Berita

Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr. Teguh Santosa (Foto: Istimewa)

Politik

Teguh Santosa: Ajakan Prabowo Kedepankan Persatuan Kawasan bukan Slogan Kosong

SABTU, 09 MEI 2026 | 11:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara dalam sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-48 di Mactan Expo, Cebu, Filipina, Jumat 8 Mei 2026, mendapat sambutan positif dari kalangan pemerhati geopolitik.

Ajakan Prabowo untuk menjadikan persatuan dan stabilitas sebagai prioritas utama ASEAN dinilai memang relevan dengan situasi geopolitik global saat ini.

Penilaian positif terhadap pidato Prabowo itu antara lain disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr. Teguh Santosa. 


“Presiden Prabowo dengan tegas mengingatkan bahwa ASEAN harus tetap menjadi jangkar stabilitas kawasan di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global melalui penguatan solidaritas dan kerja sama antarnegara,” ujar dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini dalam keterangan, Sabtu, 9 Mei 2026.

Teguh menekankan bahwa dalam kondisi persaingan kekuatan besar yang semakin tajam, ASEAN tidak bisa bersikap pasif.

“Kalau ASEAN diam, kekosongan itu akan diisi oleh aktor eksternal. Itu risiko yang terlalu besar,” kata penulis buku “Perdamaian yang Buruk, Perang yang Baik” ini.

Pandangan Teguh merujuk pada konsep inclusive security di mana setiap negara harus mengambil peran dalam menjaga keamanan dan stabilitas dirinya, kawasan, juga lingkungan global. 

Mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta ini menegaskan, keamanan kawasan tidak bisa dicapai jika ASEAN menempatkan diri sebagai penonton. “Inclusive security menuntut ASEAN untuk terlibat langsung dan berperan aktif dalam menjaga stabilitas kawasan. Tidak ada pilihan lain,” jelasnya.

Ia menambahkan, pendekatan ini berbeda dari model keamanan eksklusif yang menggantungkan keamanan pada aliansi militer tertentu. Menurut Teguh, kekuatan ASEAN justru terletak pada kemampuannya merangkul semua pihak tanpa berpihak.

Dalam konteks itu, Teguh menilai pernyataan Prabowo di Cebu sejalan dengan semangat tersebut. “Ajakan untuk mengedepankan persatuan bukan slogan kosong dan omon-omon. Itu adalah strategi untuk memastikan ASEAN punya ruang otonomi dalam menentukan arahnya sendiri,” katanya.

"Regionalisme yang sehat adalah ketika negara-negara di satu kawasan secara kolektif membangun norma, institusi, dan mekanisme untuk mengelola konflik tanpa campur tangan eksternal,” paparnya.

Ia menjelaskan, teori itu menekankan pentingnya kepemilikan kawasan atas masa depannya sendiri. “ASEAN adalah pihak yang paling menentukan masa depannya. Kalau kita serahkan penentuan itu kepada pihak luar, kita pasti kehilangan kendali, dan mudah dipecah belah. Ini tentu insentif yang tidak menarik bagi kita semua di kawasan ini,” tegas Teguh.

Menurutnya, KTT ASEAN ke-48 di Filipina menjadi momentum penting untuk memperkuat konsensus internal. Isu Laut China Selatan, persaingan ekonomi, dan gangguan rantai pasok global adalah ujian nyata bagi solidaritas ASEAN.

Teguh menilai Prabowo memahami dinamika itu dengan baik.  “Presiden Prabowo tidak hanya bicara tentang stabilitas, tetapi juga tentang tanggung jawab kolektif. Itu poin yang saya kira sering terlewat. Seakan-akan setiap anggota ASEAN harus bertarung sendiri dengan dinamika domestik yang mereka miliki. Padahal, ASEAN lahir dari rahim solidaritas” urai mantan Wakil Presiden Confederation of ASEAN Journalists (CAJ).

Ia mengingatkan bahwa stabilitas kawasan tidak bisa dibangun di atas perbedaan yang dipertajam. “Kalau setiap negara ASEAN menarik ke arah kepentingannya sendiri-sendiri, maka ASEAN akan rapuh. Persatuan adalah syarat mutlak,” ujar Teguh.

Dalam pandangannya, kerja sama ekonomi dan politik ASEAN harus diperkuat tanpa harus meniru blok-blok kekuatan lain. “Kita punya cara ASEAN sendiri. Itu yang disebut ASEAN way yang intinya pada dialog, konsensus, dan pilihan untuk saling menghormati," kata Teguh lagi.

Pada bagian lain dia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan Indonesia dalam konteks ini. Sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia punya peran kunci untuk menjaga agar konsensus tetap hidup. 

“Pidato Prabowo di Cebu menunjukkan arah itu,” katanya sambil berharap pernyataan tersebut tidak berhenti sebagai wacana. 

“Sekarang tantangannya adalah implementasi. ASEAN perlu menerjemahkan semangat persatuan itu ke dalam kebijakan konkret," ujar Teguh.

Menutup komentarnya, Teguh menegaskan kembali posisi ASEAN sebagai penentu nasib kawasan. 

“Kalau kita tidak berani menentukan masa depan kita, orang lain yang akan menentukannya untuk kita. Itu sudah sering kita saksikan, dan karenanya pantas menjadi  pelajaran sejarah yang tidak boleh kita ulangi,” demikian Teguh.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Dilema Kelas Menengah dan Bawah di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:31

Lewat Surat Terbuka, Forum Guru Besar Indonesia Desak Gibran Mundur dari Wapres!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:20

Prabowo Berbelasungkawa atas Wafatnya Jenderal TNI Purn Subagyo

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:17

Harga Emas Antam Ambruk, Termurah Dijual Rp1,33 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:13

Sempat Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Mode Korut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:03

Muslim Arbi Apresiasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Swasembada Beras Jadi Prestasi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:59

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Rupiah Bergerak ke Rp18.023 per Dolar AS

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49

Komisi II DPR Desak HGU Perusahaan Pembakar Hutan Dicabut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44

BEI Pastikan Saham HSC Tetap Diperdagangkan, Hanya Dicoret dari Hitungan IHSG

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:40

IHSG Dibuka Merah, Dua Menit Perdagangan Langsung Lompat 1,8 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:22

Selengkapnya