Berita

Jemaah haji di Mina. (Foto: Istimewa)

Publika

Mempertegas Haji Mabrur dan Kepedulian Sosial

SELASA, 28 APRIL 2026 | 12:38 WIB

IBADAH dalam Islam selalu saja mendapat tempat istimewa dalam kosakata kepedulian sosial sehingga akan terasa hidup di setiap jengkal kehidupan.

Dalam ilmu fikih dikenal istilah hikmah at-tasyri’, yakni upaya memahami hikmah di balik suatu ibadah. 

Pemahaman ini tidak kalah penting dari pelaksanaan ibadah itu sendiri, karena dari sanalah nilai-nilai agama menemukan relevansinya dalam kehidupan. 


Dalam konteks ini, haji mabrur yang dijelaskan dalam syariat memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepedulian sosial.

Kata mabrur berasal dari kata bir dalam bahasa Arab yang berarti kebaikan. Al-Qur’an memperluas makna kebaikan ini, yakni bahwa kebaikan sejati tidak hanya berhenti pada ibadah ritual, tetapi juga tampak dalam kesediaan menafkahkan harta yang dicintai demi meringankan beban orang lain (QS Ali ‘Imran: 92). 

Islam Rahmat Alam

Dari sini terlihat bahwa dimensi sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep kebaikan dalam Islam.

Jika ditelusuri lebih jauh, ibadah-ibadah pokok dalam rukun Islam juga sarat dengan nilai sosial. Shalat, misalnya, tidak hanya dimaknai sebagai hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga diuji dalam dimensi sosialnya. 

Al-Qur’an bahkan mengecam orang yang shalat tetapi abai terhadap anak yatim dan orang miskin (QS Al-Ma’un: 1–5). Artinya, shalat yang kehilangan kepedulian sosial pada hakikatnya kehilangan makna substansialnya.

Begitu pula puasa, yang secara spiritual melatih seseorang merasakan lapar dan dahaga agar tumbuh empati terhadap penderitaan orang lain (HR Bukhari-Muslim). Sementara zakat secara tegas mengatur distribusi kekayaan dari yang mampu kepada yang membutuhkan (QS At-Taubah: 60). 

Ketiga ibadah ini, pada akhirnya, mengarah pada satu titik yang sama: membangun kesalehan yang tidak hanya individual, tetapi juga sosial.

Dalam konteks inilah ibadah haji menjadi sangat menarik. Spirit komunalitas dalam haji sebenarnya mengandung pesan yang kuat tentang kesetaraan dan solidaritas manusia. 

Namun di sisi lain, realitas sosial sering kali menunjukkan paradoks: meningkatnya jumlah jamaah haji tidak selalu berbanding lurus dengan membaiknya kondisi kemiskinan.

Padahal secara ideal, haji bukan hanya ritual perjalanan spiritual, tetapi juga sarana pembentukan kesadaran sosial. Ia seharusnya menjadi “ruang transformasi” yang menguatkan kepedulian terhadap problem kemiskinan dan ketimpangan. 

Karena itu, mereka yang telah berhaji semestinya tidak berhenti pada status ritual, tetapi menjadikannya sebagai titik balik untuk memperkuat peran sosial di tengah masyarakat.

Mufassir terkemuka M. Quraish Shihab (1992) menjelaskan bahwa ibadah haji sarat dengan simbol-simbol sosial. Pakaian ihram, misalnya, menghapus sekat status sosial dan ekonomi, menyatukan semua manusia dalam kesederhanaan yang sama. 

Bahkan, dalam perspektif Ali Syari’ati (1980), ihram adalah simbol pelepasan identitas-ego yang bersifat hewani menuju kesadaran kemanusiaan yang lebih murni.

Larangan-larangan dalam ihram seperti tidak membunuh, tidak merusak alam, tidak berbuat kekerasan, hingga tidak berhias secara berlebihan, semuanya mengandung pesan pengendalian diri dan penghormatan terhadap kehidupan. Ini menegaskan bahwa haji bukan sekadar ritual fisik, tetapi juga latihan etika dan kemanusiaan.

Manasik Haji Penuh Makna

Rangkaian manasik haji pun sarat makna. Thawaf mengajarkan kesadaran historis tentang perjuangan dan keteguhan iman. Wukuf di Arafah menghadirkan simbol kesetaraan manusia di hadapan Tuhan tanpa perbedaan status apa pun. 

Sementara perjalanan ke Muzdalifah dan Mina, dengan ritual lempar jumrah, menjadi simbol perlawanan terhadap “setan” dalam diri manusia—keserakahan, kezaliman, dan egoisme sosial.
Jika semua makna itu dihayati, haji sesungguhnya adalah proses pembentukan manusia yang lebih peka terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Namun, yang sering terjadi adalah pemisahan antara ritual dan nilai. Haji dipahami sebatas kewajiban formal, sementara pesan sosialnya tidak selalu terinternalisasi. 

Padahal, nilai-nilai haji bisa hidup dalam keseharian siapa pun, bahkan tanpa harus berangkat ke Tanah Suci, selama prinsip kepedulian dan keadilan sosial benar-benar dijalankan.

Dalam konteks ini, ada kisah sufistik yang dikutip oleh Cak Nur (1990) tentang sepasang suami-istri yang hendak berhaji, tetapi memilih memberikan bekal mereka kepada orang yang kelaparan. Mereka kemudian diyakini telah mencapai haji mabrur karena telah menghidupkan nilai paling inti dari ibadah itu, yakni kepedulian terhadap sesama.

Kisah ini bukan untuk menegasikan kewajiban haji, tetapi untuk menegaskan bahwa substansi ibadah jauh lebih luas daripada bentuk formalnya. Haji mabrur pada akhirnya bukan hanya soal perjalanan ke Baitullah, tetapi tentang perubahan sikap dan orientasi hidup menjadi lebih peduli terhadap kemanusiaan.

Dari sini, terlihat bahwa persoalan kemiskinan tidak cukup didekati secara ekonomi semata, tetapi juga melalui transformasi nilai-nilai keagamaan. Islam, sebagaimana dikemukakan Kuntowijoyo (1998), dapat menjadi landasan teosentris-humanisme: beriman kepada Tuhan sekaligus aktif dalam kerja-kerja kemanusiaan.

Dengan demikian, agama tidak berhenti sebagai doktrin spiritual, tetapi menjadi kekuatan sosial yang mendorong keadilan. Kritik terhadap agama yang hanya bersifat dogmatis, sebagaimana disinggung Nietzsche, dapat dijawab dengan menghadirkan agama sebagai energi perubahan sosial.

Pada akhirnya, hikmah ibadah haji terletak pada sejauh mana ia mampu membentuk kesadaran sosial yang nyata. Haji mabrur bukan hanya status spiritual, tetapi juga komitmen untuk menghadirkan keadilan, kepedulian, dan keberpihakan kepada mereka yang lemah.

Jika nilai-nilai itu benar-benar dihidupkan, maka ibadah haji tidak hanya menjadi perjalanan spiritual individu, tetapi juga energi kolektif untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi.

Wallahu muwafiq ila aqwamith thariq.
Muhtar S. Syihabuddin
Pengasuh Pesantren Assalam Plered Purwakarta Jawa Barat dan Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

RUU Perampasan Aset Diusulkan Ganti Nama, Berikut Nomenklaturnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:07

Purbaya Sudah Cairkan Rp20,5 Triliun ke 490 Pemda buat Gaji PPPK

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:52

Koperasi Jadi Kunci Hilirisasi Sawit dan Penguatan Daya Tawar Petani

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:50

Songs for Sumatera-Human Initiative Pulihkan Fasilitas MIN 4 Aceh Tamiang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:38

Subsidi Pertalite Bocor, Kelompok Kaya Masih Nikmati Kucuran Negara

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:32

Pengacara Gus Yaqut Bongkar Duduk Persoalan Pembagian Kuota Haji Tambahan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:16

Usai Bertemu Purbaya, Bahlil Bakal Perketat Orang Kaya yang Pakai Pertalite

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:58

12 Saksi Diperiksa, Sekretaris Kepala BGN Ikut Terseret Kasus MBG

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:46

Rudy Tanoe Irit Bicara soal Korupsi Penyaluran Bansos Usai Diperiksa KPK 4,5 Jam

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:42

Selengkapnya