Berita

Dewan Pertahanan Nasional (DPN). (Foto: Dok. DPN)

Politik

Gian Kasogi:

Ketertutupan DPN Dikhawatirkan Bisa Mengancam Demokrasi

RABU, 06 MEI 2026 | 21:43 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Proses pengambilan keputusan di sektor pertahanan, khususnya di Dewan Pertahanan Nasional (DPN) dinilai minim transparansi.

Peneliti kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan, Gian Kasogi mengatakan, ketertutupan ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan demokrasi Indonesia.

“Kami khawatir konsentrasi kekuasaan yang tidak transparan di sektor pertahanan bisa menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan demokrasi Indonesia,” ujar Gian dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 6 Mei 2026.


Ia menyebut sejatinya DPN dibentuk sebagai instrumen strategis untuk memperkuat koordinasi antar-lembaga negara dalam merumuskan kebijakan pertahanan, meningkatkan kesiapsiagaan nasional, serta menjadi forum deliberatif bagi pengambil keputusan di bidang keamanan.

“Dengan kata lain, DPN dirancang sebagai instrumen tata kelola yang memperkuat, bukan melemahkan, sistem checks and balances dalam negara demokratis. Namun, kenyataan yang berkembang menunjukkan arah yang berlawanan,” tegasnya.

Namun dalam praktiknya, Gian menilai DPN cenderung bergeser menjadi wadah konsentrasi kekuasaan yang berjalan tertutup dan minim pengawasan publik.

Ia mengingatkan, ketertutupan dalam pengambilan keputusan sektor pertahanan bukan sekadar persoalan administratif, melainkan menyentuh aspek fundamental demokrasi.

“Sesuatu yang berbahaya bagi demokrasi kalau konsentrasi kekuasaan dan pengambilan keputusan di sektor pertahanan berlangsung secara tertutup karena hal itu dapat melahirkan ancaman bagi demokrasi itu sendiri,” jelasnya.

Gian menegaskan, meski sektor pertahanan memiliki dimensi kerahasiaan, tetap harus berada dalam koridor akuntabilitas demokratis, termasuk melalui kontrol sipil terhadap militer.

Tanpa transparansi, keputusan strategis seperti alokasi anggaran pertahanan, pengerahan kekuatan, hingga penentuan doktrin keamanan berpotensi membuka ruang penyimpangan.

“Ketika keputusan-keputusan besar dibuat tanpa transparansi, maka ruang untuk korupsi, penyimpangan, dan penyalahgunaan kekuasaan menjadi semakin terbuka lebar,” pungkasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya