bukti cukup, ya harus diproses sesuai hukum. Jangan sampai publik melihat ada standar ganda," tegas Muslim.

Ia juga mengingatkan bahwa marwah institusi Polri dipertaruhkan dalam perkara tersebut. Menurutnya, objektivitas aparat menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum nasional.

Sebelumnya, DPP IKM resmi melaporkan Abu Janda ke Bareskrim Polri terkait dugaan ujaran kebencian bermuatan SARA. Laporan itu teregister dengan nomor LP/B/230/V/2026/SPKT/Bareskrim Polri tertanggal 26 Mei 2026.

Laporan itu muncul setelah beredarnya potongan video yang memperlihatkan pernyataan Abu Janda yang menyinggung masyarakat Jawa Barat dan Sumatera Barat. Dalam video yang viral, Abu Janda menyebut daerah yang memiliki akhiran "bar" identik dengan sikap "barbar".

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kepala BRAN Dorong 3,1 Juta Hektare Lahan Transmigrasi jadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:32

KPK Pastikan Video Penjemputan Paksa Nusron Hoax!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:24

Quo Vadis 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:23

Prabowo Setujui Kajian DEN soal Definisi Korupsi Berstandar Internasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:17

Penindakan 1.000 Tambang Ilegal: Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13

DPR Dorong Penguatan Koordinasi Penyaluran BBM

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:01

Gibran Terima Perwakilan WALUBI Bahas Karhutla hingga Bakti Sosial

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:50

KPK Perlu Periksa Hercules soal Uang Rp800 Juta Terkait Summarecon

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:46

Menteri Agama Optimistis Akan Ada Kebangkitan Syarikat Islam Jilid Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:43

Pertamina Diusulkan Peroleh Insentif Sewa Kapal Tanker Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:41

Selengkapnya