JUDUL tulisan ini dan apa yang saya tulis bukan sekadar angan-angan pribadi. Tapi, ringkasan pikiran dan harapan yang saya bahasakan dari masukan, pendapat dan suasana kebatinan yang meliputi dna terlontar dari diskusi dalam silaturrohim bersama PCNU-PCNU seJawa Tengah, di tiga titik pertemuan dari enam karesidenan.
Tentu sedikit berbeda dengan yang didawuhkan para masyayikh sepuh NU dan pesantren yang saya sowani di Jawa Tengah. Mereka lebih mengedepankan aspek ta’lim wa ta’allum, pesantren, kesatuan dan akhlaq, terutam etika berjam’iyyah dan bermasyarakat secara umum. Bahkan, menekankan secara khusus agar para calon pimpinan NU, mempedomaninya.
PCNU patut mendapat apresiasi tertinggi dan terhormat, karena mereka bersentuhan langsung dengan warga. Menggerakkan mereka, membangkitkan semangat, mengorkestrasi gerakan dan mengkoordinasikan ragam inisiatif kemashlahatan umat ditingkat kecamatan, ranting dan dusun atau berbasis masjid/musholla. Faktanya, NU teduh bersemangat berada di arus bawah.
Ketika menyelami kearifan berjam’iyyah di tingkat cabang, kita akan menyadari, Nahdlatul Ulama tidak pernah kekurangan orang alim sebagai penggerak alami. Hanya lemah cara merawat orang alim agar tetap tersambung dengan umat. NU juga tidak pernah kekurangan amal usaha. Hanya lemah dalam cara mengelola amal itu agar berkah (menambah kebaikan) dan berjangka panjang.
Kelemahan demikian hanya perlu menguatkan koordinasi semua level sebagai organisasi berbasis koordinasi, bukan instruksi. Karena, struktur NU yang mapan hingga tingkat dusun atau basis masjid-musholla perlu fungsional dengan pola desentralisasi, bukan komando ala militer yang tidak imbang secara relasi. Pemaksaan pada organ sipil keguyuban, bisa mengakibatkan kontraksi organisasi.
NU melalui dan paska muktamar ke35 nanti, perlu lima ikhtiar yang dipedomani bersama agar jam’iyyah Nahdlatul Ulama tetap kokoh di akarnya, nyaman dibawah rerindangan ranting, dan terasa teduh untuk menaungi semua. Dan, hal ini mensyaratkan rekonsiliasi secara nasional dengan merawat dan menguatkan ukhuwwah nahdliyyah.
Merawat Persaudaraan dan Menghidupkan Ruh Perjuangan Pesantren
NU lahir dari dan oleh ulama pesantren. Jiwa jam’iyyah mencerminkan jiwa atau ruh pesantren yang dibangun dari tiga spirit, yakni spirit pesantren, jihad dan khidmah. Sejalan dengan itu ada lima wasiat dari Alm. KH Ali Ma’shum, Krapyak Yogyakarta, Rais Aam PBNU 1981-1984 dalam membangun karakter berjam’iyyah.
Yakni; al-ilm wa al-ta’allum bi nahdlatil ulama (ideologisasi berjam’iyyah NU), al-‘amal bi nahdlatil ulama (membangun usaha), al-jihadu bi nahdlatil ulama (kesungguhan dalam usaha), al-sobru bi nahdlatil ulama (sabar dalam profesionalitas) dan ats-tsiqotu bi nahdlatil ulama (percaya-yakin terhadap usaha didalam NU).
Spirit pesantren tidak lain membentuk kepribadian generasi muslim nahdlah; bangkit mencapai keunggulan, merawat tradisi supaya tidak kehilangan akar, berkarakter jihad dan khidmah (pengabdian) untuk kemashlahatan umat.
Kesatuan lima wasiat KH Ali Maksum dan tiga spirit pesantren menjadi kaidah dalam berjam’iyyah. Menjadi kebutuhan untuk memenuhi aspek penyelenggaraan jam’iyyah yang berkarakter pesantren, bukan mengejar keinginan terhadap pola penyelenggaraan yang makin mengaburkan karakter Nahdlatul Ulama.
Amanat dalam mukadimah Qonun Asasi NU, Mbah Hasyim Asy’ari menegaskan persaudaraan sebagai pangkal kesatuan dan kebersamaan dalam menyelenggarakan jam’iyyah. Maka, beda kebutuhan apalagi keinginan dalam menyelenggarakan jam’iyyah tidak boleh menjadi alasan pecah barisan. Sebab, perjuangan NU bukan berebut siapa yang terbaik, tapi berebut cepat menolong dan melayani.
Pendekatan Humanis, Transparan dan Akuntabel Dalam Manajemen PBNUNU adalah jam’iyyah besar yang tidak bisa diurus dengan cara “pokok manut atasan”, apalagi dalam satu garis komando. Pola gerak pelayanan NU berdasar pemetaan dan inisiatif para penggerak di arus bawah. Pun aspek pembiayaan, ditopang oleh partisipasi Nahdliyyin dan amal usaha berbasis gotong royong. Bantuan dari pemerintah dan stakeholders lain hanya untuk melengkapi dan menutup kekurangan.
Berbeda dengan manajemen tingkat PW dan PBNU. Terlebih bila ada kemitraan program tertentu dengan pemerintah atau pihak lain termasuk luar negeri dengan sistem manajemen dan mekanisme khusus. Terpenting, NU tidak kehilangan karakter dasar dalam penyelenggaraan jam’iyyah yang berakar dan berkembang dari bawah.
Maka, poros utama manajemen PBNU tetap dengan pendekatan humanis, transparan dan akuntabel. Manajemen harus mau mendengar dari bawah (bukan hanya didengar) serta menghormati dan menghargai segala inisiatif kreatifitas-inovatif dari bawah (bukan menyalahkan atau mengabaikan).
Manajemen juga harus terbuka, karena semua bentuk dukungan dan penggalangan sumber daya bukanlah hal rahasia, terutama internal jam’iyyah. Dan, ragam media internal bisa digunakan manajemen sebagai etalase paparan program, progress hingga pertanggung jawaban. Keberhasilan adalah karena semua, sedangkan kekurangan menjadi permakluman.
Melibatkan Tenaga Ahli Profesional dari Kader NU
NU punya segalanya; para ahli dan profesional di berbagai bidang. Yang sering terjadi, mereka sering merasa “NU bukan tempat saya”. Kenapa ?, karena NU tidak memberi tempat dan ruang nyaman bagi passion mereka. Padahal, mereka bisa memberi warna dan menguatkan layanan serta amal usaha NU lebih inovatif dan modern.
Memberi kepercayaan kepada mereka adalah kehormatan untuk bisa kembali ke rumah besarnya, yakni NU. Bukan sekedar disebut-sebut adanya, tapi minim panggung untuk mengeksplorasi kreatifitas untuk memajukan jam’iyyah. Bagi mereka, bukan jabatan yang penting, tapi peluang untuk menyalurkan keahlian. Karena keahlian juga amanah yang harus dijalankan.
Keahlian di sektor pertanian, peternakan, keuangan, perdagangan, koperasi dan bisnis berbasis syariah dalam core bidang ekonomi, banyak dibutuhkan untuk menggerakkan perekonomian Nahdliyyin. Keahlian di sektor administrasi, IT, dan IA sangat dibutuhkan untuk memodernisasi sistem layanan jam’iyyah. Demikian pula sektor-sektor lain.
Memberi Ruang Luas Kepada Wilayah dan Cabang untuk Kreatif
Satu hal penting. Kearifan lokal adalah modal terbesar NU, bukan penghalang untuk menjaga kesatuan. Karakteristik NU Jawa Timur tidak bisa dipaksakan untuk membentuk NU wilayah Kalimantan Selatan. Tradisi berNU di Banten pun, tidak bisa dijalankan untuk kepribadian berNU di Papua. Demikian seterusnya.
PBNU bukan komandan dari ragam barisan NU di Jawa, Papua, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan sebaran barisan NU di pulau-pulau. Melainkan koordinator yang mengorkestrasi keserasian gerak pelayanan untuk kemashlahatan umat. Unit terkecil NU di bawah bukan bergerak atas komando PBNU, tapi oleh kebutuhan di bawah.
Faktanya, banyak sekali amal usaha di lingkup PCNU yang berbasis partisipasi dan gotong royong. Mulai dari usaha sektor pertanian, perdagangan, transportasi, pendidikan, jasa keuangan/permodalan, rumah sakit, klinik hingga filantropi. Semua dimulai dari gagasan dan bergerak bersama. Usaha itu berkembang hingga sekarang, karena dikontrol langsung warga.
Dalam konteks ini, tugas PBNU ada tiga; memberi rambu pemandu, memberi panggung berkembang meluas, dan memberi perlindungan atas azas manfaat. Dalam konteks berkreasi, jangan semua harus izin pusat sampai ranting mau berkegiatan pun, takut salah. Sebaliknya, beri keleluasaan berkreasi dan berinovasi, asal tidak keluar dari akidah, fikrah dan khittah NU.
Melandasi Kebijakan Strategis Dengan Hujjah Fiqhiyyah Sesuai Tradisi
NU tidak alergi terhadap perubahan, tapi NU punya cara untuk berubah. Setiap kebijakan strategis, mulai dari sikap politik, advokasi hukum, penyesuaian terhadap perubahan sistem pendidikan, respons bencana iklim, sampai fatwa ekonomi digital, semestinya dilandasi dan harus lahir dari hujjah fiqhiyyah.
Kutubut turots yang membentuk kepribadian dan tradisi NU bukan untuk dipajang. Qowaidu al-Fiqhiyyah bukan sekedar jargon yang muncul di ajang muktamar. Al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah bukan tertulis di spanduk, tapi membentuk metode berpikir bagi warga jam’iyyah. Semuanya menunjuk citra diri jam’iyyah NU.
Dengan begitu, NU tetap relevan tanpa kehilangan identitas dan jati dirinya. NU tetap berada di jalur kemajuan, tapi tidak tercerabut apalagi terbawa oleh arus modernitas. NU tetap membumi menyesuaikan perilaku kehidupan, tapi tidak kehilangan langit untuk berlindung, pengatur siklus perilaku dan navigasi untuk tetap bergerak.
Akhirnya, lima pilar sederhana dalam diskursus dan kebatinan PCNU se-Jawa Tengah, bukan tuntutan yang muluk-muluk. Tapi, menjadi pemandu kerja-kerja pengkhidmatan di dalam jam’iyyah secara bersama-sama. Pada saatnya PBNU akan menjadi rumah yang nyaman, kepengurusan adem, dirasakan warga terasa ayem, dan berkhdimah untuk warga menjadi marem.
NU didirikan bukan untuk menjadi menara gading. Justru NU didirikan untuk menjadi tenda besar; tempat berteduh siapa saja yang lelah, tempat kembali siapa saja yang tersesat, tempat berangkat siapa saja yang mau berjuang. Dan semua itu dimulai dari satu hal; rekonsiliasi menyeluruh untuk merawat persaudaraan demi khidmat dalam kesatuan.
KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Pengasuh PP Mamba'ul Maarif Denanyar Jombang Jawa Timur
Santri yang diminta dan diperintah oleh Guru-Kiai-nya untuk berikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui Muktamar ke-35.