Berita

Kendaraan taksi Green SM yang terlibat kecelakaan dengan Kereta Rel Listrik (KRL) pada Selasa malam, 27 April 2026. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Publika

Taksi Asal Vietnam Mogok Sebabkan Belasan Orang Meninggal Dunia

SELASA, 28 APRIL 2026 | 15:51 WIB

CUKUP sudah basa-basi. Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini tamparan keras untuk logika kita yang entah ditaruh di mana. 

Banyak yang bertanya mobil apa yang mogok di rel hingga memicu maut di Bekasi Timur malam itu. Jawabannya jelas, VinFast VF e34. Mobil listrik asal Vietnam yang dielu-elukan sebagai simbol masa depan, tapi justru mempermalukan akal sehat di saat paling krusial.

Dengan baterai Lithium Ferro-Phosphate 41,9 kWh yang di atas kertas sanggup 277–318 km, mobil ini mendadak tak lebih dari besi mati di dunia nyata. 


Lokasinya bukan di parkiran, bukan di bengkel, tapi di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur, KM 28+920, sekitar pukul 20.52–20.57 WIB, 27 April 2026. 

Taksi listrik pelat B 2864 SBX itu mogok total. Sistem kelistrikan error, roda terkunci, dan ironisnya, tidak bisa didorong manual seperti mobil konvensional. 

Sopirnya selamat. Tapi ratusan penumpang KRL yang cuma ingin pulang kerja? Mereka dijadikan taruhan.

Lalu datang KA Argo Bromo Anggrek dari arah Gambir. Tidak ada ruang kompromi. Tidak ada waktu negosiasi. Hantaman brutal menghajar belakang KRL Commuter Line PLB 5568A. 

Lokomotif itu menembus masuk ke gerbong belakang, gerbong wanita, menghancurkan badan kereta seperti kaleng diinjak raksasa. Ini bukan metafora lebay, ini kenyataan yang menjijikkan.

Hasilnya? Gerbong ringsek. Besi melengkung seperti lilin panas. Jeritan manusia bersahutan dengan suara logam patah. 

Darah mengalir di malam Bekasi yang seharusnya biasa saja. Jumlah korban tewas naik-turun seperti angka mainan: 2, 3, 4, hingga kabar beredar mencapai 15 orang meninggal dunia. 

Semuanya penumpang KRL. Semuanya rakyat biasa. Korban luka-luka dievakuasi ke berbagai rumah sakit seperti RSUD Bekasi, Primaya Hospital Bekasi, Mitra Plumbon Hospital, dan RS Bella. Sementara penumpang Argo Bromo Anggrek? Selamat tanpa goresan. Luar biasa “adil”, bukan?

Sekarang kita bicara fakta yang lebih memuakkan. Mobil sepanjang 4.300 mm, lebar 1.768 mm, tinggi 1.615 mm, wheelbase 2.611 mm, ground clearance 165–180 mm, tenaga 110–149 hp, torsi 242 Nm, semua angka ini terdengar gagah. 

Tapi apa gunanya spesifikasi kalau di momen genting malah jadi batu nisan berjalan? Katanya ramah lingkungan, nyatanya ramah tragedi. Sistemnya canggih? Canggih bagaimana kalau mogok saja langsung mengunci roda dan jadi jebakan maut?

Ini bukan sekadar kegagalan teknis. Ini kegagalan berpikir. Kita terlalu cepat jatuh cinta pada label “listrik”, “hijau”, “masa depan”, tanpa bertanya, siap atau tidak teknologi ini di lapangan? 

Perlintasan sebidang itu sudah lama jadi jebakan. Ditambah kendaraan yang tidak bisa ditangani secara darurat, hasilnya ya seperti ini, maut yang sebenarnya bisa dicegah.

Lebih menyakitkan lagi, yang jadi korban adalah mereka yang tidak punya pilihan. Penumpang KRL. Rakyat pekerja. Orang-orang yang setiap hari berjibaku demi hidup. 

Sementara sistem sibuk beres-beres setelah tragedi, evakuasi alat berat sampai dini hari, jalur Bekasi–Cikarang lumpuh, perjalanan terganggu, ribuan orang lain terlantar. Setelah itu? Pernyataan resmi, janji investigasi, lalu pelan-pelan dilupakan.

Sopir selamat. Perusahaan akan “kooperatif”. Produsen tetap jualan. Siklusnya begitu terus. Yang mati? Statistik.

Kita tahu ini bukan takdir, ini kelalaian yang dibiarkan. Ini keputusan yang sembrono. Ini sistem yang gagal melindungi.

Jangan lagi kita pura-pura kaget kalau kejadian seperti ini terulang. Kalau masih terus memuja teknologi tanpa kesiapan, kalau masih membiarkan perlintasan sebidang jadi perangkap, kalau masih menganggap nyawa manusia sebagai angka, maka tragedi berikutnya tinggal tunggu waktu.

Ini bukan saatnya diam. Ini saatnya marah, dengan kepala dingin, tapi sikap tegas. Karena kalau tidak, kita semua cuma menunggu giliran.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya