Gerpolek karya Tan Malaka. (Foto: Dok. Gramedia)
RELEVAN! Catatan Tan Malaka, dalam Gerpolek: Gerilya, Politik, Ekonomi, bukan naskah usang. Melainkan referensi sekaligus cetak biru pertahanan bangsa.
Di tengah gemuruh dinamika geopolitik dan perang asimetris dalam perebutan sumber daya global, gema suara Tan Malaka terasa seperti alarm.
Dunia kini tidak lagi tentang peluru, melainkan soal algoritma, semikonduktor, dan rantai pasok. Dalam perspektif geopolitik, ketegangan dunia menempatkan Indonesia di posisi yang rumit.
Tan Malaka dalam
Gerpolek (1948) menekankan bahwa kemerdekaan 100% adalah harga mati. Kritiknya keras, terhadap gaya diplomasi yang terlihat mengemis kedaulatan.
Jika ditarik ke konteks kekinian, ketergantungan pada investasi serta bantuan asing yang terlalu dominan, tanpa membangun kemandirian bangsa adalah bentuk kerentanan nasional.
Menurut Alfian (1986), gagasan Tan Malaka adalah upaya untuk memutus rantai ketergantungan -dependensi, yang sering kali mewujud dalam bentuk kerjasama antar negara.
Struktur KetahananKetahanan nasional, dalam kacamata
Gerpolek berpijak pada tiga pilar: militer rakyat, politik berdaulat, dan ekonomi mandiri.
Dalam argumentasi Tan Malaka, perlu dibentuk kapasitas ekonomi yang kuat sebagai perisai. Pondasi ekonomi, menjadi fundamental dasar dalam benteng pertahanan negara.
Ketahanan pangan dan energi bukan soal statistik BPS, melainkan harga diri bangsa. Transformasi aset strategis pada urgensi hilirisasi, perlu diaktualisasi lebih dari sekedar jargon kampanye elektoral.
Konsep pertahanan rakyat semesta, berakar pemikiran gerilya Tan Malaka, harus beradaptasi dengan teknologi kemiliteran tanpa kehilangan jiwa kemanunggalannya dengan rakyat.
Format gerilya, terjadi hingga ruang siber. Serangan terhadap data pribadi dan infrastruktur digital nasional, adalah bentuk perang modern yang menuntut ketahanan semesta.
Humanisme PerlawananJika kita menyelami Gerpolek, ada nafas humanisme kental, sebuah keinginan melihat manusia Indonesia berdiri tegak tanpa rasa rendah diri (
inferiority complex). Kedaulatan politik, bukan berarti menutup diri ala isolasi, melainkan kemampuan untuk berkata tidak pada kebijakan global yang mencederai keadilan lokal.
Tantangan geopolitik terkini, membuktikan bahwa ketahanan nasional suatu bangsa sangat tergantung pada sejauh mana negara mampu melindungi warga paling rentan (Malaka, 1948).
Merawat pemikiran
Gerpolek di masa sekarang, adalah upaya merawat api perjuangan, bukan sekadar pemujaan. Ketahanan nasional yang sejati, bukan hanya terletak pada jumlah alutsista, melainkan seberapa kuat ikatan antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan dasar publik.
Di tengah ketidakpastian global, pesan Tan Malaka menjadi krusial: bangsa yang kuat adalah bangsa yang mandiri secara ekonomi, cerdik secara politik, dan tak terpatahkan secara mental.
Kemerdekaan 100% menjadi mimpi bersama yang indah, dan hal tersebut akan menjadi sebuah kenyataan, bila langkah kebijakan selalu berfokus pada hikmat kepentingan publik -
res publica.
Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung