Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Di Simpang Dunia

JUMAT, 24 APRIL 2026 | 06:10 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN satu negeri yang dalam sepekan tampak seperti sedang “berkhianat” kepada semua pihak, atau justru setia kepada semuanya sekaligus. Indonesia meneken kerja sama militer dengan Amerika Serikat, lalu terbang ke Moskow bertemu Vladimir Putin.

Di saat yang sama, membeli sistem rudal BrahMos yang merupakan produk kolaborasi Rusia dan India, sambil berbisik menangguhkan keterlibatannya dalam Board of Peace yang digagas Donald Trump. Ini bukan naskah film mata-mata. Ini Indonesia, edisi 2026.

Sekilas, semua yang dimainkan Presiden Prabowo Subianto akhir-akhir ini tampak seperti kebingungan akut. Seperti sopir angkot yang menarik setir ke kiri dan kanan sekaligus dan anehnya, tetap melaju.


Tapi tunggu dulu. Dalam ilmu hubungan internasional, ada satu istilah yang menjelaskan semua gerakan ini dengan dingin, tenang, dan nyaris tanpa emosi yaitu hedging.

Dalam literatur kontemporer, hedging dipahami sebagai strategi menyeimbangkan risiko tanpa harus sepenuhnya beraliansi. Bukan galau. Bukan plin-plan. Ini seni bertahan hidup di dunia yang tak lagi punya satu pusat gravitasi.

Masalahnya, banyak orang masih membaca dunia dengan kacamata lama yang seolah setiap negara harus memilih kubu, seperti memilih klub sepak bola, sekali masuk, harus setia seumur hidup.

Padahal dalam dunia multipolar hari ini, logika itu mulai usang. Negara-negara tidak lagi mencari “rumah”, tapi “alat”. Mereka tidak lagi bergabung untuk tunduk, tapi untuk memanfaatkan.

Di sinilah sering terjadi salah paham paling klasik yaitu ketika sebuah negara seperti Indonesia masuk ke satu forum atau blok, misalnya BRICS, publik buru-buru mengira itu tanda kesetiaan. Padahal bisa jadi itu hanya langkah kalkulasi.

Para analis seperti Andrew Korybko sudah lama mengingatkan yang mengira BRICS sebagai aliansi militer itu seperti mengira arisan ibu-ibu sebagai latihan militer cadangan.

Anda tahu, istilah BRIC pertama kali dipopulerkan oleh ekonom Goldman Sachs, Jim O’Neill, di awal 2000-an, merujuk pada Brazil, Russia, India, dan China sebagai kekuatan ekonomi baru yang sedang naik daun. Afrika Selatan datang belakangan, melengkapi akronim itu menjadi BRICS.

BRICS sejak awal adalah alat koordinasi finansial, bukan NATO versi Timur. Bahkan Rusia sendiri, melalui sherpa-nya, menegaskan hal itu. Artinya, ketika Indonesia masuk BRICS, ia tidak menyerahkan kunci kedaulatan ke Beijing atau Moskow. Ia hanya menambah satu laci baru di lemari strategi nasionalnya.

Di sinilah kita mulai melihat pola. Indonesia bukan sedang memilih jalan. Indonesia sedang membuka semua jalan, sambil memastikan tidak ada pintu yang bisa dikunci dari luar.

Metaforanya sederhana bahwa Indonesia bukan bidak catur. Ia adalah pemain yang memegang dua papan sekaligus. Di satu papan, ia bermain dengan Washington sehingga mendapat akses teknologi militer mutakhir, dari drone hingga sistem bawah laut.

Di papan lain, ia bertransaksi dengan Moskow dan New Delhi. Tujuannya jelas, untuk mengakumulasi daya gentar melalui rudal supersonik yang bisa mengunci Selat Malaka seperti gembok raksasa di leher perdagangan global.

Dan Selat Malaka itu sendiri bukan sekadar jalur laut. Ia adalah “keran oksigen” bagi ekonomi dunia, terutama Tiongkok. Sekitar 80 persen impor energi China melintas di sana. Artinya, siapa yang menguasai Malaka, tidak sekadar menjaga perairan, ia menggenggam denyut nadi industri global.

Indonesia, dengan geografinya yang seperti sabuk pengaman di leher selat itu, tiba-tiba bukan lagi negara berkembang biasa. Ia berubah menjadi “penjaga gerbang” yang diam-diam menentukan siapa bisa bernapas, dan siapa yang tersedak. Dan dalam dunia energi, tersedak itu bukan metafora, itu krisis.

Namun permainan ini tidak lahir kemarin sore. Ia adalah warisan panjang sejak 1945: politik luar negeri “bebas aktif”. Sebuah prinsip yang sering disalahpahami sebagai netralitas, padahal lebih tepat disebut sebagai “kebebasan untuk tidak dikurung”.Permainan Judi Aman

Indonesia belajar dari sejarah panjang mulai dari kolonialisme Belanda, tekanan Perang Dingin, hingga krisis finansial Asia, bahwa terlalu dekat pada satu kekuatan adalah cara tercepat untuk kehilangan kedaulatan.

Dalam bahasa yang lebih puitis, Indonesia adalah anak yang tumbuh di tengah dua raksasa yang sering bertengkar. Ia belajar satu hal penting bahwa jangan berdiri terlalu dekat dengan salah satu, tapi pastikan keduanya tahu bahwa Anda tidak bisa diabaikan.

Masuknya Indonesia ke BRICS pada 2025 bukanlah langkah ideologis. Ini langkah matematis. Akses ke New Development Bank (awalnya BRICS Development Bank) berarti pembiayaan tanpa “ceramah panjang” ala IMF. Diversifikasi pasar berarti tidak lagi bergantung pada satu jalur dolar.

Sementara itu, kerja sama dengan Amerika membuka pintu teknologi yang tidak bisa dibeli di pasar bebas. Ini bukan kontradiksi. Ini orkestrasi.

India sudah memainkan simfoni ini lebih dulu. Ia anggota BRICS, tapi juga mitra pertahanan utama AS sejak 2016. Ia membeli minyak Rusia dengan diskon, sambil duduk manis di forum G7.

Dunia tidak runtuh. Justru India tumbuh sebagai kekuatan yang terlalu besar untuk ditekan, dan terlalu penting untuk diabaikan. Indonesia tampaknya membaca partitur yang sama, dan mulai memainkan nada-nadanya dengan percaya diri.

Pertanyaannya kemudian berubah. Bukan lagi “Indonesia memihak siapa?” tapi “berapa banyak yang bisa Indonesia ambil dari semua pihak?”

Inilah pergeseran besar dalam geopolitik hari ini. Negara-negara Global South seperti Brasil, Turki, Saudi, Vietnam, tidak lagi sibuk memilih kubu. Mereka sibuk memaksimalkan manfaat.

Dunia tidak lagi terbelah antara Timur dan Barat. Dunia kini terbagi antara mereka yang bermain dan mereka yang hanya menonton.

Indonesia, dengan 288 juta penduduk dan posisi geografis yang seperti poros engsel dunia, tampaknya sudah membuat keputusan paling menentukan: tidak menjadi penonton. Ia memilih bermain, di tengah permainan yang bahkan aturannya belum sepenuhnya ditulis.

Dan dalam permainan ini, kesetiaan bukan lagi mata uang utama. Yang bernilai adalah posisi, timing, dan kemampuan membaca arah angin sebelum badai datang.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya