IlustrasIlustrasi (RMOL via Gemini AI)
Awal perdagangan Senin, 27 April 2026, menjadi momen krusial bagi pasar keuangan global seiring dengan menguatnya posisi Dolar AS. Penguatan ini dipicu oleh memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas memaksa investor mencari perlindungan pada aset aman, sementara di sisi lain, mata uang yen Jepang tertahan di dekat level psikologis krusial 160 per dolar menjelang keputusan kebijakan Bank of Japan pekan ini.
Reuters melaporkan, indeks Dolar AS (DXY) yang memantau kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang besar dunia kini bertengger kokoh di level 98,623.
Dominasi greenback terlihat jelas dari melemahnya sejumlah mata uang utama lainnya.
Euro tercatat melemah 0,14 persen ke posisi 1,1706 Dolar AS, sementara Poundsterling menyusul dengan penurunan 0,12 persen menjadi 1,35155 Dolar AS.
Lonjakan tensi ini berakar dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan kunjungan utusan seniornya ke Islamabad pada akhir pekan lalu.
Meski Trump menyatakan pihak Iran dapat membuka kontak jika ingin berunding, kondisi di lapangan justru memburuk dengan jalur strategis Selat Hormuz yang dilaporkan masih dalam kondisi efektif tertutup.
Terhentinya distribusi di jalur yang memasok seperlima kebutuhan energi dunia ini langsung membakar harga komoditas. Harga minyak Brent melompat sekitar 2 persen menjadi 107,49 Dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat ke posisi 96,17 Dolar AS per barel.
Para analis menilai bahwa sebelumnya pasar cenderung terlalu percaya diri terhadap prospek perdamaian.
Di tengah guncangan ekonomi ini, fokus pelaku pasar kini beralih pada rangkaian pertemuan bank sentral utama. Bank of Japan (BoJ) diperkirakan masih mempertahankan suku bunga saat ini, meski ada sinyal kuat untuk melakukan kenaikan pada Juni mendatang guna meredam inflasi akibat harga energi.
Sementara itu, nilai tukar Yen tetap menjadi perhatian utama otoritas Jepang karena berada di kisaran 159,51, sebuah level sensitif yang berpotensi memicu intervensi pasar jika terus melemah melampaui angka 160.
Senada dengan BoJ, bank-bank sentral besar lainnya seperti Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England juga diprediksi akan menahan suku bunga mereka pekan ini.