Berita

Ilustrasi (Gambar: Imagined by Babbe)

Bisnis

Menteri Keuangan G7 Segera Bertemu Bahas Ancaman Krisis Global

SENIN, 18 MEI 2026 | 07:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara anggota G7 dijadwalkan bertemu di Paris pada Senin dan Selasa pekan ini di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan.

Pertemuan tersebut berlangsung ketika pasar global mulai merasakan tekanan besar dari terganggunya jalur distribusi energi dunia. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas internasional. Jika jalur itu terus terganggu, pasokan energi dunia bisa semakin ketat dan memicu lonjakan harga.

Presiden Eurogroup, Kyriakos Pierrakakis, menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi global.


“Pembukaan Selat Hormuz dan pengakhiran konflik secara permanen sangat penting dalam mengurangi dampak terhadap perekonomian,” kata Pierrakakis, dikutip dari CNBC International, Senin 18 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa ekonomi Eropa sejauh ini masih cukup tangguh menghadapi krisis energi terbaru. Namun menurutnya, dampak tekanan ekonomi tetap akan dirasakan secara global, bahkan jika konflik di Timur Tengah dapat segera diselesaikan.

Kekhawatiran investor saat ini terutama tertuju pada ancaman inflasi akibat naiknya harga energi. Kondisi tersebut membuat biaya pinjaman jangka panjang di sejumlah negara G7 meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 30 tahun melonjak hingga 5,12 persen pada Jumat lalu. Angka itu menjadi level tertinggi sejak Mei 2025 dan mendekati rekor tertinggi sejak 2023. Kenaikan imbal hasil terjadi setelah pasar menerima data inflasi yang tidak stabil dan muncul spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di bawah pimpinan baru, Kevin Warsh.

Tekanan serupa juga terjadi di Inggris dan Jepang. Di Inggris, imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang mencapai level tertinggi sejak akhir 1990-an akibat kombinasi ketidakpastian politik dan kekhawatiran inflasi. Sementara di Jepang, lonjakan biaya pinjaman terjadi karena negara tersebut sangat bergantung pada impor energi sehingga lebih rentan terhadap gejolak harga minyak.

Dalam pasar obligasi, kenaikan imbal hasil biasanya menunjukkan menurunnya kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi atau kemampuan pemerintah mengendalikan situasi fiskal dan inflasi.

Sementara itu, harga minyak dunia masih bertahan tinggi. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli ditutup naik lebih dari 3 persen ke level 109,26 Dolar AS per barel pada Jumat. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika naik lebih dari 4 persen menjadi 105,42 Dolar AS per barel.

Secara keseluruhan, harga minyak Brent telah melonjak sekitar 74 persen sejak awal tahun 2026. Meski begitu, harga tersebut masih berada di bawah puncak tertinggi akhir April yang sempat menyentuh 118 Dolar AS per barel.

Kondisi pasar energi juga semakin mengkhawatirkan karena cadangan minyak global terus menurun dengan sangat cepat untuk menutupi gangguan pasokan dari Timur Tengah. Jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, persediaan minyak dunia dikhawatirkan akan mencapai level kritis.

Badan Energi Internasional atau IEA sebelumnya telah memperingatkan bahwa harga minyak dan bahan bakar kemungkinan masih akan naik menjelang musim panas, saat permintaan energi biasanya mencapai puncaknya.

“Cadangan yang menyusut dengan cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut, dapat menjadi pertanda lonjakan harga di masa mendatang,” kata IEA dalam laporan terbarunya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Tom Holland dan Zendaya Bakal Rehat Setelah Spider-Man Brand New Day

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:52

IAW: Ada Dugaan Intervensi Kasus Dedi Congor

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:51

Sidang Perdana Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 Agustus

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:42

Prabowo Tinjau Deretan Inovasi BRIN, dari Air Minum Darurat hingga Teknologi Nuklir

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:35

Komisi III DPR Minta Polisi Ungkap Pemasok Senpi di Yayasan Sekolah Jaksel

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:28

Partisipasi Bermakna di Black Box Regulasi Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:15

Amplop Berisi 14 Ribu Dolar Singapura Memang Dikembalikan, tapi Isinya Berkurang

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:02

Prabowo Tekankan Pentingnya Sains dan Teknologi bagi Masa Depan Bangsa

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:54

Isu Pergantian Kapolri Bisa Merugikan Presiden jika Tidak Hati-Hati

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:53

Food Station Masih Andalkan Laba Bersih dari PSO

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:30

Selengkapnya