Gedung Mahkamah Konstitusi. (Foto: RMOL)
Gedung Mahkamah Konstitusi. (Foto: RMOL)
Menurut Anis, ia memahami pertimbangan MK yang menilai sebuah aturan membutuhkan konsekuensi tegas agar berjalan efektif. Sebab selama ini afirmasi keterwakilan perempuan kerap dipandang sekadar kewajiban administratif menjelang pemilu.
“Saya memahami logika MK bahwa sebuah aturan akan sulit efektif jika tidak disertai konsekuensi yang tegas. Selama ini ketentuan afirmasi perempuan sering dipandang sebagai kewajiban administratif yang dapat dinegosiasikan,” ujar Anis, Rabu, 27 Mei 2026.
Populer
Senin, 25 Mei 2026 | 08:33
Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43
Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34
Senin, 25 Mei 2026 | 23:14
Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04
Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33
Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33
UPDATE
Rabu, 27 Mei 2026 | 14:11
Rabu, 27 Mei 2026 | 14:10
Rabu, 27 Mei 2026 | 14:02
Rabu, 27 Mei 2026 | 14:02
Rabu, 27 Mei 2026 | 13:57
Rabu, 27 Mei 2026 | 13:37
Rabu, 27 Mei 2026 | 13:25
Rabu, 27 Mei 2026 | 13:20
Rabu, 27 Mei 2026 | 13:15
Rabu, 27 Mei 2026 | 13:11