Berita

Jusuf Kalla. (Foto: RMOL)

Publika

JK Negarawan, Pemersatu Bangsa, dan Arsitek Perdamaian Nasional yang Patut Dihormati

MINGGU, 10 MEI 2026 | 10:48 WIB | OLEH: SUGIYANTO EMIK*

JUSUF Kalla (JK) merupakan salah satu tokoh nasional paling berpengaruh dalam sejarah politik Indonesia modern. Lahir di Watampone, Sulawesi Selatan, dan tumbuh besar di Makassar, Jusuf Kalla bukan hanya dikenal sebagai pengusaha sukses asal Bugis-Makassar, tetapi juga sebagai negarawan yang memiliki kapasitas langka. Kemampuannya tidak banyak dimiliki oleh tokoh-tokoh besar lain, dengan kematangan yang teruji dalam berbagai bidang.

Jusuf Kalla dikenal kuat dalam dunia usaha, matang dalam pemerintahan, luas dalam jejaring sosial-politik, dan berulang kali terbukti hadir sebagai penengah ketika bangsa ini menghadapi konflik besar. Sosoknya tumbuh dari tradisi kepemimpinan lokal yang kuat, berpijak pada karakter tegas, lugas, pekerja keras, serta berorientasi pada solusi. 

Ia juga dikenal sebagai sosok yang cerdas, cepat dalam berhitung, tajam dalam membaca persoalan, serta luwes dalam berkomunikasi dan membangun pendekatan.


Sebagai pengusaha pribumi dari kawasan timur Indonesia, Jusuf Kalla adalah simbol keberhasilan ekonomi nasional yang tumbuh dari bawah. Ia membangun dan membesarkan Kalla Group dari basis usaha keluarga menjadi salah satu kelompok usaha nasional yang bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari otomotif, logistik, konstruksi, energi, hingga infrastruktur. 

Keberhasilannya penting dicatat bukan hanya karena skala bisnisnya, tetapi karena ia membuktikan bahwa pengusaha nasional dari daerah mampu tumbuh menjadi pemain besar tanpa kehilangan identitas kebangsaan dan kepedulian sosial.

Dalam sektor energi, kontribusi Yusuf Kalla tidak dapat dipandang kecil. Melalui Kalla Group, ia terlibat dalam pembangunan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air, khususnya di Sulawesi dan Sumatra, dengan nilai pembiayaan yang mencapai sekitar Rp30 triliun. 

Jusuf Kalla sendiri menegaskan bahwa pembiayaan tersebut bukan kredit bermasalah, melainkan kredit produktif untuk membangun infrastruktur energi nasional. Hal ini bukan hanya berdampak positif bagi pembangunan nasional, tetapi juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi kalangan pengusaha pribumi dan masyarakat luas.

Dalam banyak kesempatan, Jusuf Kalla menyebut proyek tersebut sebagai bentuk dukungan swasta terhadap agenda negara dalam penyediaan energi. Bahkan, setiap tahun kelompok usahanya membayar bunga sekitar Rp3 triliun kepada perbankan nasional. Artinya, proyek ini bukan sekadar menguntungkan perusahaan, tetapi juga menggerakkan sektor riil, menopang sistem perbankan, membantu negara memperluas pasokan listrik, dan mencegah krisis energi, khususnya di kawasan timur Indonesia. Dalam konteks kepentingan nasional, kontribusi seperti ini merupakan bentuk nyata pengabdian melalui sektor usaha.

Di bidang politik dan pemerintahan, Jusuf Kalla memiliki rekam jejak panjang dan lengkap. Ia pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, lalu dua kali dipercaya menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia, yakni mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo. 

Kepercayaan untuk menduduki jabatan Wakil Presiden sebanyak dua kali merupakan bukti nyata bahwa Jusuf Kalla dipandang memiliki kapasitas kenegaraan, kecakapan manajerial, dan kemampuan membaca situasi nasional secara strategis. Tidak banyak tokoh Indonesia yang memiliki rekam jejak politik selengkap itu.

Namun, keunggulan terbesar Jusuf Kalla bukan hanya pada jabatan, melainkan pada kemampuannya menjadi pemecah kebuntuan nasional. Dalam sejarah konflik horizontal Indonesia, nama Yusuf Kalla tercatat sebagai tokoh penting perdamaian. Ia memainkan peran sentral dalam mendamaikan konflik Ambon melalui Perjanjian Malino pada 2002, yang menjadi titik balik penghentian konflik komunal berdarah di Maluku. Pendekatannya tegas, cepat, dan langsung menyentuh akar persoalan, sehingga berhasil mempertemukan pihak-pihak yang bertikai dalam satu meja damai.

Peran serupa juga tampak dalam penyelesaian konflik Poso. Jusuf Kalla menjadi tokoh utama di balik lahirnya Deklarasi Malino yang menjadi fondasi rekonsiliasi konflik berkepanjangan di Sulawesi Tengah. Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat negara, tetapi sebagai mediator yang mampu membangun kepercayaan lintas kelompok, lintas agama, dan lintas kepentingan.

Dalam konflik Aceh, Jusuf Kalla juga memainkan peran historis. Ia adalah salah satu tokoh kunci yang membuka jalan menuju perdamaian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Proses yang kemudian bermuara pada Perjanjian Helsinki 2005 tidak dapat dilepaskan dari kerja senyap, komunikasi politik, dan keberanian Jusuf Kalla membangun dialog saat banyak pihak masih ragu. Perdamaian Aceh menjadi salah satu warisan terbesar dalam sejarah konsolidasi NKRI, dan Jusuf Kalla adalah salah satu arsitek utamanya.

Selain dalam konflik besar seperti Ambon, Poso, dan Aceh, Yusuf Kalla juga berulang kali hadir dalam berbagai upaya penyelesaian ketegangan sosial-politik nasional. Karena itu, ia bukan sekadar politisi, tetapi tokoh pemersatu bangsa yang memiliki legitimasi moral dan kapasitas praktis untuk menjembatani konflik.

Di luar pemerintahan, Yusuf Kalla juga aktif memimpin berbagai organisasi strategis. Ia menjabat Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia dan menjadi tokoh penting dalam penguatan fungsi sosial masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Ia juga memimpin Palang Merah Indonesia, lembaga kemanusiaan yang memiliki peran vital dalam penanganan bencana, donor darah, dan pelayanan sosial nasional. Dua posisi ini menunjukkan bahwa pengabdiannya tidak berhenti di politik, tetapi juga menjangkau ranah sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.

Jusuf Kalla juga memiliki akar kuat dalam tradisi intelektual dan kaderisasi nasional. Ia tumbuh dari rahim Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi bagian penting dari Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Jejaring intelektual, sosial, dan politik yang dibangunnya sejak muda menjadikan pengaruh Yusuf Kalla tidak hanya kuat di level elite, tetapi juga luas di lapisan masyarakat sipil.

Sebagai tokoh umat Islam, Jusuf Kalla memiliki posisi yang kuat dan dihormati. Ia diterima luas oleh banyak organisasi Islam besar, dihormati oleh tokoh-tokoh umat, serta memiliki legitimasi yang kuat dalam isu-isu keumatan. Namun, kekuatan Yusuf Kalla justru terletak pada kemampuannya menempatkan Islam sebagai kekuatan pemersatu bangsa, bukan alat pembelah. Karena itu, ia dapat diterima bukan hanya oleh kelompok Islam, tetapi juga oleh kalangan nasionalis, kelompok minoritas, dan berbagai elemen bangsa lainnya.

Jaringan Jusuf Kalla juga sangat luas dan strategis. Ia memiliki komunikasi yang baik dengan kalangan sipil, dunia usaha, tokoh agama, akademisi, organisasi masyarakat, serta unsur TNI dan Polri. Dalam politik nasional, kombinasi antara kapasitas personal, pengalaman kekuasaan, jaringan elite, dan legitimasi sosial semacam ini sangat jarang dimiliki secara utuh oleh satu tokoh. Itulah sebabnya Yusuf Kalla disegani, baik oleh kawan maupun lawan politik. Ia dihormati bukan semata karena jabatan, melainkan karena kapasitas, pengalaman, keberanian, dan ketegasannya.

Dengan seluruh rekam jejak tersebut, Yusuf Kalla layak ditempatkan sebagai salah satu tokoh besar bangsa. Ia bukan hanya pemimpin politik, melainkan negarawan. Ia bukan hanya pengusaha, melainkan penggerak pembangunan. Ia bukan hanya tokoh Islam, melainkan perekat kebangsaan. Dalam ukuran sejarah, kontribusinya nyata, terukur, dan berdampak langsung bagi keutuhan bangsa, perdamaian nasional, pembangunan ekonomi, dan kemanusiaan.

Sebagai tokoh bangsa, Jusuf Kalla patut dihormati atas pengabdian, pemikiran, dan kontribusinya bagi negara. Pandangan, nasihat, dan gagasannya tetap penting untuk didengar sebagai bagian dari ikhtiar menjaga arah kebangsaan. Penilaian atas dirinya patut diletakkan secara objektif dan proporsional, bukan semata pada jabatan yang pernah diemban, melainkan pada besarnya kontribusi nyata yang telah ia berikan bagi bangsa dan negara.

Sugiyanto

Pemerhati Politik

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya