Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Indeks FTSE 100 Inggris menutup sesi perdagangan perdana di bulan Mei 2026 dengan pergerakan stagnan di level 10.380 poin.
Di saat mayoritas bursa Eropa (seperti Frankfurt dan Paris) tutup memperingati Hari Buruh, pasar Inggris tetap aktif namun bergerak dalam rentang konsolidasi yang sempit.
Investor saat ini sedang menyeimbangkan kinerja korporasi yang solid dengan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Dikutip dari
Trading Economics, sektor perbankan melemah. Saham NatWest merosot 3,5 persen dan menjadi beban utama indeks, pada penutupan Jumat 1 Mei 2026 waktu setempat.
Meskipun mencatatkan laba operasional pra-pajak kuartal pertama sebesar 2,03 miliar Euro, atau melampaui ekspektasi pasar, investor bereaksi negatif terhadap peringatan manajemen mengenai risiko ekonomi global akibat eskalasi konflik Iran.
Sektor Energi juga melemah. Hal ini karena harga minyak dunia mengalami koreksi setelah munculnya laporan mengenai proposal diplomatik baru dari Iran kepada AS. Saham BP turun 1,9 persen dan Shell turun 0,9 persen.
Fokus pasar tertuju pada Selat Hormuz yang masih ditutup, yang terus menjadi titik nadi ketegangan pasokan energi global.
Karena bursa utama Eropa lainnya tutup pada 1 Mei, volume perdagangan di FTSE 100 cenderung lebih tipis dari biasanya. Hal ini sering kali menyebabkan volatilitas yang lebih tinggi atau justru pergerakan yang sangat terbatas (sideways).
Pasar mulai memperhitungkan jeda (pause) dalam siklus kenaikan suku bunga Bank of England (BoE). Data inflasi Inggris yang mulai melandai memberikan ruang bagi investor untuk berharap bahwa suku bunga tidak akan naik lebih jauh lagi di tahun 2026.
Meskipun bursa London buka pada Jumat, 1 Mei 2026, pasar Inggris akan tutup sepenuhnya pada hari Senin 4 Mei 2026 untuk merayakan libur musim semi mereka pada hari Senin pertama di bulan Mei atau perayaan Early May Bank Holiday.