Berita

Ilustrasi Tikus Penyebab Virus Hanta (Sumber: Gemini Generated Image)

Kesehatan

Apa Itu Virus Hanta? Kenali Gejala dan Cara Mencegah Infeksinya

SENIN, 04 MEI 2026 | 18:19 WIB | OLEH: TIFANI

Tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik meninggal dunia akibat virus hanta. Wabah yang melanda kapal pesiar tersebut menyebabkan kematian sepasang suami istri asal Belanda berusia 69 dan 70 tahun, serta satu penumpang lainnya.

Selain korban jiwa, beberapa orang lainnya juga dilaporkan jatuh sakit dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit Afrika Selatan. Kasus ini menjadi sorotan serius Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Pihak berwenang saat ini tengah melakukan investigasi epidemiologi serta pengurutan genetik virus untuk melacak sumber wabah. WHO memperingatkan bahwa dalam situasi tertentu, virus ini memiliki potensi untuk menyebar antarmanusia.


Apa Itu Virus Hanta

Virus hanta bukanlah jenis virus baru. Menurut catatan, virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1970-an di kawasan Sungai Hantan, Korea Selatan.

Virus ini utamanya hidup pada hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Manusia biasanya terinfeksi melalui kontak langsung dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus tersebut.

Namun, cara penularan yang paling berbahaya adalah melalui udara (airborne). Hal ini bisa terjadi saat kotoran atau urine tikus yang sudah kering terhirup oleh manusia dalam bentuk partikel debu halus, misalnya saat seseorang sedang membersihkan area yang menjadi sarang tikus tanpa perlindungan masker.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat bahwa penyakit ini sering kali dimulai dengan tanda-tanda berikut dalam kurun waktu satu hingga delapan minggu setelah terpapar: Gejala ini sering kali membuat pasien merasa hanya terkena flu biasa, sehingga diagnosis dalam 72 jam pertama sulit dipastikan. Namun, kondisi bisa memburuk secara drastis dalam 4 hingga 10 hari kemudian.

Penderita akan mulai mengalami batuk hebat dan sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, yakni mencapai sekitar 40 persen.

Belum ditemukan obat atau terapi khusus untuk menyembuhkan infeksi virus hanta secara instan hingga saat ini. Perawatan medis biasanya bersifat pendukung, seperti pemberian cairan dan bantuan alat pernapasan atau ventilator di rumah sakit. 

Oleh karena itu, tindakan pencegahan menjadi faktor yang paling krusial. Berdasarkan rekomendasi ahli, berikut adalah beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan:

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Tanpa Rompi dan Borgol Saat Ditahan, DPP IMM Minta Kejagung Tak Istimewakan Febrie

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:43

Belum Sebulan IPO, Direktur RANS Tiba-tiba Mundur

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:30

Revitalisasi Pengurus AMPI Perkuat Konsolidasi Organisasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:26

Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong, KPK Geledah Kediaman Kadis PUPR Bengkulu

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:09

Zulhas: Swasembada Pangan Bukan Sekadar Ekonomi, tapi Kehormatan Bangsa

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:07

PDIP Jatim Hadirkan RedTalks, Wadah Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:54

Sekolah Nasional Terintegrasi: Resep Medis Kuratif Pendidikan dan Kesehatan Anak

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:39

Tak Pakai Borgol dan Rompi, PB PMII: Febrie Adriansyah Cetak Sejarah

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:35

TB Hasanuddin: Jangan Akali Putusan MK dengan Bebani Pelanggan

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:59

Lodewijk: Ancaman Indonesia Kini Bukan Hanya Perang, tapi Ekonomi hingga Iklim

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:49

Selengkapnya