Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Organisasi negara pengekspor minyak dan sekutunya, OPEC+, sepakat meningkatkan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari untuk Juni 2026.
Keputusan ini menjadi yang pertama sejak keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari kelompok tersebut, yang selama ini dikenal sebagai salah satu anggota berpengaruh.
Kenaikan produksi ini sedikit lebih rendah dibandingkan peningkatan bulan sebelumnya yang mencapai 206.000 barel per hari. Langkah ini diambil oleh tujuh negara utama, termasuk Arab Saudi dan Rusia, sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasar energi global.
Dalam pernyataan resminya, OPEC menegaskan komitmen kolektif mereka terhadap stabilitas pasar.
“Dalam komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188 ribu barel per hari,” demikian bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari CNBC International, Senin 4 Mei 2026.
Di sisi lain, pasokan minyak dunia masih tertekan akibat konflik yang melibatkan Iran sejak akhir Februari 2026. Ketegangan ini berdampak pada terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling penting di dunia.
Meski begitu, harga minyak sempat turun setelah muncul kabar Iran mengajukan proposal perdamaian baru. Minyak mentah AS ditutup turun sekitar 3 persen ke level 101,94 Dolar AS per barel, sementara minyak Brent turun hampir 2 persen ke 108,17 Dolar AS per barel, meskipun secara keseluruhan harga masih melonjak sekitar 78 persen sejak awal tahun.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya telah menerima konsep kesepakatan dari Iran, namun masih menunggu rincian lebih lanjut. Ia juga memperingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka jika Iran tidak menunjukkan sikap yang diharapkan.
Keluarnya UEA dari OPEC disebut sebagai hasil evaluasi kebijakan energi nasionalnya. Keputusan ini menandai perubahan besar dalam dinamika kartel minyak global, mengingat peran penting UEA selama hampir enam dekade dalam menentukan arah kebijakan produksi minyak dunia.