Berita

Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei. (Foto: Istimewa)

Publika

Dua Balas Dendam, Satu Disiram, Satu Lagi Ditikam

SELASA, 21 APRIL 2026 | 03:27 WIB

SEMAKIN ngeri saja negeri kita. Setiap hari kita disuguhi tikus got gorong-gorong digelandang KPK. Tambah lagi yang semakin ngeri, aksi premanisme. Satu disiram air keras, satu lagi ditikam hingga tewas. Dua dendam paling horor. 

Di negeri yang katanya ramah tamah ini, dendam sering lebih awet dari sambal terasi. Disimpan, dipanaskan ulang, diwariskan. Kadang dikemas ulang jadi aksi yang bikin orang geleng-geleng kepala sambil berkata, “Ini naskah siapa yang nulis?”

Kita mulai dari kisah yang sempat bikin banyak orang langsung pasang teori konspirasi level dewa. 


Penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Nama ini bukan orang lewat. Dia Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). 

Begitu kejadian, publik langsung seperti netizen mode turbo, “Ini pasti ada pesan politik!” “Ini pasti operasi senyap!” “Ini pasti ada tangan-tangan tak terlihat!”

Padahal, kadang yang tak terlihat itu bukan konspirasi, tapi… akal sehat yang lagi cuti.

Fakta resmi keluar. Bukan dari grup WA alumni, tapi dari Oditurat Militer II-07 Jakarta. Yang bicara pun bukan akun anonim, tapi Kolonel Chk Andri Wijaya. Tempatnya juga jelas, bukan di kolom komentar, Pengadilan Militer II-08 Jakarta. Tanggalnya pun rapi, 16 April 2026.

Isinya? Plot twist yang justru terlalu sederhana untuk dipercaya, dendam pribadi.

Iya, ndan. Bukan ideologi, bukan organisasi, bukan karena aktivitas di KontraS. Murni sakit hati. 

Pelakunya? Empat prajurit dari TNI. Empat orang. Ini bukan emosi dadakan habis tersenggol bahu di parkiran. Ini sudah level “rapat kecil dengan agenda balas dendam”.

Di sini kita belajar sesuatu yang pahit tapi jujur. Manusia bisa sekolah tinggi, dilatih disiplin, pakai seragam gagah, tapi kalau dendam dipelihara, ia tetap bisa tumbuh liar. Seperti ilalang di lahan kosong, tidak peduli siapa pemiliknya.

Air keras dipilih. Kenapa? Karena ini bukan sekadar melukai. Ini ingin meninggalkan tanda. Luka permanen. Wajah rusak, hidup berubah, trauma jadi teman tidur. Ini dendam yang tidak puas dengan “sekadar sakit”, tapi ingin “kau ingat aku sampai mati”.

Lalu kita bertanya dengan gaya sok filosofis, “Di mana nilai-nilai kemanusiaan?” Jawabannya mungkin lagi cuti bersama.

Tapi tunggu, cerita belum selesai. Kita geser ke Maluku. Daerah yang kalau konflik, bukan main-main. Ini bukan drama satu episode, tapi serial panjang dengan banyak karakter, plot, dan luka lama yang belum sembuh.

Masuklah nama Nus Kei. Ini bukan tokoh cameo. Ini nama yang kalau disebut, suasana bisa langsung berubah seperti listrik padam, sunyi tapi tegang.

Penikaman terhadap Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara bukan sekadar kriminal biasa. Ini lebih mirip bab lanjutan dari buku lama yang belum ditutup. 

Dendam di sini bukan lagi satu titik. Ia jaringan. Ia sejarah. Ia bisa jadi cerita yang sudah dipendam bertahun-tahun, lalu keluar dengan satu gerakan, tikam.

Pisau di sini bukan sekadar alat. Ia simbol percepatan. Kalau air keras itu dendam yang ingin menyiksa perlahan, pisau ini dendam yang ingin selesai cepat. Tanpa diskusi. Tanpa debat publik. Langsung eksekusi.

Di titik ini, konspirasi kembali menggoda. Bukan konspirasi elite global, tapi konspirasi paling jujur, bagaimana kalau banyak tragedi besar di negeri ini sebenarnya lahir dari hal kecil yang tidak pernah diselesaikan?

Kita ini terlalu suka berpikir rumit. Sedikit-sedikit bicara strategi besar, kepentingan politik, permainan kekuasaan. Padahal kadang jawabannya sederhana sampai memalukan, “dia tersinggung, jak.”

Dua kasus ini seperti dua cermin. Yang satu memperlihatkan bagaimana dendam pribadi bisa menyeret oknum TNI ke tindakan brutal, tapi tetap diproses secara hukum di peradilan militer. Yang satu lagi menunjukkan bagaimana dendam lama di tanah konflik bisa muncul kapan saja, tanpa undangan, tanpa RSVP.

Lucunya, kita sering merasa ini jauh dari hidup kita. Padahal, bibitnya ada di mana-mana. Di obrolan, di ego, di rasa ingin menang sendiri. Bedanya cuma satu, ada yang memadamkan, ada yang memupuk.

So, nak kemane kita? Mau terus jadi bangsa yang gampang panas, sedikit-sedikit “aku balas”? Atau mulai belajar, tidak semua luka harus dibayar dengan luka?

Karena kalau dendam terus dijadikan bahan bakar, jangan heran kalau suatu hari nanti kita kehabisan manusia yang tersisa cuma cerita tentang siapa membalas siapa.

Percayalah, dalam perang dendam, tidak ada pemenang. Yang ada cuma korban yang bergantian. Para anggota Partai Koptagul paham ini.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Kumpulkan Ratusan Pengurus Kadin se-Indonesia di Istana

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:26

Larangan Dapur MBG Gunakan Barang Bersubsidi Sudah Tepat

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:25

Cegah Gagal Panen, Komisi IV DPR Minta Pemerintah Antisipasi Dampak El Nino

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:03

Indonesia-Tiongkok Perkuat Kemitraan Strategis Berbasis Ekonomi Hijau

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:53

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dinilai Paling Siap, Palangka Raya jadi Percontohan Digitalisasi Perlinsos Berbasis IKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:33

Praperadilan Ketiga Roy Suryo, Ahli Perkuat Dalil Permohonan Ganti Rugi Rp206 Juta

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:32

Jakarta Gandeng Banten Bangun Kawasan Ketahanan Pangan Terpadu

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:27

Digitalisasi Perizinan Tutup Celah Perdagangan Satwa Liar Ilegal

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

IHSG Sesi I Menguat 29 Poin, Saham TINS DEWA dan BBCA Paling Memikat Investor

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

Selengkapnya