Berita

Program Doom Tra Kosong di Pulau Doom, Papua Barat Daya. (Foto: RMOLJateng)

Nusantara

Doom Tra Kosong, Pemberontakan Literasi dari Pulau Doom

RABU, 06 MEI 2026 | 13:23 WIB

Doom Tra Kosong bukan sekadar pembelajaran bahasa Inggris. Program yang memiliki arti Doom tidak kosong adalah sebuah gerakan literasi untuk menunjukkan warga Pulau Doom otaknya tak kosong.

Pulau Doom di Sorong membuktikan, jarak geografis bukan penghalang bagi kemajuan literasi. Pada Senin, 4 Mei 2026, program Doom Tra Kosong memasuki hari kedua. Program literasi dengan antusiasme yang luar biasa.

Program Doom Tra Kosong adalah manifestasi perlawanan terhadap keterbatasan akses pendidikan di wilayah kepulauan.


Secara harfiah, tajuk ini menegaskan bahwa anak-anak Pulau Doom memiliki kapasitas intelektual yang "berisi" dan siap mendunia melalui penguasaan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional.

Dengan mengubah ruang-ruang sekolah dan gedung gereja menjadi laboratorium bahasa yang dinamis, inisiatif ini berupaya mematahkan stigma isolasi geografis. Program ini juga membuktikan bahwa dari sebuah pulau kecil di Sorong, Papua dapat lahir generasi yang fasih bertutur kata sekaligus berdaulat secara mental.

Ruang kelas di SD Misi Stella Maris, SMA Negeri 4, SMP YPK, hingga Gedung Sekolah Minggu Noach dipenuhi warga dengan antusiasme tinggi. Ratusan peserta dari jenjang sekolah dasar hingga dewasa memenuhi puluhan ruang kelas sejak pagi hingga sore hari.

Dalam kegiatannya, para pengajar menggunakan metode praktis agar materi mudah diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Suasana belajar berlangsung interaktif tanpa kaku.

Program ini lahir dari kolaborasi Yayasan Pulau Doom Papua, Indonesia Brain Camp, Rylich Panorama Hotel, dan BPD HIPMI Papua Barat Daya. Fokus utamanya adalah membangun kepercayaan diri generasi muda dalam menghadapi tantangan global.

Secara historis, Pulau Doom memiliki posisi unik di Papua Barat Daya. Luasnya hanya sekitar 5 kilometer persegi. Pulau ini dulunya adalah pusat pemerintahan Belanda di wilayah Sorong pada masa kolonial.

Sisa-sisa arsitektur Eropa masih terlihat di jalanan pulau yang tertata rapi. Namun saat ini akses utama berada di daratan Sorong. Meski demikian semangat pendidikan di pulau yang bisa dikelilingi dalam waktu 45 menit ini tetap terjaga kuat.

Inisiator program, Engelin Yolanda Kardinal, merasa bersyukur atas kelancaran kegiatan tersebut. Menurutnya keberhasilan program ini karena dukungan banyak pihak.

Engelin mengapresiasi peran kepala sekolah, guru, tokoh gereja, serta tim dari Indonesia Brain Camp. Ia juga memuji kerja keras Melkianus Muay selaku ketua pelaksana di lapangan.

“Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, kegiatan ini berjalan lancar dan penuh berkah. Semua ini berkat dukungan luar biasa dari banyak pihak,” kata Engelin.

Ditambahkan bahwa gerakan Doom Tra Kosong adalah investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia di pulau tersebut. Pendidikan menjadi kunci utama untuk mengembalikan kejayaan Pulau Doom sebagai pusat peradaban.

"Pelatihan bahasa Inggris ini semoga bisa jadi bekal nyata bagi anak-anak. Ini adalah langkah awal, tapi kami yakin ini akan menjadi fondasi kuat bagi masa depan anak-anak Pulau Doom,” kata Engelin.

Program Doom Tra Kosong adalah perjuangan. Puisi Rendra menyebut bahwa perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Paulo Freire berkata bahwa pendidikan sejati bukanlah proses mengisi wadah kosong, melainkan upaya memanusiakan manusia.

Program Doom Tra Kosong adalah pelaksanaan kata-kata Freire. Belajar bahasa asing bukan sekadar menghafal kosakata asing. Ini sebuah cara memperluas cakrawala dunia mereka sendiri.

Di balik tembok-tembok kelas yang sederhana, sedang terjadi sebuah pembebasan mental di mana setiap anak mulai menyadari potensi besar yang tersembunyi.

Sebab hakikatnya pendidikan di pulau kecil pelosok Nusantara adalah tentang menumbuhkan martabat manusia. Agar warganya tidak hanya menjadi penonton perubahan, melainkan subjek yang berdaulat atas masa depan mereka sendiri.

Edhie Prayitno Ige
Wakil Pemimpin Redaksi Kantor Berita RMOLJateng

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya