Berita

Ilustrasi Apa Itu Suku Bunga Acuan BI (Sumber: Gemini Generated Image)

Bisnis

Apa Itu Suku Bunga Acuan BI? Ini Dampak Kenaikannya

KAMIS, 21 MEI 2026 | 18:36 WIB | OLEH: TIFANI

Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19–20 Mei 2026. Sebelumnya, suku bunga acuan tersebut sempat bertahan di level 4,75 persen sejak November 2025.

Mengutip laman resmi Bank Indonesia pada Kamis (21/5/2026), BI juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 50 bps menjadi 4,25 persen dan lending facility menjadi 6 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tengah tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.

Kenaikan suku bunga acuan ini pun memunculkan pertanyaan di masyarakat, mulai dari dampaknya terhadap cicilan kredit, suku bunga tabungan, hingga daya beli masyarakat secara keseluruhan.


Apa Itu Suku Bunga Acuan?

Suku bunga acuan BI atau BI-Rate adalah suku bunga kebijakan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan ini berfungsi sebagai patokan utama bagi perbankan di Indonesia dalam menentukan suku bunga berbagai produk keuangan, seperti kredit (KPR, pinjaman modal) dan simpanan (tabungan, deposito).

Suku bunga acuan juga menjadi salah satu indikator penting dalam kondisi ekonomi nasional. Perubahan BI-Rate dapat berdampak luas terhadap masyarakat, dunia usaha, perbankan, investasi, hingga obligasi pemerintah.

Secara sederhana, ketika suku bunga acuan naik, bunga kredit seperti KPR atau pinjaman usaha biasanya ikut meningkat. Di sisi lain, bunga simpanan seperti deposito juga cenderung naik.

Kebijakan kenaikan suku bunga ini umumnya dilakukan untuk menekan inflasi atau menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Lantas, apa dampak kenaikan suku bunga BI?

1. Cicilan Pinjaman Menjadi Lebih Mahal

Kenaikan BI-Rate membuat bunga pinjaman di perbankan ikut meningkat. Dampaknya paling terasa pada kredit dengan bunga mengambang, seperti KPR, kredit kendaraan, kartu kredit, hingga pinjaman usaha. 

Akibatnya, masyarakat yang memiliki cicilan berpotensi membayar angsuran lebih besar setiap bulan.

2. Daya Beli Masyarakat Menurun

Kenaikan suku bunga dapat menekan daya beli masyarakat. Beban cicilan yang meningkat serta potensi kenaikan harga barang dan jasa membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar. 

Kondisi ini mendorong masyarakat untuk lebih menahan konsumsi.

3. Minat Investasi Saham Bisa Menurun

Saat suku bunga meningkat, sebagian investor cenderung memindahkan dana ke instrumen yang lebih aman, seperti deposito atau obligasi. Hal ini dapat menekan pasar saham karena berkurangnya minat investasi.

4. Nilai Reksadana Obligasi Menurun

Reksadana pendapatan tetap atau reksadana obligasi turut terdampak ketika suku bunga naik. Nilai aktiva bersih (NAB) cenderung melemah karena harga obligasi yang turun. 

Meski begitu, penurunan ini umumnya bersifat sementara dan berpotensi pulih saat kondisi suku bunga kembali stabil.

5. Harga Obligasi Pemerintah Turun

Kenaikan suku bunga acuan biasanya diikuti dengan penurunan harga obligasi pemerintah. Hal ini terjadi karena investor menyesuaikan ekspektasi imbal hasil (yield) dengan tingkat suku bunga terbaru.

6. Bunga Tabungan dan Deposito Naik

Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan juga membawa keuntungan bagi penabung. Perbankan biasanya akan menaikkan bunga tabungan dan deposito agar masyarakat tertarik menyimpan dana di bank.

7. Imbal Hasil Obligasi dan SBN Lebih Menarik

Kenaikan suku bunga membuat imbal hasil obligasi baru menjadi lebih tinggi. Instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN) pun menjadi lebih menarik bagi investor yang mencari keuntungan stabil.

8. Nilai Tukar Rupiah Lebih Stabil

Kebijakan ini juga membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Suku bunga yang lebih tinggi dapat menarik aliran modal asing ke dalam negeri.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya