Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

SENIN, 04 MEI 2026 | 14:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Organisasi negara pengekspor minyak dan sekutunya, OPEC+, sepakat meningkatkan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari untuk Juni 2026. 

Keputusan ini menjadi yang pertama sejak keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari kelompok tersebut, yang selama ini dikenal sebagai salah satu anggota berpengaruh.

Kenaikan produksi ini sedikit lebih rendah dibandingkan peningkatan bulan sebelumnya yang mencapai 206.000 barel per hari. Langkah ini diambil oleh tujuh negara utama, termasuk Arab Saudi dan Rusia, sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasar energi global.


Dalam pernyataan resminya, OPEC menegaskan komitmen kolektif mereka terhadap stabilitas pasar.

“Dalam komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188 ribu barel per hari,” demikian bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari CNBC International, Senin 4 Mei 2026.

Di sisi lain, pasokan minyak dunia masih tertekan akibat konflik yang melibatkan Iran sejak akhir Februari 2026. Ketegangan ini berdampak pada terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling penting di dunia.

Meski begitu, harga minyak sempat turun setelah muncul kabar Iran mengajukan proposal perdamaian baru. Minyak mentah AS ditutup turun sekitar 3 persen ke level 101,94 Dolar AS per barel, sementara minyak Brent turun hampir 2 persen ke 108,17 Dolar AS per barel, meskipun secara keseluruhan harga masih melonjak sekitar 78 persen sejak awal tahun.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya telah menerima konsep kesepakatan dari Iran, namun masih menunggu rincian lebih lanjut. Ia juga memperingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka jika Iran tidak menunjukkan sikap yang diharapkan.

Keluarnya UEA dari OPEC disebut sebagai hasil evaluasi kebijakan energi nasionalnya. Keputusan ini menandai perubahan besar dalam dinamika kartel minyak global, mengingat peran penting UEA selama hampir enam dekade dalam menentukan arah kebijakan produksi minyak dunia.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya