Ilustrasi Tikus Penyebab Virus Hanta (Sumber: Gemini Generated Image)
Tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik meninggal dunia akibat virus hanta. Wabah yang melanda kapal pesiar tersebut menyebabkan kematian sepasang suami istri asal Belanda berusia 69 dan 70 tahun, serta satu penumpang lainnya.
Selain korban jiwa, beberapa orang lainnya juga dilaporkan jatuh sakit dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit Afrika Selatan. Kasus ini menjadi sorotan serius Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pihak berwenang saat ini tengah melakukan investigasi epidemiologi serta pengurutan genetik virus untuk melacak sumber wabah. WHO memperingatkan bahwa dalam situasi tertentu, virus ini memiliki potensi untuk menyebar antarmanusia.
Apa Itu Virus HantaVirus hanta bukanlah jenis virus baru. Menurut catatan, virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1970-an di kawasan Sungai Hantan, Korea Selatan.
Virus ini utamanya hidup pada hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Manusia biasanya terinfeksi melalui kontak langsung dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus tersebut.
Namun, cara penularan yang paling berbahaya adalah melalui udara (airborne). Hal ini bisa terjadi saat kotoran atau urine tikus yang sudah kering terhirup oleh manusia dalam bentuk partikel debu halus, misalnya saat seseorang sedang membersihkan area yang menjadi sarang tikus tanpa perlindungan masker.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat bahwa penyakit ini sering kali dimulai dengan tanda-tanda berikut dalam kurun waktu satu hingga delapan minggu setelah terpapar:
- Rasa lelah yang amat sangat
- Demam tinggi dan sakit kepala
- Nyeri otot di bagian punggung, paha, dan bahu
Gejala ini sering kali membuat pasien merasa hanya terkena flu biasa, sehingga diagnosis dalam 72 jam pertama sulit dipastikan. Namun, kondisi bisa memburuk secara drastis dalam 4 hingga 10 hari kemudian.
Penderita akan mulai mengalami batuk hebat dan sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, yakni mencapai sekitar 40 persen.
Belum ditemukan obat atau terapi khusus untuk menyembuhkan infeksi virus hanta secara instan hingga saat ini. Perawatan medis biasanya bersifat pendukung, seperti pemberian cairan dan bantuan alat pernapasan atau ventilator di rumah sakit.
Oleh karena itu, tindakan pencegahan menjadi faktor yang paling krusial. Berdasarkan rekomendasi ahli, berikut adalah beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan:
- Memastikan lingkungan tempat tinggal atau penginapan bersih dari keberadaan tikus.
- Menghindari menyapu kotoran tikus yang sudah kering secara langsung; sebaiknya gunakan disinfektan terlebih dahulu untuk membasahi area agar partikel virus tidak terbang ke udara.
- Segera mencari bantuan medis jika merasakan sesak napas setelah sempat berada di area yang banyak terdapat hewan pengerat.