Berita

Ilustrasi Duck Syndrome yang Viral di Media Sosial (Sumber: Gemini Generated Image)

Kesehatan

Mengenal Duck Syndrome yang Viral di Media Sosial, Ini Pengertian dan Dampaknya

KAMIS, 21 MEI 2026 | 18:04 WIB | OLEH: TIFANI

Istilah duck syndrome belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial X (Twitter). Fenomena ini menjadi viral setelah banyak warganet merasa kondisi tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di era digital yang serba terbuka.

Perbincangan ini salah satunya dipicu oleh unggahan akun X @0xh***** pada Selasa (19/5/2026). Dalam cuitannya, ia membagikan penjelasan singkat mengenai duck syndrome yang kemudian memicu diskusi luas di kalangan pengguna media sosial.

“Kalian pernah dengar ‘duck syndrome’ nggak? Duck syndrome itu kondisi saat seseorang kelihatannya santai, hidupnya aman-aman saja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendam sendiri,” tulis akun tersebut.


Unggahan itu langsung ramai mendapat respons warganet. Hingga Kamis (21/5/2026), cuitan tersebut telah memperoleh lebih dari 300 komentar dan dibagikan ulang lebih dari 30 ribu kali. 

Banyak pengguna X mengaku merasa terhubung dengan kondisi tersebut, karena adanya tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja di media sosial, meski sebenarnya sedang menghadapi masalah atau kelelahan mental.

Apa Itu Duck Syndrome?

Mengutip laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), istilah duck syndrome pertama kali populer di Stanford University untuk menggambarkan kondisi mahasiswa yang tampak tenang dan mampu menjalani kehidupan akademik maupun sosial dengan baik, padahal sebenarnya mengalami tekanan besar. Sesuai namanya, sindrom ini dianalogikan seperti seekor bebek yang sedang berenang. 

Di atas permukaan air, bebek terlihat tenang, anggun, dan tanpa kesulitan. Namun di bawah permukaan, kakinya bergerak sangat cepat untuk menjaga keseimbangan agar tetap terapung.

Konsep ini juga sejalan dengan teori dari sosiolog Erving Goffman yang menjelaskan bahwa manusia memiliki “panggung depan” (front stage) dan “panggung belakang” (back stage) dalam kehidupan sosialnya. Di panggung depan, seseorang cenderung menampilkan citra terbaiknya, sementara di balik itu bisa saja menyimpan tekanan atau masalah pribadi.

Fenomena duck syndrome tidak bisa dianggap sepele karena dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang. Berikut beberapa dampak yang bisa muncul:

1. Burnout kronis, akibat kelelahan fisik dan emosional yang terus-menerus dipendam.
2. Gangguan kecemasan dan depresi, karena emosi negatif tidak tersalurkan dengan baik.
3. Isolasi emosional, di mana seseorang merasa sendirian meski terlihat memiliki banyak teman atau pengikut di media sosial.

Duck syndrome dapat dicegah mulai dari hal sederhana, yaitu berani jujur pada diri sendiri saat merasa lelah, stres, atau kewalahan. Tidak perlu selalu terlihat baik-baik saja, karena memendam emosi justru bisa membuat tekanan semakin menumpuk.

Selain itu, kurangi dorongan untuk tampil sempurna, terutama di media sosial. Tidak semua yang terlihat di dunia digital mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga penting untuk tidak membandingkan diri secara berlebihan.

Penting untuk membuka diri kepada orang terdekat, sehingga mengurangi beban pikiran. Jika diperlukan, mencari bantuan profesional seperti psikolog bisa menjadi langkah tepat untuk menjaga kesehatan mental.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya