Berita

IlustrasIlustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Dolar Perkasa di Tengah Kebuntuan Damai

SENIN, 27 APRIL 2026 | 09:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Awal perdagangan Senin, 27 April 2026, menjadi momen krusial bagi pasar keuangan global seiring dengan menguatnya posisi Dolar AS. Penguatan ini dipicu oleh memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. 

Ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas memaksa investor mencari perlindungan pada aset aman, sementara di sisi lain, mata uang yen Jepang tertahan di dekat level psikologis krusial 160 per dolar menjelang keputusan kebijakan Bank of Japan pekan ini.

Reuters melaporkan, indeks Dolar AS (DXY) yang memantau kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang besar dunia kini bertengger kokoh di level 98,623.


Dominasi greenback terlihat jelas dari melemahnya sejumlah mata uang utama lainnya. 

Euro tercatat melemah 0,14 persen ke posisi 1,1706 Dolar AS, sementara Poundsterling menyusul dengan penurunan 0,12 persen menjadi 1,35155 Dolar AS. 

Lonjakan tensi ini berakar dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan kunjungan utusan seniornya ke Islamabad pada akhir pekan lalu. 

Meski Trump menyatakan pihak Iran dapat membuka kontak jika ingin berunding, kondisi di lapangan justru memburuk dengan jalur strategis Selat Hormuz yang dilaporkan masih dalam kondisi efektif tertutup. 

Terhentinya distribusi di jalur yang memasok seperlima kebutuhan energi dunia ini langsung membakar harga komoditas. Harga minyak Brent melompat sekitar 2 persen menjadi 107,49 Dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat ke posisi 96,17 Dolar AS per barel.

Para analis menilai bahwa sebelumnya pasar cenderung terlalu percaya diri terhadap prospek perdamaian. 

Di tengah guncangan ekonomi ini, fokus pelaku pasar kini beralih pada rangkaian pertemuan bank sentral utama. Bank of Japan (BoJ) diperkirakan masih mempertahankan suku bunga saat ini, meski ada sinyal kuat untuk melakukan kenaikan pada Juni mendatang guna meredam inflasi akibat harga energi. 

Sementara itu, nilai tukar Yen tetap menjadi perhatian utama otoritas Jepang karena berada di kisaran 159,51, sebuah level sensitif yang berpotensi memicu intervensi pasar jika terus melemah melampaui angka 160.

Senada dengan BoJ, bank-bank sentral besar lainnya seperti Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England juga diprediksi akan menahan suku bunga mereka pekan ini.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Rakyat Ingin Hukum yang Keras terhadap Pelaku Korupsi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 02:19

Sumber APBN Berpeluang dari Harta Rampasan Koruptor

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:57

Gaduh Desil DTSEN, Bonnie Triyana: Buka Mekanisme Sanggah

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:21

Aset Daerah Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:03

Ribuan Pengunjung Padati Hari Pertama Danantara Housing Expo

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:52

Leonardi Divonis 2,5 Tahun Penjara Meski Tak Terbukti Terima Uang

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:22

Kecurigaan Netizen Benar, Habis Karhutla, Muncullah Sawit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:01

Pelindo-BNN Edukasi Pelajar di Empat Kota soal Bahaya Narkoba

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:31

Pos Polisi di Kolong Flyover Slipi Dibakar Massa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:10

UU Perampasan Aset Beri Kepastian Hukum Berantas Korupsi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:00

Selengkapnya