Berita

Ilustrasi Rupiah (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Rupiah Berdarah-darah, Tembus Rekor Terlemah Baru Rp17.600 per Dolar AS

JUMAT, 15 MEI 2026 | 10:09 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar (kurs) Rupiah kembali tertekan ke level terendah baru pada perdagangan. Jumat 15 Mei 2026.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah tembus Rp17.614 per dolar AS. Mata uang Garuda itu melemah 84 poin atau minus 0,48 persen dari perdagangan sebelumnya.

Sebelumnya, Rupiah ditutup di level Rp 17.529 per Dolar AS pada perdagangan terakhir. 


Sementara pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.540 hingga Rp17.550 per Dolar AS sebelum akhirnya menembus level Rp17.600 per Dolar AS. 

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi diperkirakan bisa menembus level Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) hingga akhir Mei 2026.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan Rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga tingginya kebutuhan Dolar di dalam negeri.

“Rupiah di bulan Mei kemungkinan besar masih akan terus mengalami kelemahan. Ya level Rp17.550 dalam minggu ini kemungkinan besar akan tercapai. Ada kemungkinan besar Rupiah juga kembali melemah di level Rp18.000,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 14 Mei 2026.

Ia menilai ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang termasuk Rupiah.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia dinilai menjadi ancaman serius bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Ia menyebut harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) saat ini telah berada di kisaran 101 Dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN yang mematok harga minyak 70 Dolar AS dan kurs Rupiah Rp16.500 per Dolar AS.

“Indonesia 1,5 juta barel per hari yang melakukan impor dari luar,” katanya.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat pemerintah membutuhkan dana subsidi energi yang jauh lebih besar, terutama karena mayoritas impor digunakan untuk BBM bersubsidi.

“Pada saat barang Dolarnya sedikit, permintaan banyak, ini yang membuat Rupiah mengalami kelemahan,” jelasnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Tom Holland dan Zendaya Bakal Rehat Setelah Spider-Man Brand New Day

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:52

IAW: Ada Dugaan Intervensi Kasus Dedi Congor

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:51

Sidang Perdana Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 Agustus

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:42

Prabowo Tinjau Deretan Inovasi BRIN, dari Air Minum Darurat hingga Teknologi Nuklir

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:35

Komisi III DPR Minta Polisi Ungkap Pemasok Senpi di Yayasan Sekolah Jaksel

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:28

Partisipasi Bermakna di Black Box Regulasi Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:15

Amplop Berisi 14 Ribu Dolar Singapura Memang Dikembalikan, tapi Isinya Berkurang

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:02

Prabowo Tekankan Pentingnya Sains dan Teknologi bagi Masa Depan Bangsa

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:54

Isu Pergantian Kapolri Bisa Merugikan Presiden jika Tidak Hati-Hati

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:53

Food Station Masih Andalkan Laba Bersih dari PSO

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:30

Selengkapnya