Berita

Joko Widodo. (Foto: Dokumentasi Setpres)

Politik

Direktur Eksekutif Celios:

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

SENIN, 27 APRIL 2026 | 02:58 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Periode pemerintahan Joko Widodo (2014-2024) disebut sebagai masa kelam dalam perekonomian RI. Pasalnya, periode tersebut telah menghasilkan kemiskinan struktural hingga kini.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira dalam peluncuran dan diskusi buku "Kebangkitan Kembali Otoritarianisme di Indonesia: Dasawarsa Kepemimpinan Jokowi" dikutip dari kanal YouTube Satu Visi Utama, Minggu, 26 April 2026.
 
“Jadi dalam sepuluh tahun terakhir, Jokowi berhasil melakukan kemiskinan secara struktural, sehingga orang nggak punya harapan dan satu-satunya harapan yang tersisa adalah kerja di dapur MBG, jadi manajer dan personalia Kopdes Merah Putih atau menjadi Vigilante Group,” ucap Bhima.


Sebelumnya ia mengurai terkait berbagai kebijakan peninggalan Jokowi yang dianggap makin membuat kemiskinan terjadi secara masif. Di antaranya hilirisasi dan Omnibus Law Cipta Kerja.

“Berapa upah buruh era Jokowi gara-gara Omnibus Law Cipta Kerja? Anjlok! Kenaikannya 1 persen, 2 persen, tapi ada orang yang super kaya yang kekayaannya naik 71 persen rata-rata kekayaannya,” ungkap dia.

Kebijakan Jokowi yang makin memperkaya konglomerat terus disorot oleh Bhima. Pada 2016, Jokowi pernah mengeluarkan kebijakan tax holiday bagi para konglomerat yang tentunya makin membuat jurang ketimpangan yang sangat tinggi.

“Jadi ini adalah hasil dari ketimpangan yang diciptakan (Jokowi) di sektor-sektor yang diberikan, 20 tahun nggak usah bayar pajak. Tax holiday, tax allowance, tax incentive. Sehingga belanja pajak kita atau uang yang tidak dipungut pajak itu nilainya berapa? Rp580 triliun per tahunnya, kebuang gitu aja,” tandasnya.
  

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya