Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Publika

Dolar Bergoyang, Prabowo Tetap Santai

SENIN, 18 MEI 2026 | 03:22 WIB

PRESIDEN Prabowo Subianto memberikan maklumat pada rakyatnya, termasuk ente. Yang kupingnya budek, siapkan korek kuping, pastikan artikulasi suara jernih. Here you are!

Desa Nglundo mendadak terasa seperti pusat semesta politik nasional. Biasanya orang datang ke desa cari ketenangan, makan pecel, ngopi di warung bambu sambil dengar suara ayam. Tapi kemarin beda. 

Presiden Prabowo Subianto datang meresmikan Museum Ibu Marsinah. Suasana langsung berubah seperti gabungan rapat kabinet, ceramah motivasi, sidang etik aparat, plus stand-up comedy ekonomi rakyat.


Awalnya formal. Presiden membuka acara dengan gaya resmi kenegaraan. Semua duduk rapi. Kamera siap. Pejabat senyum setelan pabrik. Tapi beberapa menit kemudian pidato berubah jadi mode “bapak bangsa sedang naik darah”.

Marsinah disebut sebagai simbol perjuangan buruh. Seorang perempuan muda yang melawan ketidakadilan lalu mati tragis. 

Prabowo bilang kejadian itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Nah, kalimat itu pendek, tapi rasanya seperti sandal jepit dilempar tepat ke jidat sejarah Indonesia. 

Karena memang kadang negeri ini aneh. Yang memperjuangkan hak buruh malah habis, sementara yang memperjuangkan fee proyek bisa hidup nyaman sambil update story makan steak wagyu.

Lalu masuklah bagian paling bikin kursi pejabat terasa panas, aparat harus bersih. Waduh. Gue demen bagian ini.

Kalau Presiden sudah mulai ngomong “jangan jadi beking”, biasanya volume pendingin ruangan langsung terasa kurang dingin. TNI, Polri, jaksa, birokrat, semua disemprot halus tapi pedas. 

Jangan beking judi. Jangan beking narkoba. Jangan beking penyelundupan. Jangan beking “ilegal ini ilegal itu”.

Kalimat “ilegal ini ilegal itu” terdengar sederhana, tapi rakyat langsung paham. 

Di Indonesia memang ada banyak spesies ilegal yang hidupnya lebih sehat dari UMKM. Barang ilegal masuk mulus, tapi pedagang cilok kadang malah dikejar soal izin lapak.

Katanya podium sampai digebrak. Nah, kalau podium sudah kena gebrak Presiden, itu tandanya pidato sudah masuk level “orang tua menemukan tagihan pinjol anaknya”. 

Pejabat di barisan depan mungkin langsung duduk lebih tegak dari tiang listrik.

Tapi bagian paling legendaris justru soal dolar.

Saat banyak ekonom panik lihat rupiah melemah, Prabowo malah santai. Katanya rakyat desa tidak pakai dolar. 

Seketika warung kopi seluruh Indonesia terasa mendapat validasi ilmiah. Benar juga. 

Emak-emak di desa beli bayam tidak pakai dolar AS. Tukang tambal ban juga tidak pasang kurs rupiah terhadap euro sebelum menambal bocor halus.

Rakyat kecil itu hidupnya ditentukan harga beras, bukan pidato Jerome Powell.

Netizen langsung ramai. Sebagian ngakak. Sebagian mikir keras. Sebagian lagi mungkin sambil menyeruput kopi berkata, “Wah, akhirnya ada juga teori ekonomi warung.”

Tapi di balik lucunya, ada sindiran tajam. Negara jangan terlalu sibuk memandangi grafik sampai lupa rakyat cuma ingin sembako aman dan perut kenyang. 

Karena bagi rakyat desa, “krisis global” itu kadang kalah menyeramkan dibanding harga cabai tembus langit.

Lalu masuk program MBG alias Makan Bergizi Gratis. Prabowo bilang program ini memang banyak masalah. 

Nah, ini menarik. Biasanya pejabat kalau ada masalah ngomongnya “hoaks” atau “misinformasi”. Tapi kali ini diakui langsung ada penyalahgunaan yang harus dibereskan.

Artinya pemerintah sadar satu hal penting, di Indonesia, program bagus bisa berubah jadi lomba kreativitas oknum. 

Bantuan rakyat kadang bocornya lebih deras dari atap warung saat musim hujan. Wajar bila Deddy Corbuzier nyesel bangat dulu dukung MBG.

Museum Marsinah akhirnya bukan cuma tempat pajang sejarah. Tapi seperti alarm besar. Pengingat, negara ini jangan sampai kembali membiarkan rakyat kecil sendirian melawan ketidakadilan. 

Karena kalau aparat masih doyan kongkalikong dan pengusaha nakal masih merasa kebal, rakyat bisa sewaktu-waktu ikut menggebrak. 

Bedanya, kalau rakyat yang gebrak, biasanya bukan podium yang goyang. Tapi seluruh suasana negeri.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya