Berita

Anggota DPRD Jember, Achmad Syahri Assidiqi. (Foto: Dok. DPRD Jember)

Publika

Achmad Syahri Assidiqi Tak Layak Dicontoh, Sayang Tak Bisa Dibuang

RABU, 13 MEI 2026 | 17:37 WIB

KITA beralih ke Jember. Rupanya ada wakil rakyat bikin muak. Saat rapat ia malah main games, paspus-paspus merokok. 

Seandainya bisa dibuang, kira-kira cocok dibuang kemana ni Dewan? 

Jember ini kota tembakau, kota santri, kota karnaval. Tiap tahun ada Jember Fashion Carnaval yang kostumnya bisa bikin alien minder. 


Tapi kemarin, yang tampil bukan manusia berkostum burung garuda raksasa atau ratu Mesir. 

Yang tampil justru anggota dewan yang kelakuannya seperti goblin kehilangan kandang.

Namanya Achmad Syahri As Siddiqi. Masih 25 tahun. Anak muda. Wakil rakyat. Duduk manis di rapat resmi DPRD Jember. 

Di ruangan dingin ber-AC itu, orang-orang Dinas Kesehatan sedang bicara soal campak, stunting, BPJS, rakyat sakit, puskesmas megap-megap, dan pelayanan kesehatan yang lebih rumit dari antre minyak goreng zaman chaos. 

Tapi si wakil rakyat ini malah asyik main Clash of Clans sambil merokok.

Kacong bayangkan suasananya! Di satu sisi, kepala puskesmas ngomong soal bayi kurang gizi. Di sisi lain, terdengar bunyi imajiner, 
“Town Hall upgraded!”
“Your village is under attack!”

Ya Allah, Jember ini kabupaten apa arena e-sport?

Orang rapat mikirkan balita kurus. Dia malah sibuk nyerang desa orang demi trofi. Kalau rakyat kena stunting, mungkin dianggap cuma pasukan barbar level satu yang kurang elixir.

Yang lebih dahsyat lagi, beliau ini bukan anak sembarangan. Ia putra mantan anggota DPR, cucu kiai besar pesantren. 

Harusnya aura yang keluar itu minimal aroma kitab kuning dan kebijaksanaan. Eh yang keluar malah asap rokok dan hawa pemain warnet kalah ranked.

Ini seperti pecel Jember dicampur bensin Pertalite. Salah racik. Aneh. Bikin mual lalu muntah.

Katanya di pesantren diajarkan adab lebih tinggi dari ilmu. Tapi begitu duduk di kursi empuk dewan, adabnya mungkin lompat lewat ventilasi AC lalu kabur naik odong-odong ke Pantai Papuma. Tinggal jas, rokok, dan Clash of Clans yang setia menemani.

Rakyat tentu ngamuk. Video itu menyebar lebih cepat dari gosip emak-emak di Pasar Tanjung. Netizen langsung menyerbu. Bukan menyerbu pakai tank, tapi pakai komentar pedas level dewa.

“Ini DPRD atau rental PlayStation?”

Ada yang bilang mungkin dia sedang simulasi pembangunan desa digital. Ada juga yang menduga stunting mau diselesaikan pakai pasukan naga listrik.

Ketua DPRD sampai minta maaf ke publik. Partai juga katanya akan memanggil. 

Tapi rakyat telanjur kecewa. Sebab yang dilihat bukan sekadar anak muda main game. 

Yang dilihat rakyat adalah simbol bagaimana kursi dewan kadang berubah jadi sofa rebahan orang-orang yang lupa dirinya digaji rakyat.

Ironisnya, rakyat Jember itu pekerja keras. Ada petani tembakau yang kulitnya dibakar matahari. Ada pedagang pasar yang bangun sebelum ayam sempat nguap. 

Ada ibu-ibu antre BPJS sambil gendong anak demam. Mereka semua berharap wakilnya serius memperjuangkan nasib rakyat.

Eh, wakilnya malah sibuk nge-push trofi.

Kalau begini terus, jangan heran suatu hari rapat paripurna berubah format jadi turnamen Mobile Legends. Sidang dibuka palu ketua dewan, “Agenda hari ini membahas APBD dan push rank menuju Mythic.”

Jember yang terkenal dengan karnaval megah kini malah punya pertunjukan baru, wakil rakyat merokok sambil main game ketika rakyat sedang bicara penderitaan. 

Ini bukan satire. Ini kenyataan yang terlalu absurd sampai terasa seperti skenario sinetron yang ditulis kambing habis makan kabel WiFi.

Wakil rakyat mestinya jadi teladan. Bukan jadi badut digital di tengah rapat penderitaan rakyat. 

Karena ketika rakyat lapar, sakit, dan susah berobat, lalu yang mereka lihat cuma asap rokok dan layar Clash of Clans, kepercayaan publik runtuh lebih cepat dari base TH7 diserang 20 barbarian.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya