Berita

TPA Cipayung. (Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

Publika

Bau Sampah Ekonomi Sirkular dan Potensi Cuan

JUMAT, 15 MEI 2026 | 04:50 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

TEMPAT Pembuangan Akhir (TPA) sampah resmi milik kota Depok adalah TPA Cipayung. Luas lahan TPA Cipayung sekitar 11,2 hektar. Sekalipun jarak TPA saat ini mencapai sekitar 6 kilometer, namun bau sampah kini terasa sangat menusuk hidung. Bau menusuk terjadi pada malam hari hingga pagi hari, pada musim hujan, ketika angin bertiup kencang, dan terutama ketika dilakukan pembalikan sampah menggunakan mesin alat berat.

Polusi udara bau sampah menyengat menjadi terasa agak berkurang setelah TPA illegal dekat perumahan di Kawasan Limo telah dihentikan dan disegel. TPA illegal juga ditemukan di Meruyung, di Serua kecamatan Bojongsari, di Sukmajaya, Tanah Merah, Bukit Cengkeh, dan dekat Stasiun Depok Baru. TPA-TPA tadi telah disegel oleh Dinas LIngkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok.

Produksi sampah harian yang berasal dari Kodya Depok di TPA Cipayung sekitar 1363 ton per hari. Produksi sampah setahun mencapai sekitar 0,5 juta ton per tahun. Sampah terdiri dari sekitar 70 persen dari volume sampah merupakan sampah organik. Kemudian sekitar 15,73 persen berupa sampah plastik.


Pemkot Depok sesungguhnya telah bekerjasama dengan Pemkot Bogor untuk mengirimkan sekitar 750 ton sampah per hari, agar sampah diolah menjadi energi di Kayumanis Bogor. Pabrik pengolahan mandiri dengan kapasitas seribu ton per hari mulai dikembangkan di TPA Cipayung baru-baru ini mulai tahun 2026. 

Peletakan batu pertama dimulai pada bulan Mei tahun 2026. Rencana operasional diperkirakan pada akhir tahun 2026. Sementara itu sampah organik dikelola oleh Unit Pengolahan Sampah (UPS). 

Teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) hendak digunakan oleh TPS sampah di Cipayung Depok untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif. Sampah diproses menjadi bahan padat yang dapat Dibakar untuk menghasilkan energi. Kaca, logam, dan batu dipisahkan dari sampah plastik, kertas, tekstil, dan kayu lazim ini dilakukan di negara-negara maju. 

Sampah dicacah kecil-kecil kering untuk diubah bentuk menjadi butiran, pellet, atau serpihan padat. Kapasitas RDF di Cipayung Depok sebesar seribu ton sampah per hari. Hasil akhir RDF hendak dijual ke pabrik semen dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai campuran bahan bakar (co-firing) pengganti batu bara. 

Sesungguhnya mengolah sampah untuk diubah menjadi komoditas berharga lebih tinggi dikenal berpotensi sebagai kegiatan ekonomi sirkular. Sampah RDF berharga sekitar Rp300 hingga Rp450  per kilogram di tempat lain, dengan harga uji coba sebesar Rp150 per kilogram. Harga biji plastik sampah daur ulang mencapai Rp4 ribu hingga 26 ribu per kilogram. Jenis bijih plastik misalnya polypropylene, limbah botol transparan bernama polyethylene terephthalate, polyethylene-HDPE/LDPE, dan acrylonitrile butadiene styrene.

Sampah logam besi dihargai sekitar Rp2500 hingga Rp6500 per kilogram. Logam kemudian dibedakan atas logam padat tebal, seng/kaleng, dan besi keropos. Sampah tembaga seharga antara Rp95 ribu hingga Rp135 ribu per kilogram, sedangkan sampah kaleng aluminium dan sampah perabotan aluminium dihargai Rp13 ribu hingga 23 ribu per kilogram. 

Sampah jenis kuningan seharga hingga &0 ribu per kilogram. Sampah stainless steel seharga Rp16 ribu per kilogram. Sampah aki bekas seharga Rp20 ribu per kilogram. Jika kegiatan ekonomi sirkuler mengubah sampah menjadi produk baru, maka persoalan pencemaran bau busuk sampah akan segera berakhir. Demikian pula dengan fenomena sampah yang menggunung akan segera berakhir.

Akan tetapi persoalannya adalah rencana pengolahan sampah selama ini tidak kunjung segera terealisasi sekalipun usia operasional TPA sampah di Cipayung Depok telah 41 tahun, yang dimulai sejak tahun 1985. Masalahnya bukan hanya persoalan keterbatasan anggaran, melainkan kurangnya dukungan masyarakat setempat yang menjadi lokasi pengolahan sampah, dan masalah pelelangan investasi teknologi modern. Semoga masalah bau sampah segera terselesaikan. 

Jika tidak, maka bau sampah yang berlarut-larut berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pernafasan, sakit kepala kronis, gangguan tidur, meningkatkan populasi lalat. Sampah juga berpotensi menimbulkan pencemaran air, bau sampah merugikan usaha kuliner, dan harga properti dapat jatuh.

*Penulis adalah peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan pengajar Universitas Mercu Buana.                 


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Menhub Prioritas Program dan Anggaran untuk Tingkatkan Keselamatan Transportasi

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:51

DPR Yakin Potongan Aplikasi 8 Persen Bikin Driver Makin Sejahtera

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:48

Kuasa Hukum Pertanyakan Status Tersangka Raudi Akmal

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:25

Nasib Ribuan Pekerja Moker Freeport Diadukan ke Kementerian HAM

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:09

Gus Yaqut Dibantarkan ke Rumah Sakit Polri

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:58

Dirjen Imigrasi Paparkan Tiga Pilar Penguatan Perbatasan Indonesia di Siem Reap

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:29

Legislator Golkar Apresiasi Dividen PT Telkom Tertinggi

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:15

Connie Minta Jokowi Diadili Terkait Kebijakan IKN

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:12

Kuliner Potensi Perkuat Pariwisata di Kancah Internasional

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:53

Harta Kekayaan Menperin Agus Gumiwang Naik 23,2 Persen, Utang Nyaris Rp100 Miliar

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:51

Selengkapnya