Berita

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. (Foto: Setkab)

Politik

Jokowi Ingin Pamer Kekuatan ke Prabowo

RABU, 27 MEI 2026 | 20:56 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Ada motif politik yang sangat kuat di balik rencana lawatan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) berkeliling Indonesia.

Melalui safari politik tersebut, Jokowi ingin membuktikan dirinya masih punya basis massa pendukung yang kuat. 

"Jokowi keliling Indonesia untuk menunjukkan basis massanya masih besar. Dia ingin pamer modal politiknya masih kuat,” kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, Rabu, 27 Mei 2026.


Jokowi sengaja ingin mempertontonkan kekuatannya, sekaligus sebagai sinyal kepada partai-partai politik yang ada. Dengan demikian, nilai tawar politiknya di hadapan elite partai, termasuk Prabowo Subianto tetap ada.

"Dengan begitu, nilai tawar politik Jokowi diharapkan akan tetap tinggi di hadapan petinggi partai politik, termasuk Prabowo Subianto,” ujarnya.

Jika skenario tersebut berjalan sesuai harapan, peluang putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka untuk kembali mencalonkan diri di Pilpres 2029 tetap terbuka.

“(Jika Jokowi terbukti kuat) partai politik dan Prabowo tidak punya pilihan lain selain tetap menjadikan sebagai pendamping Prabowo,” tuturnya.

Selain itu, Jamiluddin menilai safari politik Jokowi juga berpotensi diarahkan untuk mendongkrak elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjelang pemilu legislatif. Belakangan, Jokowi akan segera diumumkan PSI sebagai Ketua Dewan Pembina.

“Peningkatan elektabilitas PSI diperlukan sebagai bargaining politik ke Prabowo. Setidaknya hal itu akan digunakan untuk memuluskan Gibran tetap mendampingi Prabowo pada periode kedua,“ kata Jamiluddin.

Meski begitu, Jamiluddin menilai upaya mewujudkan dua target tersebut tidak akan mudah. Situasi politik Jokowi saat ini berbeda dibanding ketika masih menjabat sebagai presiden.

“Jokowi saat ini bukan lagi menjadi patron, justru sosok yang penuh kontroversial. Pendukung fanatiknya saja sudah banyak yang kecewa, mereka umumnya sudah menolak dan menjauhi Jokowi,” pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya