Berita

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. (Foto: Setkab)

Politik

Data Celios

Ngeri, Hanya di Era Jokowi 9 Naga Nambah jadi 50 Naga

MINGGU, 26 APRIL 2026 | 22:25 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kepemimpinan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo selama dua periode telah menciptakan ketimpangan ekonomi yang sangat tajam antara yang miskin dan kaya.

Sejak memimpin pada periode 2014-2019 dan 2019-2024, konglomerat Indonesia yang selama ini dikenal dengan istilah 9 naga telah berubah. Bukan 9 konglomerat lagi, melainkan sudah mencapai 50 orang. Sementara warga miskin tetap miskin.

Demikian antara lain disampaikan Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira dalam peluncuran dan diskusi buku "Kebangkitan Kembali Otoritarianisme di Indonesia: Dasawarsa Kepemimpinan Jokowi" dikutip dari kanal YouTube Satu Visi Utama, Minggu, 26 April 2026.


"Jadi bukan 9 (naga/konglomerat), 50 orang yang paling kaya, itu kekayaannya terus melesat. Dan tahun 2024, 50 orang yang paling kaya ini setara 50 juta orang Indonesia. Di tahun 2026, (kekayaan 50 konglomerat) setara 55 juta orang Indonesia, dan ketimpangannya itu dipupuk dari Rp2.508 triliun di 2019 melesat menjadi Rp4.651 triliun," kata Bhima.

Bhima menyebut, kekayaan konglomerat ini melesat berkat kebijakan-kebijakan Jokowi, salah satunya hilirisasi.

"Siapa yang antek asing, yang menjual hilirisasi ke China? 80 persen lebih tujuan ekspor kita ke China. Begitu kita butuh mobil listrik, baterai, kita impor habis-habisan," jelasnya.

Bhima menyebut, gembar-gembor hilirisasi di periode kedua Jokowi bukan untuk menejahterakan masyarakat Indonesia, melainkan segelintir elite dengan mengapitalisasi sumber daya alam mentah ke negara tetangga.

"Indonesia punya cadangan nikel yang enggak ada habis-habisnya (tapi) biji nikel kita impor dari Filipina, Solomon Island pulau kecil. Karena hampir habis pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia, dikeruk oleh rente kebijakan hilirisasinya Jokowi," tambah Bhima.

"Jadi Jokowi menyisakan apa? Yang miskin makin miskin, yang menengah semakin turun, sementara yang kaya makin dapat rente bukan cuma dari infrastruktur, jalan tol, BUMN yang bangkrut, tapi yang kaya juga mendapatkan rente dari yang disebut sebagai hilirisasi. Itu kerjaannya Jokowi," lanjut Bhima.

Mirisnya, kekayaan para konglomerat Indonesia ini tidak disimpan di dalam negeri demi menghindari pajak.

"Uangnya mungkin enggak di sini, uangnya di Singapura, di Dubai, di Hongkong, di Makau, di negara-negara surga pajak," tandasnya tanpa menyebutkan 50 konglomerat yang dimaksud.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya