Berita

Cipayung Plus Jakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

RABU, 22 APRIL 2026 | 23:29 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Aliansi Cipayung Plus Jakarta menyampaikan sejumlah catatan terkait polemik pemberitaan Tempo yang belakangan menjadi perhatian publik. Menurut mereka, pemberitaan isu politik nasional perlu mempertimbangkan aspek keseimbangan informasi dan penyajian narasi.

“Kami melihat perlunya penguatan pada aspek verifikasi dan penyajian informasi agar tetap sejalan dengan prinsip-prinsip jurnalistik yang berimbang dan kredibel,” ujar penanggung jawab Cipayung Plus, Arjuna Gani dalam keterangannya, Rabu, 22 April 2026.

Sebagai bagian dari aspirasi tersebut, Cipayung Plus mendorong Dewan Pers melakukan evaluasi etik secara menyeluruh dan transparan terhadap produk jurnalistik yang menjadi polemik.


Selain itu, mereka juga mengajak seluruh pihak untuk tetap menjaga independensi media serta mendorong masyarakat agar semakin kritis dalam mengonsumsi informasi. Menurut Arjuna, dinamika ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali kepercayaan publik terhadap media.

“Kebebasan pers harus berjalan seiring dengan tanggung jawab etik dan profesionalisme,” tegasnya.

Cipayung Plus Jakarta sebelumnya menggelar diskusi publik di Gedung KNPI Rawamangun untuk membahas isu tersebut. Forum itu menghadirkan berbagai narasumber dari unsur pers, akademisi, hingga praktisi.

Dari sisi politik, Sekretaris DPP Mahkamah Partai Nasdem, Reginaldo Sultan menilai pentingnya pemisahan yang jelas antara fakta dan opini dalam pemberitaan. Ia juga menyoroti penggunaan narasumber anonim yang perlu diimbangi dengan penguatan verifikasi.

“Perlu kehati-hatian dalam mengolah informasi, terutama yang bersumber dari narasumber yang tidak disebutkan identitasnya,” ujarnya.

Reginaldo lantas menyinggung pertemuan antara Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dengan Presiden Prabowo Subianto yang disinggung dalam salah satu laporan Tempo. Menurutnya, pertemuan tersebut lebih bersifat dialog kebangsaan.

Sementara itu, pengamat media Arfi Bambani Amri menilai peran media dalam demokrasi perlu diperkuat dibarengi dengan peningkatan literasi publik agar mampu menyaring informasi secara objektif.

“Ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kualitas ekosistem informasi dan literasi masyarakat. Literasi politik perlu terus ditingkatkan oleh semua pihak,” pungkasnya.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya