Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Nusantara

Indonesia Butuh Tambahan 144 Juta Liter Susu Segar per Tahun buat MBG

MINGGU, 19 APRIL 2026 | 06:57 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya telah menegaskan bahwa susu tetap masuk dalam komponen menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hanya saja untuk daerah-daerah yang belum memiliki peternakan ternak perah, atau masih sulit untuk mendapatkan pasokan susu dalam kemasan aseptik, susu bisa digantikan komponen lain dengan kandungan gizi dan protein hewani yang memadai.

Tim Pakar Bidang Susu BGN, Prof. Dr. Epi Taufik sudah membuat skema mengenai kebutuhan susu program MBG.

Berdasarkan data yang ada saat ini, produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) mencapai 808.352.840,61 kg/tahun atau sekitar 2 juta liter per hari.


“Sesuai spesifikasi susu dalam MBG untuk siswa TK sampai dengan SMA saat ini, persentase SSDN dalam susu MBG ini minimal 20 persen dan akan ditingkatkan bertahap sesuai peningkatan produksi SSDN. 20 persen dari 115-125 ml sama dengan 23-25 ml. Sedangkan jumlah siswa TK-SD ialah 54 juta tambah SMP-SMA 20 juta sama dengan 74 juta orang dari total 82,9 juta penerima. Dengan asumsi SPPG operasional saat ini, dari 20.000 dapur sekitar 60 juta orang penerima dan susu  diberikan 2 kali seminggu (8 kali sebulan) diberikan selama 12 bulan, maka perlu 144 juta liter susu segar per tahun,” kata Prof. Epi dalam pesan elektronik kepada RMOL di Jakarta, Minggu, 19 April 2026.

Sambung dia, jika sudah tercover semua dari 74 juta siswa berarti diperlukan 177.600.000 liter susu segar per tahun

“Saat ini SSDN yang terpakai antara 17,81 persen atau dibulatkan 18 persen untuk satu tahun. Jika untuk 74 juta siswa maka terpakai 22 persen SSDN eksisting,” jelas Prof. Epi.

Menurut dia, jika siswa diberikan tiap hari atau 20 hari dalam sebulan maka perlu 444 juta liter per tahun.

“Jika begitu maka 55 persen SSDN yang ada saat ini terpakai. Itu akan terjadi kompetisi tinggi dalam mendapatkan susu segar dan gangguan besar pada pasar susu regular atau commercial market,” ungkapnya.

Prof. Epi menjelaskan jika hanya 18 persen mengambil dari jatah SSDN yang selama ini untuk produk susu komersial/pasar reguler, di mana sebelum ada MBG juga belum dapat memenuhi permintaan. 

“Makanya dirasakan ada kesulitan mendapatkan susu segar, terutama bagi perusahaan yang selama ini tidak menyerap susu segar,” tutur dia.

Masih kata Prof, Epi, jadi susu segar belum dapat dikatakan langka karena masih tersedia, tetapi persaingan untuk mendapatkannya yang semakin ketat.

“Ditambah lagi mesin UHT (Ultra High Temperature)  terbatas, karena 1 line mesin digunakan untuk memproduksi susu UHT komersial dengan berbagai varian, ditambah lagi susu  MBG. Sehingga yang langka saat ini adalah susu UHT full cream plain karena keterbatasan mesin. Proses produksi harus melalui antrian,” jelasnya lagi.
 
Ia menyebut jika susu MBG untuk siswa diberikan seperti saat ini dalam 8 kali sebulan maka diperlukan 5,76 miliar kemasan susu per tahun.

"Kapasitas mesin UHT eksisting di Indonesia yang hanya 4,32 miliar kemasan per tahun yang digunakan  lebih besar untuk pasar komersial, saat ini diambil sebagian untuk produksi susu MBG. Sementara itu kebutuhan susu MBG 5,76 miliar pieces untuk 60 juta siswa atau 7,1 miliar kemasan per tahun untuk 74 juta siswa, sehingga kapasitas mesin UHT yang terbatas tersebut menyebabkan proses antrian produksi susu MBG,” bebernya.

Beberapa skenario yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan itu maka pemerintah perlu menambah jumlah populasi sapi perah atau ternak perah lainnya. 

“Sehingga kenaikan kandungan minimal susu segar 20 persen dalam susu sekolah MBG ke 30 persen dan seterusnya, mungkin baru dapat dinaikkan sekitar tahun 2027 atau 2028,” pungkasnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya