Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari (Foto: Istimewa)
Indonesia menghadapi krisis sampah yang semakin besar, dengan produksi harian mendekati 150 ribu ton, sementara kapasitas pengolahan masih terbatas dan dibangun secara bertahap.
Kondisi ini menunjukkan persoalan struktural yang sudah lama tertinggal dan belum tertangani secara masif.
Kepala Staf Kepresidenan RI, Muhammad Qodari, mengungkapkan timbunan sampah nasional saat ini mencapai 141.926 ton per hari. Angka tersebut mencerminkan besarnya beban yang belum diimbangi dengan sistem pengolahan yang memadai.
“Untuk diketahui, impunan sampah yang sekarang ada mencapai 141.926 ton per hari. Hampir 150 ribu ton sehari,” kata Qodari dalam konferensi pers pada Rabu, 22 April 2026.
Ia menilai persoalan sampah selama ini cenderung terabaikan, sehingga infrastruktur seperti tempat pemrosesan akhir (TPA) banyak yang sudah penuh. Di sisi lain, pengolahan berbasis reduce, reuse, recycle (3R) juga masih rendah.
“Kita harus menyadari, teman-teman, bahwa soal sampah ini adalah salah satu persoalan fundamental yang sekian lama terabaikan,” lanjutnya.
Pemerintah kini mendorong solusi melalui program pengolahan sampah menjadi energi listrik (PISEL). Namun, kapasitas yang ditargetkan hingga 2029 baru mampu mengurangi sekitar 33 ribu ton sampah per hari atau sekitar 22 persen dari total timbunan nasional.
“Sebegitu berat dan besarnya masalah sampah ini sehingga sampai 2029 kita punya roadmap baru bisa 22% saja,” kata Qodari.
Qodari menegaskan, keterbatasan kapasitas pengolahan dan lambatnya pembangunan infrastruktur membuat penanganan sampah masih berjalan bertahap. Pemerintah saat ini berupaya mengejar ketertinggalan melalui pembangunan fasilitas di berbagai wilayah, meski skalanya belum mampu menutup keseluruhan masalah.
Dengan kondisi tersebut, penanganan sampah nasional dinilai masih jauh dari tuntas dan membutuhkan percepatan agar tidak terus menjadi beban lingkungan dan kesehatan masyarakat.