Berita

Ilustrasi (RMOL)

Bisnis

OJK: Likuiditas Valas Perbankan Masih Kuat, Siap Hadapi Gejolak Pasar

SABTU, 25 APRIL 2026 | 13:58 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan likuiditas valuta asing (valas) perbankan nasional tetap dalam kondisi aman di tengah volatilitas pasar. 

Bank dinilai masih punya ruang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan valas nasabah tanpa menambah tekanan pada nilai tukar.

Hal ini tercermin dari posisi Devisa Neto (PDN) perbankan yang stabil di level 1,46 persen per Februari 2026. Angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimum, menandakan eksposur valas perbankan tetap terjaga.


Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan pihaknya terus memastikan setiap bank menjalankan manajemen risiko likuiditas valas dengan baik. 

Pengawasan dilakukan melalui berbagai rasio penting dan pemantauan kemampuan penyangga likuiditas.

“OJK memastikan bank memiliki manajemen risiko likuiditas valas yang kuat dan memadai, termasuk melalui pengaturan dan pemantauan rasio likuiditas antara lain liquidity coverage ratio (LCR) valas dan pemantauan PDN dalam rangka menilai kecukupan kemampuan penyangga (buffer) bank dalam memenuhi kebutuhan valas jangka pendek maupun potensi tekanan pasar,” ujar Dian di Jakarta, dikutip Sabtu 25 April 2026. 

Tak hanya dari sisi internal bank, OJK juga memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia. Tujuannya untuk menjaga pasokan valas di pasar domestik tetap terjaga, terutama bagi korporasi yang memiliki kewajiban utang luar negeri. Instrumen seperti swap, repo, hingga intervensi pasar pun terus disiapkan sebagai langkah antisipasi.

Dari sisi kinerja, kondisi likuiditas valas juga terlihat cukup sehat. Hingga Februari 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) valas tercatat Rp1.525 triliun, sementara kredit valas mencapai Rp1.241 triliun. 

Artinya, rasio pinjaman terhadap simpanan berada di level 81,35 persen—indikasi pengelolaan likuiditas yang masih terjaga.

OJK juga mengingatkan pelaku usaha untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko, terutama melalui strategi lindung nilai (hedging) dan menjaga kualitas utang. Langkah ini penting agar sektor riil tetap tahan terhadap gejolak global.

Dian menegaskan, kombinasi penguatan perbankan, koordinasi kebijakan yang solid, serta kedisiplinan korporasi akan menjaga stabilitas sistem keuangan tetap aman ke depan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya