Berita

Lima jenazah korban penyerangan di Wilayah Benangin II, Kecamatan Teweh Timur, Kabupaten Barito Utara. (Foto: Istimewa)

Publika

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

MINGGU, 26 APRIL 2026 | 05:48 WIB

BETAPA kejamnya manusia. Satu keluarga berisi lima jiwa dibantai. Semua tewas dari dewasa sampai anak kecil. Ngeri.

Di bawah langit Barito Utara yang malam itu membeku seperti ikut berkabung, sebuah tragedi berdarah menorehkan luka yang tak akan mudah terhapus dari ingatan manusia. 

Pada Sabtu malam, 19 April 2026, sekitar pukul 22.00 WITA, di sebuah rumah sederhana di Dusun Benangin II, Desa Benangin, Kecamatan Teweh Timur, kematian datang bukan sebagai takdir alam, melainkan sebagai hasil dari keserakahan manusia yang telah kehilangan nurani. 


Lima nyawa melayang dalam satu malam hanya karena sengketa sebidang tanah. Tanah yang tetap diam, tetap bisu, tetap berada di sana. Sementara manusia saling membantai demi memilikinya.

Rumah yang biasanya menjadi tempat pulang, tempat berlindung dari gelapnya malam, mendadak berubah menjadi panggung pembantaian. 

Di sana, Cuah, 55 tahun, kepala keluarga yang sepanjang hidupnya mungkin hanya ingin mempertahankan hak dan menjaga keluarganya, meregang nyawa di tangan sesama manusia. 

Di dekatnya, Hasna, 40 tahun, istri yang mungkin baru beberapa jam sebelumnya masih menyiapkan makan malam atau memeluk anaknya, harus mengakhiri hidup dengan cara yang begitu mengerikan.

Lalu ada Tasya Haulina, gadis 17 tahun, anak muda yang seharusnya sedang merancang masa depan, menyimpan mimpi, menata cita-cita. Masa depannya dipotong habis dalam satu malam berdarah. 

Ono, 50 tahun, yang hanya berada di tempat itu tanpa tahu maut sedang menunggu, ikut meregang nyawa dalam kebrutalan yang tak masuk akal.

Namun tragedi ini mencapai puncak kepedihannya pada satu nama kecil, David, bocah berusia 3 tahun. Anak sekecil itu belum paham apa arti sengketa, apa arti hak milik, apa arti kebencian. 

Ia belum tahu mengapa orang dewasa bisa saling membunuh demi tanah. Ia hanya tahu, malam adalah waktu untuk tidur, untuk bermimpi, untuk dipeluk keluarganya. 

Tapi malam itu, ranjang tempatnya terlelap berubah menjadi tempat terakhir ia bernapas. Dunia seakan runtuh ketika seorang balita tak berdosa menjadi korban dari kerakusan orang-orang dewasa yang membiarkan harta lebih berharga daripada nyawa.

Pelakunya? Ia datang dari mereka yang dikenal. Dari lingkaran yang sama. Bahkan dari mereka yang seharusnya menjaga. 

Tiga nama mencuat sebagai pelaku: LK, seorang mantan kepala desa di Kutai Barat, figur yang semestinya menjadi penenang konflik, justru berdiri di garis depan kekerasan. 

Bersamanya, SA dan VN, ikut menenun malam menjadi lautan darah. Mereka tidak sekadar hadir. Mereka merancang, datang dengan niat, menusuk tanpa ragu, seolah nyawa manusia hanya angka yang bisa dihapus begitu saja.

Alfian, satu-satunya yang selamat, harus berlari menembus malam dengan tubuh terluka dan jiwa yang remuk. Ia selamat, tetapi mungkin tak akan pernah benar-benar hidup seperti dulu lagi. Apa yang ia lihat malam itu akan terus menghantuinya. Wajah-wajah yang ia kenal berubah menjadi wajah kematian.

Di sanalah letak ironi yang paling kejam. Semua ini bermula dari sengketa lahan. Hanya tanah. Benda mati yang tidak bisa dibawa ke kubur. 

Tanah yang akan tetap ada ketika para pembunuh dan korban sama-sama telah menjadi debu. Betapa mengerikannya ketika manusia menukar nyawa anak kecil, ibu, ayah, dan keluarga dengan sesuatu yang tak bisa mereka genggam selamanya.

Hukum mungkin akan datang. Para pelaku mungkin dihukum berat. Tetapi hukuman apa yang bisa mengembalikan tawa David? Vonis apa yang bisa menghidupkan kembali Tasya? Penjara seumur hidup sekalipun tak akan bisa menghapus jerit malam itu.

Tragedi ini adalah cermin paling gelap dari wajah manusia. Ketika keserakahan telah mengalahkan kasih sayang, ketika sebidang tanah lebih berharga dari darah. Malam di Barito Utara itu menjadi saksi, ternyata dalam dunia yang mengaku beradab, nyawa manusia bisa jatuh sedemikian murah. Murah sekali, hingga lima nyawa bisa dibayar hanya dengan sebidang tanah.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya