INDONESIA saat ini sedang menghadapi situasi ekonomi yang tampak stabil di permukaan, tetapi menyimpan tekanan yang semakin nyata di lapisan bawahnya.
Pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran positif, pusat perbelanjaan tetap ramai, proyek pembangunan terus berjalan, dan aktivitas konsumsi terlihat hidup.
Namun di balik suasana itu, muncul gejala yang menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik mulai mengalami pelemahan secara perlahan.
Tekanan terhadap kelas menengah meningkat, daya beli masyarakat mulai tergerus, ketergantungan terhadap utang konsumtif semakin besar, rupiah melemah, dan pasar keuangan bergerak semakin rapuh.
Pada saat yang sama, optimisme sosial masyarakat juga mulai menurun. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Indonesia bukan sekadar fluktuasi ekonomi biasa, melainkan tekanan struktural yang saling berkaitan satu sama lain.
Ekonomi Indonesia hari ini ibarat sebuah bangunan yang masih terlihat megah dan terang dari luar, tetapi tiang-tiang penyangganya mulai mengalami retakan halus yang terus melebar.
Retakan itu memang belum cukup besar untuk merobohkan bangunan, tetapi cukup jelas untuk menjadi peringatan bahwa daya tahannya mulai melemah.
Selama dua dekade terakhir, kekuatan utama ekonomi Indonesia berasal dari konsumsi domestik. Rumah tangga menjadi penggerak utama pertumbuhan nasional.
Dalam teori ekonomi John Maynard Keynes, konsumsi masyarakat merupakan mesin penting yang menjaga perputaran ekonomi tetap hidup.
Karena itulah Indonesia relatif lebih tahan terhadap guncangan global dibanding negara yang terlalu bergantung pada ekspor.
Namun kondisi tersebut mulai berubah. Banyak rumah tangga kelas menengah kini tidak lagi bertumpu pada surplus pendapatan, melainkan pada kemampuan berutang.
Jika sebelumnya utang digunakan untuk membeli aset, memperbesar usaha, atau meningkatkan kualitas hidup, kini utang semakin sering dipakai untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya penggunaan pinjaman digital, paylater, kartu kredit, hingga kredit konsumtif untuk kebutuhan rutin rumah tangga.
Banyak keluarga mulai menggunakan utang untuk membayar kontrakan, cicilan lama, biaya sekolah, kebutuhan dapur, hingga sekadar bertahan sampai gajian berikutnya.
Fenomena “makan tabungan” perlahan berubah menjadi “makan utang”. Dalam teori ekonomi finansial Hyman Minsky, kondisi seperti ini disebut sebagai
financial fragility, yaitu situasi ketika stabilitas ekonomi perlahan berubah menjadi kerentanan akibat ketergantungan yang terlalu besar terhadap pembiayaan utang.
Ekonomi memang masih terlihat bergerak, tetapi daya tahan masyarakat sebenarnya semakin tipis.
Kelas menengah Indonesia akhirnya berada dalam posisi yang paradoksal. Secara visual mereka masih tampak aktif mengonsumsi, datang ke pusat perbelanjaan, nongkrong di kafe, dan mengikuti gaya hidup urban.
Akan tetapi di balik itu, banyak rumah tangga hidup dengan ruang keuangan yang semakin sempit, tabungan yang menipis, dan tekanan cicilan yang terus meningkat.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang secara statistik masih terlihat positif ternyata tidak lagi sepenuhnya menghadirkan rasa aman sosial.
Investasi terus berjalan, pembangunan infrastruktur tetap berlangsung, dan berbagai indikator makro tampak terkendali. Namun pada tingkat masyarakat, banyak orang justru merasa hidup semakin berat.
Biaya kebutuhan pokok meningkat, harga rumah semakin sulit dijangkau, pekerjaan formal semakin terbatas, dan rasa aman ekonomi perlahan memudar.
Banyak orang bekerja lebih keras dibanding sebelumnya, tetapi tidak merasakan peningkatan kualitas hidup yang sebanding.
Pertumbuhan ekonomi tetap ada, tetapi manfaatnya terasa semakin tidak merata.
Fenomena ini sering disebut sebagai
growth without security, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti oleh rasa aman sosial.
Ekonomi memang tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut tidak cukup kuat menciptakan stabilitas hidup bagi sebagian besar masyarakat.
Sosiolog dan ekonom Guy Standing menyebut munculnya kelompok sosial baru bernama precariat, yaitu kelompok pekerja yang memiliki pekerjaan tetapi hidup tanpa kepastian.
Mereka bekerja dalam sistem kontrak pendek,
outsourcing, freelance, atau ekonomi digital yang minim perlindungan sosial dan rentan terhadap pemutusan kerja.
Fenomena tersebut semakin terlihat di Indonesia. Dunia kerja bergerak semakin fleksibel, tetapi fleksibilitas itu sering kali dibayar dengan hilangnya jaminan masa depan.
Banyak pekerja tetap memiliki penghasilan, tetapi tidak memiliki rasa aman untuk merencanakan hidup dalam jangka panjang.
Dalam perspektif sosiologi modern, situasi ini menciptakan ketidakpastian sosial yang berkepanjangan.
Masyarakat mulai merasa bahwa kerja keras tidak lagi otomatis menghasilkan kehidupan yang lebih baik.
Ketika rasa aman melemah, maka pertumbuhan ekonomi kehilangan makna psikologisnya bagi masyarakat luas.
Tekanan domestik tersebut kemudian bertemu dengan persoalan lain yang tidak kalah serius, yaitu pelemahan rupiah. Dalam ekonomi global, nilai mata uang bukan sekadar angka teknis, melainkan cerminan tingkat kepercayaan pasar terhadap stabilitas sebuah negara.
Ketika rupiah terus mengalami tekanan, pasar internasional sebenarnya sedang membaca adanya peningkatan risiko dalam ekonomi Indonesia.
Yang menjadi perhatian bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi, melainkan kualitas pertumbuhan tersebut, ketahanan konsumsi masyarakat, stabilitas fiskal, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan publik.
Indonesia masih memiliki ketergantungan besar terhadap impor bahan baku, energi, teknologi, dan barang modal.
Akibatnya, ketika rupiah melemah, biaya impor ikut meningkat. Dampaknya kemudian merambat ke berbagai sektor melalui kenaikan biaya produksi dan harga barang.
Kondisi ini membuat tekanan terhadap kelas menengah menjadi semakin berat. Daya beli menurun, sementara biaya hidup terus meningkat.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat menjadi semakin bergantung pada utang untuk mempertahankan pola hidupnya.
Di sinilah terbentuk lingkaran tekanan yang saling memperkuat. Pelemahan rupiah mendorong kenaikan biaya hidup, kenaikan biaya hidup melemahkan konsumsi, lemahnya konsumsi menurunkan optimisme pasar, lalu keluarnya modal asing kembali menekan rupiah.
Siklus semacam ini dapat menjadi ancaman serius apabila berlangsung dalam jangka panjang. Tekanan berikutnya terlihat di pasar saham.
IHSG mulai bergerak lebih rapuh karena investor asing secara bertahap mengurangi eksposur mereka terhadap pasar Indonesia.
Pasar saham pada dasarnya bekerja berdasarkan ekspektasi masa depan. Investor membeli saham ketika mereka percaya bahwa ekonomi akan tetap tumbuh dan perusahaan masih mampu mencetak keuntungan.
Namun saat ini pasar mulai melihat adanya risiko yang meningkat, terutama dari sisi konsumsi domestik.
Ketika kelas menengah melemah dan daya beli menurun, maka potensi pertumbuhan keuntungan perusahaan juga ikut menurun.
Tekanan paling sensitif terlihat pada sektor perbankan. Hal ini penting karena perbankan merupakan jantung ekonomi domestik.
Aktivitas bank sangat bergantung pada kredit rumah tangga, konsumsi masyarakat, serta stabilitas dunia usaha.
Ketika saham-saham bank mulai ditinggalkan investor, pasar sebenarnya sedang menunjukkan keraguan terhadap ketahanan ekonomi domestik Indonesia.
Investor global membaca kemungkinan meningkatnya risiko kredit macet dan perlambatan konsumsi jauh sebelum dampaknya benar-benar terlihat dalam data resmi.
Dalam teori ekonomi finansial, kondisi seperti ini dikenal sebagai
confidence erosion, yaitu terkikisnya kepercayaan pasar secara perlahan.
Krisis besar sering kali tidak dimulai oleh kehancuran mendadak, melainkan oleh hilangnya keyakinan sedikit demi sedikit.
Persoalan paling berbahaya sebenarnya bukan hanya terletak pada angka ekonomi, melainkan pada perubahan psikologi sosial masyarakat.
Ekonomi modern sangat bergantung pada kepercayaan: kepercayaan terhadap stabilitas masa depan, terhadap nilai uang, terhadap pekerjaan, dan terhadap kemungkinan hidup yang lebih baik.
Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa stabilitas sosial tidak hanya ditentukan oleh kondisi material, tetapi juga oleh keyakinan bahwa usaha dan kerja keras masih memiliki hubungan dengan peningkatan kualitas hidup.
Namun saat ini mulai muncul rasa frustrasi sosial yang semakin luas. Banyak orang merasa bekerja lebih keras, tetapi hasil yang diperoleh semakin kecil.
Harga rumah terasa mustahil dijangkau, biaya pendidikan meningkat, tabungan cepat habis, dan hidup terasa hanya berputar di sekitar cicilan.
Ketika optimisme masyarakat mulai melemah, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Orang mulai menahan belanja, menunda investasi, mengurangi ekspansi usaha, dan lebih fokus pada upaya bertahan hidup.
Jika kondisi ini berlangsung lama, perlambatan ekonomi dapat terjadi bahkan sebelum krisis resmi diumumkan. Indonesia saat ini memang belum berada dalam situasi krisis seperti tahun 1998.
Fondasi ekonomi nasional masih jauh lebih kuat dibanding masa lalu.
Cadangan devisa relatif besar, sistem perbankan lebih sehat, pengawasan keuangan lebih ketat, dan stabilitas fiskal masih lebih terkendali.
Namun demikian, ada pola tekanan yang tidak boleh diabaikan. Pelemahan rupiah, keluarnya modal asing, tekanan daya beli, ketergantungan rumah tangga terhadap utang, dan menurunnya rasa aman ekonomi menunjukkan bahwa daya tahan domestik sedang mengalami penurunan secara perlahan.
Jika pemerintah mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat lapangan kerja formal, meningkatkan produktivitas industri domestik, dan memulihkan daya beli masyarakat, maka Indonesia masih memiliki peluang untuk melewati tekanan ini melalui perlambatan ekonomi yang terkendali.
Akan tetapi jika tekanan terhadap rumah tangga terus membesar, sementara ketimpangan dan ketidakpastian kerja semakin meluas, maka Indonesia berisiko memasuki fase stagnasi berkepanjangan.
Skenario paling berbahaya adalah ketika tekanan ekonomi berubah menjadi krisis kepercayaan.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat mulai kehilangan keyakinan terhadap masa depan ekonomi, investor semakin defensif, modal keluar lebih besar, dan perlambatan ekonomi berubah menjadi tekanan sosial dan politik yang lebih luas.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah negara bukan hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya untuk tetap percaya bahwa masa depan masih dapat dibangun melalui kerja keras, bukan sekadar dipertahankan dengan utang.
*Direktur Jakarta Institute