Berita

Ilustrasi

Politik

Papua Harus Dilihat Secara Utuh Berdasarkan Data

RABU, 13 MEI 2026 | 17:14 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Narasi mengenai pembangunan di Papua perlu ditempatkan secara objektif, komprehensif, dan berbasis data. Hal ini penting agar publik tidak terjebak pada informasi yang parsial, bias, atau hanya menonjolkan satu sisi persoalan.

Pakar komunikasi sosial politik Universitas Padjadjaran, Rusdin Tahir mengatakan, pembahasan mengenai Papua harus merujuk pada data resmi, termasuk informasi fiskal dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 

Kata dia, data tersebut menunjukkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk mendukung pembangunan di Papua, mencakup sektor infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pembukaan akses ke wilayah-wilayah terpencil.


“Jika kita berbicara tentang Papua, maka pijakannya harus data. Pemerintah telah mengalokasikan dana besar untuk mendukung pembangunan daerah,” ujar Rusdin Tahir kepada wartawan, Rabu 13 Mei 2026.

Ia menilai, kebijakan Otonomi Khusus Papua merupakan salah satu bentuk komitmen negara dalam mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat asli Papua. 

“Otonomi Khusus bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan instrumen afirmatif negara untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat Papua dalam proses pembangunan,” jelasnya.

Rusdin menambahkan, pembangunan Papua tidak dapat dilepaskan dari kerja sama lintas sektor. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, unsur keamanan, serta masyarakat sipil perlu bergerak dalam kerangka sinergi yang sama agar pembangunan berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran.

“Pembangunan Papua tidak bisa dilakukan secara terpisah. Diperlukan sinergi agar pemerataan pembangunan dapat benar-benar dirasakan,” katanya.

Dalam konteks komunikasi publik, Rusdin mengingatkan bahwa Papua harus dipahami secara utuh. Menurutnya, menonjolkan persoalan tanpa melihat capaian pembangunan dapat membentuk persepsi yang tidak seimbang di ruang publik.

“Papua harus dilihat secara objektif dan komprehensif. Ada capaian pembangunan yang nyata, tetapi juga masih terdapat tantangan yang perlu diselesaikan bersama. Keduanya harus disampaikan secara proporsional,” pungkasnya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya