Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Harga minyak dunia anjlok tajam setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan damai awal.
Harapan meredanya konflik di Timur Tengah membuat pasar mulai memperkirakan pasokan minyak global bisa kembali lancar, terutama melalui Selat Hormuz yang selama ini terganggu akibat perang.
Dikutip dari Reuters, Kamis 7 Mei 2026, harga minyak mentah Brent turun 8,60 Dolar AS atau 7,83 persen ke level 101,27 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 7,19 Dolar AS atau 7,03 persen menjadi 95,08 Dolar AS per barel.
Penurunan harga terjadi setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran hampir menyepakati nota kesepahaman awal. Pakistan disebut menjadi mediator dalam pembicaraan tersebut. Pemerintah Iran juga mengonfirmasi sedang meninjau proposal terbaru dari AS dan akan segera memberikan tanggapan melalui Pakistan.
Media AS, Axios, melaporkan bahwa pemerintah AS menunggu jawaban Iran terhadap sejumlah poin penting dalam waktu 48 jam ke depan. Seorang sumber menyebut situasi ini menjadi titik terdekat kedua negara menuju kesepakatan sejak perang pecah.
“Ada peningkatan keyakinan bahwa peluang Selat Hormuz dibuka kembali lebih besar,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
Selama perang berlangsung sejak Februari, gangguan pelayaran di Selat Hormuz membuat pasokan minyak global terganggu dan mendorong lonjakan harga energi dunia. Brent bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak Maret 2022 pada pekan lalu.
Kepala analis minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, mengatakan bahkan kemungkinan tercapainya kesepakatan saja sudah cukup untuk menekan harga minyak. Namun ia mengingatkan pemulihan arus pasokan global tidak akan terjadi secara instan karena pasar pelayaran membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan minggu untuk kembali normal.
Sementara itu, data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika kembali turun pekan lalu sebesar 2,3 juta barel menjadi 457,2 juta barel. Penurunan stok ini menunjukkan banyak negara masih berupaya menutup kekurangan pasokan akibat konflik Timur Tengah.