Berita

Kiandra Ramadhipa. (Foto: Istimewa)

Publika

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

SENIN, 27 APRIL 2026 | 13:59 WIB

APA sih yang dibanggakan dari Indonesia? Pembalap muda ini patut dibanggakan. Ente bayangkan, ia start posisi 17, saat finis, ia yang pertama. Lagu Indoensia Raya berkumandang, Merah Putih berkibar di Jerez, Spanyol. 

Namanya Kiandra Ramadhipa. Asal Sleman. Umur masih cocok ditanya, “udah belajar belum?” Tapi yang dia pelajari bukan rumus segitiga, melainkan cara menyalip 16 orang sekaligus tanpa drama di Selat Hormuz.

Tanggal 26 April 2026 di Circuito de Jerez, Spanyol, Kiandra start dari posisi ke-17. Posisi yang dalam kehidupan sehari-hari setara dengan duduk paling belakang saat kondangan, makan duluan juga nggak, disapa juga nggak. Tapi bocah ini tampaknya punya prinsip hidup sederhana. “Kalau di belakang, ya tinggal ke depan.”


Benar saja. Dalam waktu 25 menit 48,363 detik, ia menyapu satu per satu pembalap seperti emak-emak menyapu halaman sebelum arisan. 

Puncaknya? Tikungan terakhir. Tempat di mana biasanya harapan orang Indonesia berakhir, Kiandra justru memulai klimaks. Ia salip Yaroslav Karpushin, Mateo Marulanda, dan Benat Fernandez sekaligus. Tiga orang. Satu tikungan. Ini bukan balapan, ini plot twist sinetron level dewa.

Indonesia Raya berkumandang. Bendera Merah Putih naik. Di suatu tempat, mungkin ada pejabat yang langsung bilang, “Ini harus kita jadikan program nasional,” padahal kemarin saja program lama belum selesai.

Kiandra ini bukan muncul dari hasil rapat koordinasi lintas kementerian dengan 17 tanda tangan dan 3 kali revisi font. 

Ia mulai balap sejak usia 5 tahun. Lima tahun. Di umur segitu, sebagian dari kita masih debat serius, Ultraman atau Power Rangers. 

Umur 9 tahun, dia juara MiniGP. Tahun 2022 menang MotoPrix Nasional. Tahun 2025 juara European Talent Cup dari posisi ke-24. Iya, dua puluh empat. Posisi yang kalau di birokrasi mungkin sudah disuruh pulang duluan karena “tidak memenuhi syarat administratif.”

Gaya balapnya tenang. Tidak reaktif. Tidak gampang terpancing. Sangat kontras dengan kebiasaan kita yang baru lihat judul berita saja sudah langsung jadi pakar. 

Dia simpan tenaga, jaga ban, atur ritme. Lalu di akhir, bam!, menyerang. Kalau ini diterapkan di dunia politik, mungkin kita tidak akan sering dengar kalimat sakral, “Kita bentuk tim dulu ya.”

Kiandra tidak sendirian. Ada Veda Ega Pratama yang sudah naik podium Moto3, sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi basah pecinta balap Indonesia. 

Ada Mario Suryo Aji yang berjibaku di Moto2, menghadapi kerasnya kompetisi tanpa gimmick. Ada juga Fadillah Arbi Aditama yang diam-diam menanjak lewat JuniorGP dan wildcard Moto3.

Mereka ini bukan influencer. Tidak jualan skincare. Tidak bikin konten “sehari jadi pembalap”. Mereka kerja. Diam. Konsisten. Hasilnya? Dunia yang ngomong.

Sebelum mereka, ada generasi pembuka jalan, Dimas Ekky Pratama, Andi Farid Izdihar, dan Gerry Salim. Mereka ini ibarat fondasi rumah. Tidak kelihatan keren, tapi tanpa mereka, kita masih sibuk diskusi, “Bisa nggak sih orang Indonesia balapan di level dunia?”

Lucunya, di saat anak-anak ini sudah balapan lintas negara, sebagian kita masih balapan… debat. Mereka kejar podium, kita kejar komentar. Mereka fokus garis finis, kita fokus garis timeline.

Inilah Indonesia emas versi tanpa powerpoint. Kerja keras sejak kecil, jatuh bangun tanpa kamera, lalu meledak di panggung dunia. Tidak ada janji, tidak ada jargon. Cuma hasil.

Kalau ada yang masih bilang Indonesia belum siap, mungkin yang belum siap itu bukan negaranya, tapi mindset kita yang terlalu nyaman di posisi ke-17, sambil berharap tiba-tiba jadi juara tanpa pernah ngebut.

Kiandra sudah kasih contoh. Gas dulu. Menang belakangan. Sisanya? Silakan rapat.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Utang dan Delusi Pembangunan

Rabu, 16 September 2026 | 05:52

Tak Ulangi Kesalahan Purbaya, Suahasil Diharapkan Terus Gelorakan Ekonomi Konstitusi

Rabu, 16 September 2026 | 05:22

Pengukuhan Pengurus PERKAPI Bakal Dihadiri Menhum dan Ketua Komisi XIII DPR

Rabu, 16 September 2026 | 04:44

Fungsi KDKMP yang ‘Disabotase’

Rabu, 16 September 2026 | 04:24

Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Jepang dalam Atasi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 | 03:57

Politikus Senior PKS: PPHN Jangan jadi RPJPN Kedua

Rabu, 16 September 2026 | 03:30

38 Aset Senilai Rp846 Miliar Disita Kejagung dalam Kasus Febrie

Rabu, 16 September 2026 | 03:03

Kegiatan Belajar di SMPN 16 Medan Pulih 100 Persen Usai Dilanda Banjir

Rabu, 16 September 2026 | 02:48

WNA Malaysia Laporkan Pamen Polri Terkait Kasus Investasi Emas ke Bareskrim

Rabu, 16 September 2026 | 02:24

Kemensos Apresiasi Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel Mulai Beroperasi

Rabu, 16 September 2026 | 01:59

Selengkapnya