Berita

Ilustrasi

Politik

Hima Persis:

Pelemahan Rupiah Ancam Pelaku Usaha Hingga Daya Beli Masyarakat

MINGGU, 17 MEI 2026 | 10:01 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pemerintah diminta mengambil langkah secara serius setelah nilai tukar rupiah telah melemah selama tiga hari berturut-turut dan menyentuh level terendah di angka 17.600 rupiah per dolar Amerika Serikat sejak Jumat 15 Mei 2026. 

Ketua Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PP Hima Persis) Bidang Ekonomi, Fakhrizal Lukman menilai, tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat.

"Saat nilai dolar Amerika Serikat meningkat, biaya impor menjadi lebih mahal bagi pelaku usaha dan berpotensi diteruskan ke harga jual barang tingkat konsumen. Jadinya, masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang dibayar dengan dolar," kata Fakhrizal dalam keterangannya, Minggu 17 Mei 2026.


Fakhrizal melihat komoditas pangan menjadi sektor yang paling cepat terdampak. Indonesia masih mengimpor berbagai bahan pangan penting mulai dari gandum, kedelai, bawang putih, susu, hingga bahan baku industri makanan. Gandum dan kedelai, menurutnya, menjadi yang paling rentan karena ketergantungan pada pasokan luar negeri masih sangat tinggi.

Ia mengungkapkan, harga bahan baku impor di tingkat produsen sebenarnya sudah naik sejak akhir April 2026. 

"Ketika dolar menguat, biaya pembelian dari luar negeri otomatis menjadi lebih mahal bagi importir dan pelaku usaha, sehingga biaya produksi industri pangan ikut meningkat dalam waktu singkat," kata Fakhrizal.

Kenaikan biaya itu, ia tegaskan, berisiko diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Dampak pelemahan rupiah, lanjut Fakhrizal, tidak hanya terasa dari produk impor langsung. Makanan olahan yang menggunakan bahan baku impor juga berisiko mengalami kenaikan harga. 

"Kenaikan harga gandum, misalnya, dapat memengaruhi harga roti, biskuit, mie instan, hingga pakan ternak," kata Fakhrizal

Tidak hanya terjadi di sektor pangan, hal ini pun terjadi pada sektor elektronik, farmasi hingga otomotif pastinya ikut terdampak karena ketergantungan kita pada produk luar negeri di sektor tersebut masih tinggi.


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

UPDATE

Konflik Agraria di Program Lumbung Pangan

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:59

Riset Advokasi Harus Perjuangkan Kebutuhan Masyarakat

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:36

Hati-hati! Pelemahan Rupiah Juga Bisa Hantam Warga Desa

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:19

Kebangkitan Diplomasi Korporat di Balik Pertemuan Trump-Xi

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:59

Pemkot Semarang Gercep Tangani Banjir Tugu-Ngaliyan

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:33

TNI AD Pastikan Penanganan Insiden Panhead Cafe Berjalan Transparan

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:12

Mantan Pimpinan KPK Sebut Vonis Banding Luhur Ngawur

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:50

Jokowi-PSI Babak Belur Usai Serang JK Pakai Isu Agama

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:25

Pemkot Semarang Pastikan Penanganan Permanen di Jalan Citarum

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:10

Celios: Prabowo Kayaknya Perlu Dibriefing Ekonomi 101

Minggu, 17 Mei 2026 | 00:54

Selengkapnya