Berita

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) dalam jumpa pers di kediamannya Jalan Brawijaya IV No.12, Jakarta Selatan pada Sabtu 18 April 2026. (Foto: RMOL/Bonfilio Mahendra)

Politik

Sentilan JK Singgung Beban Sejarah Jokowi

SELASA, 21 APRIL 2026 | 16:01 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Sikap Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla mengungkap peranannya terhadap suksesi Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden ke-7, merupakan sentilan yang bersifat pribadi.

Pengamat Citra Institute, Efriza menilai, sikap JK yang secara terbuka menunjukkan kemarahan hingga membuka percakapan privat di Whatsapp (WA) dapat dimaknai sebagai kekecewaan.

"Karena merasa tak dihargai telah berperan dan punya kontribusi mengantarkan Jokowi ke kursi kekuasaan," ujar Efriza kepada RMOL di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.


Menurutnya, wajar apabila JK menunjukkan reaksi kemarahan di publik, karena muncul narasi yang menyebut dirinya mendanai kasus ijazah Jokowi.

"Dan terakhir, JK dianggap melakukan penistaan agama dalam ceramahnya di UGM. Akumulasi ini memang menyerang JK disinyalir karena sikap JK yang keras dalam kritik untuk membela kepentingan rakyat," tuturnya.

Di samping itu, Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) itu mendapati fakta pribadi JK diusik oleh orang-orang ataupun kelompok buzzer Jokowi yang kerap disebut Ternak Mulyono (Termul).

Efriza memperkirakan JK merasa diabaikan dalam dinamika politik mutakhir dan terkesan sedang mencari popularitas di publik dengan mengungkap peranannya terhadap Jokowi.

"Kesannya, JK adalah elite 'kemarin sore' yang baru mau eksis dengan Pansos. Padahal sebaliknya, jelas-jelas tanpa JK maka Jokowi tidak akan pernah diperhitungkan sebagai calon presiden, Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden meragukan kualitas dan akseptabilitas Jokowi di kancah nasional," beber dia. 

"Artinya, diterimanya Jokowi sebagai capres itu kenyataan sejarah. Tanpa JK, maka Jokowi hanya politisi daerah yang tidak akan masuk dalam lingkaran kekuasaan level nasional. Kenyataan sejarah ini adalah beban sejarah secara pribadi Jokowi," demikian Efriza menambahkan.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya