Berita

Rektor Universitas Paramadina Profesor Didik J Rachbini. (Foto: RMOL)

Politik

RI Diminta Contoh Reformasi Ekonomi Vietnam

SENIN, 18 MEI 2026 | 12:49 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pemerintah Republik Indonesia (RI) diminta mencontoh reformasi ekonomi yang dilakukan Vietnam agar mampu keluar dari “kutukan” pertumbuhan ekonomi 5 persen dan mencapai target pertumbuhan 7-8 persen.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini mengatakan, Vietnam menjadi salah satu negara di Asia yang berhasil keluar dari kondisi kemiskinan berkat reformasi ekonomi yang dikenal dengan istilah ??i M?i.

“Contohnya Vietnam melalui reformasi Doi MOi, yang sekarang berhasil dan sukses mempertahankan pertumbuhan ekonomi sampai 8 persen,” ujar Prof. Didik kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Senin, 18 Mei 2026.


Menurut Prof. Didik, Indonesia sebenarnya pernah mengalami masa pertumbuhan ekonomi tinggi pada era 1980-an hingga awal 1990-an dengan capaian pertumbuhan mencapai 7 persen.

“Dan semua negara maju melakukannya, seperti Korea Selatan pada era industrialisasi, Singapura di bawah Lee Kuan Yew, dan China pada era Deng Xiaoping,” sambungnya.

Namun demikian, Prof. Didik menilai Indonesia saat ini menghadapi persoalan utama berupa masalah struktural di pemerintahan. Akibatnya, potensi ekonomi nasional, termasuk laju investasi, tidak dapat berkembang secara maksimal.

“Tanpa reformasi birokrasi dan perbaikan institusi, mustahil industri dan ekonomi tumbuh tinggi,” tuturnya.

Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) itu juga menyoroti kinerja ekspor Indonesia yang dinilai tertinggal jauh dibandingkan Vietnam.

“Perdagangan internasional atau ekspor dan impor Vietnam bertumbuh sangat cepat dengan nilai 1.000 miliar dolar AS atau dua kali dari perdagangan internasional Indonesia,” paparnya.

Karena itu, Prof. Didik menyarankan Presiden Prabowo Subianto segera memperbaiki persoalan struktural pemerintahan agar Indonesia mampu bersaing dengan Vietnam yang berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2025.

“Selama kinerja ekspor dan investasi asing tersendat, maka jangan diharapkan kita lepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” pungkasnya.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya