Berita

Peta Pulau Papua. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Menyusuri Jejak Papua dalam Peradaban Maritim Nusantara

SELASA, 28 APRIL 2026 | 03:43 WIB

PAPUA kerap dipandang sebagai wilayah paling timur Indonesia yang secara geografis terasa jauh dari pusat-pusat sejarah Nusantara. Namun jika ditelusuri lebih dalam melalui perspektif sejarah maritim, Papua justru merupakan bagian penting dari denyut peradaban kepulauan Indonesia sejak berabad-abad silam. 

Laut yang selama ini dianggap sebagai pemisah, dalam kenyataannya adalah penghubung utama yang mempertemukan manusia, budaya, perdagangan, dan identitas kebangsaan.

Hubungan Papua dengan Nusantara telah berlangsung sejak masa lampau, bahkan dapat ditelusuri sejak sekitar abad ke-9. Pada masa itu, jalur pelayaran antarpulau telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kepulauan. 


Orang-orang Nusantara melintasi lautan bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga membangun hubungan sosial, pertukaran budaya, hingga jaringan kekuasaan yang menghubungkan Papua dengan wilayah lain seperti Maluku, Sulawesi, Bali, Jawa, hingga kawasan yang kemudian dikenal sebagai Batavia.

Secara historis, keberadaan Papua tidak pernah berdiri sendiri sebagai ruang yang terpisah. Dalam berbagai catatan maritim, wilayah selatan Papua menjadi salah satu jalur penting yang terhubung dengan lintasan perdagangan Nusantara. 

Mobilitas manusia dari timur ke barat maupun sebaliknya menunjukkan bahwa sejak masa lalu telah ada hubungan yang sangat kuat antara masyarakat Papua dan masyarakat di kepulauan Indonesia lainnya.

Salah satu contoh paling nyata dapat dilihat dari masyarakat suku Biak yang dikenal sebagai pelaut ulung sejak masa lampau. Orang-orang Biak memiliki tradisi pelayaran yang sangat kuat dan menjadikan laut sebagai ruang hidup utama. 

Mereka melakukan pelayaran jauh hingga ke Maluku, Sulawesi, bahkan ke wilayah pesisir utara Australia dan kawasan barat Nusantara. Dalam sejarah lisan masyarakat Biak dikenal perjalanan “wor” dan tradisi pelayaran yang memperlihatkan kemampuan navigasi yang tinggi serta hubungan antarpulau yang sangat intens.

Masyarakat Biak tidak memandang laut sebagai batas, tetapi sebagai jalan menuju kehidupan, perdagangan, dan persaudaraan. Mereka memahami arah angin, perubahan musim, arus laut, hingga posisi bintang sebagai penunjuk perjalanan. 

Pengetahuan maritim ini diwariskan turun-temurun dan menjadi bukti bahwa masyarakat Papua telah lama menjadi bagian dari peradaban maritim besar di Nusantara.

Bahkan dalam berbagai kisah sejarah, orang-orang Biak dikenal melintasi pulau-pulau besar dari Papua hingga wilayah barat Indonesia. Hubungan ini menunjukkan bahwa integrasi Nusantara bukan sesuatu yang baru lahir pada masa kemerdekaan, melainkan telah berlangsung secara alamiah melalui mobilitas masyarakat maritim sejak ratusan tahun lalu.

Hal ini membuktikan bahwa Indonesia sebagai ruang kebudayaan sesungguhnya telah hadir jauh sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara modern pada tahun 1945. Integrasi Nusantara bukanlah gagasan yang baru lahir karena politik, melainkan warisan sejarah panjang yang dibangun oleh nenek moyang melalui budaya maritim yang kuat.

Di masa lalu, orang-orang Nusantara memiliki kemampuan pelayaran yang sangat maju. Mereka memahami arus laut, arah angin, perubahan musim, hingga navigasi berdasarkan bintang dan tanda-tanda alam. 

Laut bukanlah hambatan, melainkan jalan kehidupan. Ribuan pulau dari Papua hingga tanah Jawa dapat dihubungkan karena adanya pengetahuan maritim yang tinggi dan keberanian menjelajah samudra.

Bagi masyarakat Nusantara, laut tidak pernah dipahami sebagai batas. Laut justru menjadi jembatan persaudaraan. Dalam perspektif ini, badai, ombak besar, dan arus yang kuat bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan tantangan yang harus dipahami dan disesuaikan. 

Seorang pelaut tidak melawan laut, tetapi belajar membaca alam agar dapat sampai ke tujuan. Filosofi ini sangat relevan dalam memahami Indonesia sebagai bangsa kepulauan.

Laut bukan penghalang, tetapi kekuatan pemersatu Nusantara. Orang-orang pada masa lalu tidak melihat jarak geografis sebagai pemisah. Dengan teknologi yang mereka miliki pada zamannya, mereka mampu menjadikan laut sebagai sarana ekonomi, diplomasi, hingga pembentukan budaya bersama. Karena itu, secara historis, orang Papua sesungguhnya telah menjadi bagian dari wilayah Indonesia atau Nusantara sejak masa yang sangat panjang.

Jejak hubungan ini juga dapat dibaca melalui pertukaran budaya. Dalam beberapa tradisi di Bali, misalnya, terdapat simbol-simbol adat dan penghormatan sosial yang memperlihatkan relasi historis dengan wilayah timur Indonesia. 

Dalam ritual ngaben, terdapat pemaknaan filosofis tentang penghormatan terhadap manusia yang memiliki kedudukan dan kemuliaan tertentu. Simbol-simbol budaya seperti ini menunjukkan bahwa hubungan antardaerah di Nusantara tidak sekadar hubungan ekonomi, tetapi juga hubungan nilai dan peradaban.

Demikian pula dalam konteks sejarah Majapahit, integrasi budaya dan pengaruh maritim menunjukkan bahwa wilayah timur Nusantara memiliki keterhubungan yang kuat dengan pusat-pusat kekuasaan di barat. Jika terdapat kemiripan budaya dan hubungan simbolik yang kuat, maka hal itu menunjukkan adanya relasi sebelumnya yang telah terbangun secara alami.

Maritim Nusantara bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga soal identitas. Laut menghubungkan orang-orang dari berbagai pulau menjadi satu kesadaran bersama sebagai bangsa kepulauan. Dari Papua sampai Sumatra, dari Maluku hingga Bali, semua berada dalam satu ruang peradaban yang sama: Nusantara.

Karena itu, nasionalisme Indonesia seharusnya tidak dibangun secara sempit hanya melalui batas administrasi negara, tetapi melalui pemahaman sejarah yang mendalam. 

Ketika masyarakat Papua memahami bahwa leluhur mereka telah lama menjadi bagian dari perjalanan besar Nusantara, maka rasa memiliki terhadap Indonesia akan tumbuh secara alami, bukan karena paksaan, tetapi karena kesadaran sejarah.

Sebaliknya, masyarakat di wilayah barat Indonesia juga harus memahami bahwa Papua bukanlah daerah pinggiran, melainkan bagian penting dari pusat sejarah Indonesia itu sendiri. Papua adalah simpul penting dalam peradaban maritim Nusantara, bukan sekadar wilayah terluar secara geografis.

Pesan besar dari sejarah maritim ini menegaskan bahwa Indonesia lahir dari kemampuan untuk menyeberangi perbedaan. Seperti pelaut yang menghadapi badai, bangsa ini harus mampu menyesuaikan arah tanpa kehilangan tujuan. Perbedaan suku, bahasa, adat, dan wilayah bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk memperkuat persatuan.

Papua dan Nusantara telah dipersatukan oleh sejarah yang panjang. Laut menjadi saksi bahwa hubungan itu nyata dan telah berlangsung jauh sebelum konsep negara modern lahir. Karena itu, menjaga Indonesia berarti menjaga warisan sejarah bersama, menjaga persaudaraan antarsuku, dan merawat semangat kebangsaan yang tumbuh dari laut.

Menyusuri jejak Papua dalam peradaban maritim Nusantara bukan hanya upaya memahami masa lalu, tetapi juga ikhtiar membangun masa depan. 

Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal akar sejarahnya sendiri, lalu menjadikannya fondasi untuk melangkah bersama menuju Indonesia yang lebih kuat, adil, dan bermartabat.


Dr. Hendrik Arwan, M.Si 
Ketua Tim Peneliti Budaya Papua MPSI dan Akademisi Universitas Papua 


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya