Berita

Ilustrasi

Tekno

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

KAMIS, 07 MEI 2026 | 13:13 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

Lanskap komunikasi digital dan media massa tengah mengalami pergeseran yang sangat radikal. Ruang redaksi konvensional kini tak lagi memonopoli arus informasi publik.

Saat ini, kita telah memasuki era homeless media, yakni sebuah ekosistem distribusi informasi yang lahir dan membesar di berbagai platform digital tanpa terikat pada institusi media resmi mana pun.

Istilah ini mengemuka melalui riset kolaborasi antara Remotivi dan Internews pada 2024. Berbeda dengan media arus utama yang patuh pada etika jurnalistik, mekanisme koreksi, dan struktur editorial, homeless media bergerak secara liar mengikuti logika keterlibatan (engagement), bukan verifikasi.


Di ruang maya yang serba cair ini, siapa pun memiliki kekuatan penuh untuk menjadi produsen narasi, sehingga tidak ada satu otoritas pun yang benar-benar memegang kendali atas kebenaran.

Fenomena ini sontak mengubah peta permainan bagi para praktisi komunikasi dan Hubungan Masyarakat (Humas). Ancaman krisis reputasi bagi sebuah jenama (brand) atau organisasi tak lagi diawali oleh tajamnya liputan investigasi media cetak maupun televisi.

Badai krisis kini justru meletup dari narasi kecil yang beredar di grup WhatsApp, utas akun anonim, saluran Telegram, atau dari potongan video pendek yang sengaja dilepaskan dari konteks aslinya.

Dalam menghadapi situasi krisis tersebut, strategi penanganan media (media handling) tradisional—seperti penyebaran siaran pers resmi atau menggelar konferensi pers—menjadi semakin tidak memadai.

Merespons gejolak di ruang homeless media dengan klarifikasi bahasa institusional yang kaku justru sering kali menjadi bumerang bagi perusahaan.

Di mata publik yang digerakkan oleh logika percakapan dan afeksi, respons formal tersebut justru dibaca sebagai sikap menjaga jarak, bentuk pembelaan diri yang arogan, atau bahkan ketidakjujuran.

Krisis di era homeless media pada dasarnya bukanlah krisis informasi semata, melainkan sebuah krisis kepercayaan dan makna.

Oleh karena itu, para praktisi tidak lagi hanya memikirkan "apa yang harus dikatakan kepada redaksi", tetapi harus memutar otak tentang bagaimana cara sebuah organisasi bisa hadir dan beresonansi di ruang maya tak beralamat ini.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya