Berita

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK). (Foto: Istimewa)

Publika

JK Tak Mudah Hadapi Jokowi

JUMAT, 24 APRIL 2026 | 04:10 WIB

KALAU Jusuf Kalla (JK) dan Joko Widodo alias Jokowi saja yang dulu mesra berpasangan bisa bersengketa, apalagi Jokowi dan Prabowo Subianto, yang dulu bertarung sengit dalam dua kali Pilpres, berturut-turut?

Sampai saat ini saja, pihak Jokowi wanti-wanti mengingatkan bahwa Prabowo menjadi Presiden karena Jokowi, bahkan karena pesona Gibran Rakabuming Raka yang tak ada duanya, kata mereka.

JK yang marah besar karena merasa "dikerjai" pihak Jokowi dan terlompat mengklaim bahwa Jokowi menjadi Presiden karena dirinya, buru-buru ditepis pihak Jokowi bahwa itu tidaklah benar.


Justru JK-lah yang menumpang popularitas Jokowi, sehingga duduk enak sebagai Wapres untuk kedua kalinya. Buktinya, saat JK maju bersama Wiranto, JK kalah telak, tidak hanya oleh SBY, tapi juga Megawati.

Maksud marah JK yang merasa "dikerjai" pihak Jokowi tidak sampai, justru marahnya itu dianggap mengada-ada dan menjadi bumerang buat JK sendiri.

JK masuk dalam kasus ijazah Jokowi karena merasa dituduh mendanai pihak Roy Suryo. Artinya, maksud hati ingin membela diri, justru diserang dengan video ceramah di UGM yang sudah lama.

JK benar-benar terlihat head to head dengan Jokowi dan juga Gibran, dan JK kalah telak.

Kenapa JK kalah telak? Karena JK melaporkan pihak Jokowi dan meminta Jokowi menunjukkan ijazahnya. Sebab, yang boleh melaporkan itu bukan JK, tapi pihak Jokowi. Sejak dulu, rasanya sudah begitu pakemnya.

Kemudian, JK emosional dan mengklaim Jokowi menjadi Presiden karena dirinya. Itu tidak saja kalah telak, tapi juga salah besar. Agaknya, JK kurang sadar hal itu.

Lihatlah, bagaimana respons Jokowi? Santai dan datar. Jokowi mengatakan dia bukan siapa-siapa. "Saya orang kampung, "kata Jokowi merendah, yang sebetulnya meninggi melampaui JK.

Bahkan, Gibran ikut serta juga berkomentar. "JK idola saya, teladan kita semua," kata Gibran. Ini membuat JK benar-benar terlihat selesai dan tak mudah lagi untuk bangkit tanpa strategi yang memadai.

Maka yang diperlukan JK, tidak hanya ahli hukum atau pengacara, tapi juga ahli komunikasi dan polster yang canggih pula.

Kalau JK mengatakan komunikasi pemerintahan Prabowo bermasalah, maka komunikasi JK dalam kasus ini juga bermasalah.

JK tak akan mudah menghadapi pihak Jokowi, kalau tidak memakai strategi ganda.

Menurut saya Jokowi memakai strategi ganda, bukan hanya strategi tunggal. Sebut saja atas dan bawah. 

Strategi atas dimainkan Jokowi, strategi bahwa dimainkan para pendukungnya, yang membuat JK marah dengan memakai istilah Termul.

Kalau JK tak memakai strategi ganda juga, bahkan tiga strategi kalau perlu, maka JK akan kalah dan capek sendiri saja.

Boleh dibilang, hanya strategi Jokowi yang bisa mengubah seorang Rismon Sianipar yang begitu antipati terhadap Jokowi dan Gibran, tiba-tiba saja menjadi pendukung yang harus sungkem, menundukkan kepala, tanpa dia merasa malu melakukan itu sedikitpun. Bahkan, bangga.

Rasanya JK belum pernah bisa melakukan hal itu. Makanya, tak akan mudah bagi JK menghadapi permainan Jokowi. 

Ini sebetulnya juga alarm bagi Prabowo seperti yang saya katakan di atas. Kalau dengan JK saja, Jokowi bisa bersengketa, apalagi dengan Prabowo?

Prabowo memberikan amnesti dan abolisi saja kepada Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong, pendukung Jokowi langsung bereaksi keras, bahkan ada yang menyuarakan agar Prabowo segera diturunkan.

Dan kebetulan juga, civil society seperti Saiful Mujani dan Feri Amsari kini juga menyuarakan agar Prabowo dijatuhkan lewat mekanisme di luar konstitusi.

Perlu diingatkan bahwa mereka ini dulunya pendukung setianya Jokowi, yang pada Pilpres 2014 dan 2019, sama-sama mengalahkan Prabowo. Bukan mustahil cinta lama bersemi kembali. Karena itu, perlu hati-hati juga pihak Prabowo.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya