Berita

Jemaah haji wukuf di Arafah. (Foto: Istimewa)

Publika

Haji Mabrur Jadi Duta Antikorupsi

SELASA, 26 MEI 2026 | 16:50 WIB

JEMAAH haji yang lagi wukuf di Arafah pasti berharap pulang ke Tanah Air mendapatkan predikat haji mabrur. 

Kalau semua orang yang pulang dari Tanah Suci benar-benar jadi haji mabrur, Indonesia mungkin sudah berubah jadi negara paling suci setelah wallpaper kalender masjid. 

KPK tinggal buka jasa fotokopi. Penjara koruptor disulap jadi tempat budidaya lele. DPR rapat sambil minum teh tanpa suara “ketok palu proyek”. Bahkan tikus got mungkin demo ke pemerintah karena kalah saing dengan tikus anggaran.


Karena sejatinya, haji mabrur itu paket lengkap anti maling. Syaratnya jelas, uang halal, niat bersih, ibadah benar, lalu pulang jadi manusia baru. Bukan manusia lama yang cuma nambah gelar “H.” di depan nama dan foto profil WA jadi Ka’bah plus emoji unta.

Sejak Orde Lama, Orde Baru, sampai Orde “Buzzer Berjamaah”, Indonesia sudah memberangkatkan lebih dari 10 juta jemaah haji. 

Dari zaman orang naik kapal laut sambil mabuk ombak sampai sekarang naik pesawat sambil rebutan colokan charger. 

Puluhan ribu di masa awal kemerdekaan, sekarang ratusan ribu tiap tahun. Artinya apa? Secara statistik, harusnya negeri ini sudah penuh manusia suci. Koruptor mestinya tinggal spesies langka yang dilindungi undang-undang konservasi.

Tapi ternyata Indonesia terlalu ajaib.

Di negeri +62, kadang ada orang berangkat haji pakai duit haram, pulang-pulang malah makin licin. Ini seperti nyuci motor pakai air zam-zam tapi knalpotnya tetap ngebul hitam. Luar kinclong, dalamnya mesin proyek semua.

Lihat saja alumni VIP “Pesantren KPK”. Ada Suryadharma Ali, mantan Menteri Agama era SBY. Beliau divonis enam tahun penjara karena korupsi penyelenggaraan ibadah haji 2010-2013 plus dana operasional menteri. 

Nuan bayangkan level ironi ini. Orang yang ngurus keberangkatan tamu Allah malah ikut nebeng ngurus transferan. Ini seperti penjaga warung diet ketahuan nyolong rendang tengah malam.

Belum selesai ngakaknya, muncul Said Agil Husin Al Munawar, Menag era Megawati, yang divonis lima tahun karena korupsi Dana Abadi Umat dan biaya haji. Dana Abadi Umat, Wak! 

Namanya saja sudah seperti nama jurus terakhir ustaz anime. Tapi tetap ada yang tega menggerogoti. Mungkin setan juga tepuk tangan sambil bilang, “Wah, muridku sudah naik level.”

Lalu yang masih hangat seperti nasi kebuli Bandara Jeddah, ada Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut, yang sudah ditetapkan tersangka dan ditahan KPK dalam kasus korupsi kuota haji tambahan 2023-2024. Lagi-lagi urusan haji. Lagi-lagi kuota. 

Negeri ini memang luar biasa. Bahkan ibadah pun bisa berubah jadi rebutan spreadsheet Excel dan aroma proposal.

Jangan lupa juga Hasan Aminuddin, mantan Bupati Probolinggo yang kena kasus jual beli jabatan. Gelarnya KH., hajinya ada, sorbannya mantap, tapi birokrasi malah dijadikan marketplace. ASN mungkin tinggal klik, “Tambah jabatan ke keranjang.”

Lucunya di Indonesia, gelar Haji kadang sudah seperti skin premium Mobile Legends. Dipasang besar-besar di baliho politik. Huruf “H.” kadang lebih gede dari nama calegnya. Seolah-olah rakyat mau milih karena huruf depan, bukan isi kepala.

Padahal tanda haji mabrur itu bukan koper Arab, bukan oleh-oleh kurma tiga kilo, bukan air zam-zam disimpan sebelah dispenser. 

Tanda utamanya itu sederhana. Habis haji jadi takut makan uang rakyat. Takut mark-up. Takut nyolong bansos. Takut bikin proyek siluman lebih takut dari lihat tagihan listrik habis nyalain AC sebulan penuh.

Kalau kontraktor hajinya mabrur, mustahil dia tega mengurangi volume proyek. Jalan yang harusnya tebal 20 sentimeter tidak akan berubah jadi setipis kerupuk udang kena hujan. Semen tidak dicampur doa dan angin. Besi tidak dikurangi sampai jembatan goyang seperti joget TikTok. 

Karena dia sadar, setiap korupsi proyek itu bukan cuma mencuri uang negara, tapi juga mencuri keselamatan rakyat.

Kalau pedagang hajinya mabrur, timbangan tidak akan dimodifikasi seperti settingan motor balap liar. Cabe satu kilo ya satu kilo, bukan 8 ons plus bonus senyum. Minyak goreng tidak disunat diam-diam. Beras tidak dicampur batu seukuran kerikil aquarium. Karena dia tahu, menipu pembeli tidak bisa diputihkan cuma dengan air zam-zam satu galon.

Kalau pejabat hajinya mabrur, bansos tidak akan disunat. Dana rakyat tidak masuk ke kantong keluarga, staf, ipar, tetangga, sampai grup arisan. Dia akan malu sama Ka’bah yang pernah dia kelilingi tujuh putaran. Masa habis thawaf masih muter-muter anggaran juga?

Kalau guru hajinya mabrur, dia tidak jual nilai. Kalau polisi hajinya mabrur, tilang tidak berubah jadi transaksi QRIS pinggir jalan. Kalau hakim hajinya mabrur, palu sidang tidak bunyi mengikuti tebal amplop. Kalau ustaz hajinya mabrur, kotak amal tidak berubah jadi ATM pribadi berkedok ceramah.

Masalahnya di negeri ini, kadang yang berubah setelah haji cuma tulisan di undangan. Dulu “Budi”, sekarang “H. Budi”. Dulu foto profil naik motor, sekarang foto depan Ka’bah. Tapi kelakuan? Masih edisi lama. Masih suka nipu. Masih doyan nyolong. Masih lihai cari celah anggaran seperti tikus got lulusan Harvard.

Kalau benar semua 10 juta lebih jemaah itu mabrur, Indonesia mungkin sudah jadi negara paling antikorupsi di dunia. Pejabat mau nyolong anggaran langsung merinding sendiri teringat lempar jumrah. Tapi yang terjadi sekarang, kadang habis lempar jumrah, pulang malah lempar proposal fee proyek.

Buat calon jamaah haji, semoga pulangnya bukan cuma bawa peci putih, koper seragam, dan titel baru. Tapi juga hati baru. 

Karena kalau sesudah haji tidak ada perubahan akhlak, masih curang sana-sini, masih makan hak rakyat dengan lahap seperti prasmanan gratis kondangan, mungkin haji mabrurnya sudah kabur entah ke mana. 

Bisa jadi tertinggal di koper. Bisa jadi nyasar di bandara. Karena ciri paling gampang dari haji mabrur itu bukan gelarnya. Tapi kejujurannya.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Bamsoet dan Ketum Perbakin Banten Berburu Babi Hutan Perusak Panen

Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:27

UPDATE

RI Peringkat 18 Kasus Anti-Dumping, Kalah Agresif dari AS dan India

Selasa, 26 Mei 2026 | 18:19

Publik Diajak Terlibat Awasi Kualitas Makanan Lewat Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG

Selasa, 26 Mei 2026 | 18:04

Keluarga Terdakwa Kasus Pembunuhan di Pemalang Ngadu ke Legislator Nasdem

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:52

Lembang Berpeluang Diserbu Wisatawan saat Long Weekend

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:33

Kemlu RI Rayakan Africa Day 2026 Lewat Laga Persahabatan Diplomatik

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:29

Sudah Bertransformasi, Penguatan Literasi Digital jadi Kunci Cegah TPPO

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:26

Salat Id di Prancis, Prabowo Cetak Sejarah

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:22

RI-Thailand Perkuat Hubungan Bisnis dan Kerja Sama Hukum

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:54

Haji Mabrur Jadi Duta Antikorupsi

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:50

Prabowo Dijadwalkan Salat Iduladha Bersama Diaspora RI di Paris

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:37

Selengkapnya