Berita

Pelapor Ketua PN Sumedang ke KPK. (Foto: RMOL/Jamaludin Akmal)

Hukum

Ketua PN Sumedang Dilaporkan ke KPK

Diduga Cairkan Uang Konsinyasi Rp190 M ke Terpidana Mafia Tanah
KAMIS, 07 MEI 2026 | 19:40 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Ahli waris lahan proyek Tol Cisumdawu melaporkan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Sumedang beserta sejumlah pejabat pengadilan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pencairan uang konsinyasi senilai Rp190 miliar yang diduga diberikan kepada terpidana kasus korupsi dan mafia tanah.

Ahli waris, Ronni Riswara mengatakan, pihaknya mempertanyakan progres laporan dugaan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan Ketua PN Sumedang, Ketua Panitera, hingga Panitera Muda (Panmud) terkait pencairan dana konsinyasi tersebut.

"Sekarang saya mau mempertanyakan terkait progres dari pelaporan kita, dan ini patut diduga adanya penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh pihak Pengadilan Negeri Sumedang," kata Ronni kepada wartawan di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada Kav 4, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Mei 2026.


Ronni menjelaskan, pihaknya merupakan ahli waris yang lebih dulu memenangkan perkara dan telah memperoleh putusan berkekuatan hukum tetap atau inkracht melalui putusan Kasasi nomor 2260/2023.

Ia menerangkan, setelah putusan inkracht tersebut, PN Sumedang sempat mengeluarkan sembilan penetapan dan sembilan cek untuk pencairan dana konsinyasi kepada pihak ahli waris. 

Namun proses pencairan tertunda setelah muncul perkara pidana korupsi yang menjerat Direktur PT Priwista Raya, Haji Dadan Setiadi Megantara.

Ronni mengungkapkan, Haji Dadan kemudian terseret kasus tindak pidana korupsi terkait dugaan markup nilai ganti rugi lahan Tol Cisumdawu seluas sekitar enam hektare.

Dalam perkara tersebut, kata Ronni, Haji Dadan telah divonis 4 tahun 8 bulan penjara oleh Pengadilan Tipikor Bandung. Selain itu, mantan Kepala Desa Cilayung bernama Uyun serta dua pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) juga ikut menjadi terpidana.

"Nah ini membuktikan bahwa betul PT Priwista Raya atau Haji Dadan ini mempunyai dua SHGB, betul. Itu SHGB-nya produk BPN," kata Ronni.

Namun, lanjut dia, penerbitan SHGB tersebut diduga bermasalah karena didasarkan pada dokumen dan warkah palsu yang dibuat mantan kepala desa yang saat itu sudah tidak lagi menjabat.

"Terungkap di fakta Pengadilan Tipikor bahwa Uyun sebagai kepala desa saat membuat warkah itu sudah tidak menjabat sebagai kepala desa. Berarti dia tidak punya kapasitas untuk membuat warkah tersebut," tegasnya.

Ronni juga menyoroti adanya dugaan manipulasi data administrasi tanah. Salah satunya terkait sporadik yang mencantumkan riwayat tanah dari Desa Cilayung pada tahun 1980, padahal desa tersebut baru berdiri pada 1984.

Ia menyebut, fakta persidangan Tipikor Bandung mengungkap adanya manipulasi yang dilakukan secara bersama-sama oleh Haji Dadan dan pihak lain berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan Polda Jawa Barat.

Ronni turut mengapresiasi langkah Direktorat Intelkam Polda Jabar yang sebelumnya melakukan penyelidikan terhadap dugaan mafia tanah di proyek Tol Cisumdawu.

"Dan hasilnya, Haji Dadan atau PT Priwista Raya ini dikategorikan sebagai kelompok mafia tanah yang bekerja sama dengan lembaga terkait, artinya Desa, BPN, gitu. Termasuk dibackup dengan oknum peradilan," ucapnya.

Menurut Ronni, pencairan dana konsinyasi Rp190 miliar itu dilakukan saat proses Peninjauan Kembali kedua (PK2) yang diajukannya masih berlangsung di Mahkamah Agung (MA).

"Saya mengajukan permohonan PK2 itu per tanggal 31 Desember 2025. Sementara uang dicairkan tanggal 10 Maret 2026. Artinya di situ mutlak masih ada proses hukum," sambung Ronni.

Ia menambahkan, sembilan penetapan dan sembilan cek yang sebelumnya diterbitkan untuk pihak ahli waris juga tidak pernah dibatalkan ataupun ditarik kembali oleh pengadilan.

Populer

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

UPDATE

Program Kurban Presiden dari APBN Punya Dampak Sosial dan Ekonomi

Kamis, 28 Mei 2026 | 10:20

Isu Penutupan Gerai Alfamart-Indomaret Tak Terkait dengan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 10:11

Belum Hari Kemerdekaan, Rupiah Sudah di Atas Rp17.845 per Dolar AS

Kamis, 28 Mei 2026 | 10:10

Bantuan Kurban Presiden dari APBN Lebih Tepat Disebut Program Sosial

Kamis, 28 Mei 2026 | 10:06

Guru Berhak Dapat Kehidupan Layak Sesuai Pasal 27 UUD 1945

Kamis, 28 Mei 2026 | 10:02

Iduladha di KBRI Madrid Jadi Obat Rindu Diaspora pada Masakan Indonesia

Kamis, 28 Mei 2026 | 09:57

Pimpin Kurban Presiden dan Wapres di Istiqlal, Nasaruddin Umar: InsyaAllah Aman dan Sesuai Syariat

Kamis, 28 Mei 2026 | 09:48

Harga Emas Antam Ambruk Rp31.000, Turun ke Rp2,75 Juta per Gram

Kamis, 28 Mei 2026 | 09:40

Tak Boleh Asal Sembelih, Ini Standar Kurban Ketat di Istiqlal

Kamis, 28 Mei 2026 | 09:26

Pemerintah Kejar Net Zero Emission Lewat Proyek Panas Bumi

Kamis, 28 Mei 2026 | 09:23

Selengkapnya